Category: Teknologi

Aspek teknologi PLTS Atap yang mencakup pengetahuan teknis, tutorial, tren, inovasi, dan lain sebagainya.

  • Mengenal Teknologi Panel Surya: Mana yang Cocok untuk Indonesia?

    Mengenal Teknologi Panel Surya: Mana yang Cocok untuk Indonesia?

    Tidak semua panel surya diciptakan sama, lalu teknologi mana yang paling efisien dan tahan terhadap panas serta kelembaban ekstrim seperti yang terjadi di Indonesia? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan seiring melonjaknya adopsi energi terbarukan dan target ambisius pemerintah dalam transisi energi. Memilih jenis panel yang tepat bukan sekadar soal efisiensi konversi, tetapi juga menyangkut ketahanan, biaya, dan performa jangka panjang di iklim tropis yang khas.

    Secara umum, ada tiga teknologi utama panel surya yang paling banyak digunakan di dunia: monocrystalline, polycrystalline, dan thin-film. Monocrystalline dikenal memiliki efisiensi tinggi, sering mencapai lebih dari 20%, dengan umur pakai di atas 25 tahun. Polycrystalline memiliki efisiensi sedikit lebih rendah (sekitar 15–17%) tetapi lebih ekonomis dalam biaya awal. Sementara itu, panel thin-film menawarkan fleksibilitas bentuk dan bobot yang ringan, namun efisiensinya cenderung rendah, sekitar 10–12%, dan lebih cocok untuk penggunaan dengan ruang besar dan beban struktur rendah.

    Gambar 1. Jenis panel surya

    Iklim tropis Indonesia yang cenderung panas dan lembap sepanjang tahun memberikan tantangan tersendiri dalam pemilihan teknologi panel. Berdasarkan riset dari IEA PVPS (Photovoltaic Power Systems Programme), efisiensi panel surya menurun seiring meningkatnya suhu permukaan. Dalam hal ini, teknologi monocrystalline menunjukkan ketahanan termal yang relatif lebih baik, meskipun tetap mengalami derating (penurunan output) sekitar 0,3–0,5% untuk setiap kenaikan suhu 1°C di atas suhu standar pengujian (STC).

    Faktor lain yang sangat penting di Indonesia adalah kelembapan tinggi yang bisa mempercepat degradasi material panel. Penelitian dari LIPI dan BPPT menunjukkan bahwa modul yang digunakan di wilayah pesisir dan tropis cenderung mengalami delaminasi dan korosi lebih cepat, terutama pada panel dengan proteksi lapisan yang kurang memadai. Oleh karena itu, keberadaan lapisan anti-lembap, material framing yang tahan korosi, serta sertifikasi tahan kelembapan (misalnya dari IEC 61701 atau damp heat testing) menjadi pertimbangan penting dalam pemilihan modul.

    Dari sisi ketersediaan dan harga di pasar domestik, panel polycrystalline masih mendominasi karena biayanya yang lebih rendah dan pasokan yang stabil dari produsen dalam negeri maupun impor. Namun, tren global menunjukkan pergeseran menuju panel monocrystalline jenis PERC (Passivated Emitter and Rear Cell) karena efisiensi lebih tinggi dengan sedikit kenaikan harga, yang kini mulai tersedia luas di Indonesia. Hal ini memberi alternatif menarik untuk aplikasi skala rumah tangga hingga industri, terutama di daerah dengan lahan terbatas.

    Untuk daerah terpencil atau luar jaringan (off-grid), panel thin-film tetap memiliki tempat, terutama karena kehandalannya di bawah cahaya rendah (low light conditions) dan kemudahan instalasi. Meskipun efisiensinya rendah, biaya sistem keseluruhan bisa dikompensasi dengan kebutuhan transportasi yang lebih ringan serta pemasangan yang fleksibel. Ini menjadikannya relevan untuk proyek energi perdesaan, pulau-pulau kecil, atau aplikasi darurat.

    Dengan mempertimbangkan suhu, kelembapan, luas lahan, biaya awal, dan tujuan penggunaan, tidak ada satu solusi tunggal yang cocok untuk semua wilayah di Indonesia. Kombinasi pemilihan teknologi yang tepat, kualitas komponen sistem pendukung (seperti inverter dan mounting), serta pemeliharaan berkala akan menentukan keberhasilan proyek energi surya dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pendekatan berbasis data iklim mikro dan kebutuhan energi lokal sangat disarankan dalam setiap perencanaan instalasi.

    Seiring dengan penurunan harga teknologi dan meningkatnya dukungan kebijakan seperti insentif net metering atau pembiayaan hijau, adopsi panel surya di Indonesia diperkirakan akan terus tumbuh. Yang menjadi kunci adalah edukasi masyarakat dan pelaku industri mengenai karakteristik masing-masing teknologi panel, agar pilihan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan energi yang bersih, andal, dan berkelanjutan.

  • Energi Terbarukan dari Permukaan Air: Apa Itu PLTS Terapung?

    Energi Terbarukan dari Permukaan Air: Apa Itu PLTS Terapung?

    Saat permukaan darat semakin padat dan kebutuhan energi terus meningkat, muncul pertanyaan menarik: mungkinkah permukaan air seperti danau dan waduk dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik? Inilah yang menjadi dasar pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS terapung), sebuah teknologi yang menggabungkan efisiensi pemanfaatan ruang dengan potensi energi terbarukan. Dengan memanfaatkan permukaan air yang luas dan belum termanfaatkan secara optimal, PLTS terapung menawarkan solusi inovatif terhadap tantangan transisi energi bersih di tengah keterbatasan lahan.

    PLTS terapung bekerja dengan prinsip yang sama seperti PLTS konvensional, yakni mengubah energi matahari menjadi listrik melalui sel fotovoltaik. Bedanya, sistem ini dipasang di atas permukaan air seperti danau, waduk, bendungan, atau bahkan laut tenang. Panel surya diletakkan pada struktur pelampung yang stabil dan tahan korosi, lalu dihubungkan dengan kabel bawah air ke jaringan listrik darat. Lingkungan perairan memberikan efek pendinginan alami yang meningkatkan efisiensi panel hingga 5–15% dibanding instalasi darat (IRENA, 2023).

    Keunggulan PLTS terapung tidak hanya terbatas pada efisiensi teknis. Ia juga menawarkan solusi atas keterbatasan lahan, terutama di negara-negara dengan kepadatan penduduk tinggi atau keterbatasan ruang terbuka. Di Indonesia, potensi lahan untuk PLTS darat memang luas, namun seringkali berbenturan dengan kebutuhan pangan, kehutanan, atau konservasi. Berdasarkan studi Kementerian ESDM tahun 2022, potensi teknis PLTS terapung di Indonesia mencapai lebih dari 28 GWp, terutama dari waduk-waduk besar seperti Jatiluhur, Cirata, dan Saguling.

    Contoh konkret dari implementasi PLTS terapung di Indonesia adalah proyek Cirata Floating Solar Plant di Jawa Barat, yang digarap oleh PT PLN dan Masdar dari Uni Emirat Arab. PLTS ini memiliki kapasitas 145 MWac dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara saat mulai beroperasi pada tahun 2024. Proyek ini tidak hanya menunjukkan kapasitas teknologi nasional, tetapi juga komitmen Indonesia dalam mengejar target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025, sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

    Secara global, negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan telah memanfaatkan teknologi ini lebih awal. Jepang, misalnya, telah mengoperasikan lebih dari 60 PLTS terapung skala komersial sejak 2015. Salah satu proyek unggulannya adalah Yamakura Dam Floating Solar Plant dengan kapasitas 13,7 MW. Negara-negara ini tidak hanya memanfaatkan energi bersih, tetapi juga mengurangi penguapan air dan pertumbuhan alga berlebih, dua efek positif tambahan dari pemasangan panel di atas air.

    Kendati menjanjikan, pengembangan PLTS terapung tetap menghadapi tantangan. Aspek teknis seperti ketahanan sistem terhadap angin kencang, ombak, dan korosi masih menjadi perhatian, terutama jika ingin diterapkan di laut terbuka. Selain itu, perizinan pemanfaatan ruang perairan, potensi dampak ekologis terhadap ekosistem akuatik, dan kebutuhan investasi awal yang relatif tinggi menjadi faktor yang harus dikaji secara menyeluruh. Studi yang dilakukan oleh World Bank Group (2021) mencatat bahwa biaya pembangunan PLTS terapung berkisar antara 20–25% lebih tinggi dari PLTS darat, meski tren ini terus menurun seiring skala produksi meningkat.

    Meski tantangan tersebut tidak bisa diabaikan, peluang yang ditawarkan jauh lebih besar. PLTS terapung membuka opsi pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam perencanaan energi nasional. Selain itu, ia juga sejalan dengan pendekatan multi-fungsi ruang perairan yang berkelanjutan, khususnya di negara kepulauan seperti Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang progresif, skema pembiayaan yang inklusif, dan peningkatan kapasitas SDM lokal, PLTS terapung dapat menjadi motor penggerak utama dalam dekarbonisasi sektor energi.

    Dengan meningkatnya urgensi krisis iklim dan dorongan global untuk menekan emisi karbon, PLTS terapung muncul sebagai bagian penting dari portofolio solusi energi bersih. Ia bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan juga simbol dari adaptasi cerdas terhadap tantangan keterbatasan ruang dan kebutuhan energi yang terus tumbuh. Masa depan energi terbarukan tak lagi hanya terbentang di daratan, melainkan juga mengambang dengan tenang di permukaan air.

     

  • PLTS Atap: Masa Depan Energi Kita?

    PLTS Atap: Masa Depan Energi Kita?

    Di tengah semakin meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis energi dan percepatan perubahan iklim global, muncul pertanyaan penting: apakah atap rumah kita bisa menjadi pembangkit listrik pribadi dan sumber energi masa depan? Bayangkan jika setiap rumah, sekolah, kantor, hingga pabrik tidak hanya mengonsumsi listrik, tetapi juga memproduksi energi bersih secara mandiri. Konsep ini kini mulai diterapkan secara luas melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap, sebuah inovasi desentralisasi energi yang berpotensi mengubah sistem energi global, termasuk di Indonesia.

    PLTS atap menggunakan teknologi fotovoltaik (PV) yang mengubah sinar matahari langsung menjadi listrik. Panel surya dipasang di atap bangunan dan terhubung dengan inverter agar listrik yang dihasilkan bisa digunakan langsung atau disalurkan ke jaringan listrik umum. Di negara tropis seperti Indonesia, potensi energi surya sangat besar, dengan rata-rata radiasi matahari sekitar 4,8 kWh/m² per hari dan potensi teknis nasional mencapai 3.294 GWp. Namun, hingga tahun 2024, kapasitas terpasang PLTS atap baru sekitar 96 MWp, jauh di bawah target 3,6 GWp pada 2025 sesuai Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

    Pemanfaatan PLTS atap memberikan banyak keuntungan, seperti menyediakan energi bersih yang mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan membantu menurunkan emisi gas rumah kaca. Namun, biaya pemasangan awal yang relatif tinggi masih menjadi tantangan, dengan estimasi biaya sekitar Rp 24 juta hingga Rp 33 juta per kWp. Meski demikian, biaya ini dapat dianggap sebagai investasi jangka panjang karena penghematan tagihan listrik yang signifikan memungkinkan titik impas tercapai dalam 6 hingga 7 tahun. Selain itu, PLTS atap juga meningkatkan nilai properti dan membuka peluang lapangan kerja di sektor energi terbarukan. Dengan dukungan kebijakan dan kemajuan teknologi, manfaat jangka panjang PLTS atap diyakini jauh lebih besar dibandingkan tantangan yang ada.

    Dari sisi ekonomi, PLTS atap dapat mengurangi biaya energi secara signifikan. Menurut simulasi Direktorat Jenderal EBTKE (2023), rumah tangga dengan daya listrik sekitar 1.300 VA yang memasang PLTS atap berkapasitas 2 kWp dapat menghemat sekitar 30–40% dari tagihan listrik bulanan. Misalnya, jika tagihan listrik biasanya Rp800.000 per bulan, dengan PLTS atap bisa turun menjadi sekitar Rp480.000. Penghematan ini bahkan lebih besar di sektor komersial dan industri yang menggunakan listrik banyak di siang hari, saat produksi listrik PLTS atap mencapai puncaknya.

    Pengalaman dari negara lain juga menunjukkan bahwa PLTS atap bukan hanya pelengkap, tapi sudah menjadi bagian utama dari pasokan energi. Di Australia, misalnya, lebih dari 3,6 juta rumah telah memasang sistem surya atap hingga 2023, mencakup sekitar 30% rumah tangga. Program insentif seperti feed-in tariff dan kredit lunak membantu mempercepat adopsi teknologi ini. Di Jerman, PLTS atap menjadi bagian dari kebijakan Energiewende, dengan kapasitas tenaga surya lebih dari 50 GW yang sebagian besar berasal dari instalasi atap kecil dan menengah. Keberhasilan kedua negara ini menunjukkan bahwa dukungan kebijakan, insentif fiskal, dan edukasi publik sangat penting untuk mendorong penggunaan energi surya.

    Dari sisi lingkungan, PLTS atap membantu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan. Setiap 1 kWh listrik dari PLTS atap bisa menghindari emisi CO₂ sebesar 0,8–1,0 kg yang seharusnya dihasilkan oleh pembangkit batu bara. Jadi, jika satu rumah menggunakan 250 kWh listrik dari PLTS atap setiap bulan, emisi karbon yang bisa ditekan mencapai sekitar 3 ton per tahun. Jika satu juta rumah menggunakan PLTS atap, pengurangan emisi bisa mencapai 3 juta ton CO₂e per tahun, setara dengan menanam lebih dari 100 juta pohon.

    Di Indonesia, berbagai regulasi sudah diterbitkan untuk mendukung pemanfaatan PLTS atap, seperti Peraturan Menteri ESDM No. 26/2021 tentang sistem ekspor-impor listrik antara pengguna PLTS atap dan PLN. Meskipun skema net metering sudah ada, masih ada beberapa kendala, seperti kuota kapasitas yang dibatasi, teknis integrasi sistem yang kurang jelas, dan ketidakpastian insentif yang membuat minat investasi dan pemasangan oleh rumah tangga menjadi terbatas. Survei IESR (2023) menunjukkan 69% calon pengguna tertarik memasang PLTS atap, namun 51% dari mereka menunda karena masalah regulasi dan biaya awal.

    Dari sisi sosial, PLTS atap membuka peluang bagi masyarakat menjadi prosumen — yaitu produsen sekaligus konsumen energi yang aktif mendukung transisi energi. Teknologi ini juga menciptakan lapangan kerja hijau, mulai dari pembuatan modul, instalasi, hingga pemeliharaan dan pemantauan. International Renewable Energy Agency (IRENA) mencatat bahwa sektor tenaga surya menciptakan lebih dari 4,9 juta pekerjaan secara global pada 2022, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring percepatan transisi energi di berbagai negara berkembang.

    Dengan manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial yang nyata, PLTS atap seharusnya dipandang bukan hanya sebagai alternatif energi, melainkan sebagai bagian penting dari transformasi sistem energi nasional. Masa depan energi Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada pembangunan pembangkit besar, tetapi juga pada inovasi kecil dan tersebar yang dimulai dari atap rumah kita sendiri. Jika dukungan kebijakan, insentif pembiayaan, dan kesadaran masyarakat berjalan bersama, PLTS atap bukan hanya masa depan energi, tetapi juga solusi terbaik untuk saat ini.

  • Apa Saja Komponen dalam Sistem Panel Surya untuk Rumah?

    Apa Saja Komponen dalam Sistem Panel Surya untuk Rumah?

    Pemasangan PLTS Atap untuk rumah dapat memberi banyak keuntungan. Karena mengandalkan sinar matahari sebagai sumber energi, PLTS Atap jadi bisa membantu Anda menghemat tagihan listrik. Namun, agar dapat memproduksi listrik secara optimal, dan menjalankan fungsinya dengan baik, sistem panel surya untuk rumah didukung oleh berbagai komponen penting. Apa saja komponen-komponen tersebut?

    6 Komponen Panel Surya untuk Rumah

    Jika dijelaskan secara sederhana, panel surya inilah yang memungkinkan PLTS Atap untuk mengubah sinar matahari menjadi listrik di rumah Anda. Nah, proses tersebut tidak akan terjadi tanpa komponen-komponen penting berikut ini:

    1. Panel Surya

    Ini dia komponen utama pada sistem panel surya untuk rumah. Dalam solar panel, sejumlah sel-sel surya membentuk kesatuan panel yang terintegrasi satu sama lain. Tiap sel surya memiliki komponen fotovoltaik yang mampu mengubah sinar matahari menjadi listrik. 

    Sementara itu, komponen fotovoltaik sendiri terdiri atas dua lapis material semikonduktor, umumnya silikon. Ketika panel surya terkena pancaran sinar matahari, material semikonduktor itulah yang akan menyerapnya. 

    Kemudian, sel semikonduktor akan memecah sumber energi matahari menjadi ion positif dan negatif. Ion positif bergerak menuju ion negatif yang ada pada panel surya. Sementara itu, ion positif bergerak menuju ion positif pula melalui lapisan-lapisan yang terdapat dalam panel surya. Proses ini menghasilkan arus listrik DC, yang akan dialirkan ke komponen lain agar bisa dipakai sebagai sumber energi listrik.

    2. Substrat

    Berperan sebagai kontak terminal bermuatan positif, komponen satu ini berfungsi menopang keseluruhan komponen yang ada dalam panel surya. Karenanya, material substrat harus memiliki konduktivitas listrik yang baik agar bisa menjalankan seluruh fungsi dengan lancar. Idealnya, material yang dipakai untuk menyusun komponen substrat adalah metal atau logam seperti molybdenum atau aluminium.

    3. Komponen Enkapsulasi

    Karena diletakkan di outdoor, sistem panel surya untuk rumah pun bisa kena hujan atau kotoran. Nah, komponen enkapsulasi inilah yang bertugas melindungi panel surya dari hujan maupun kotoran lain.

    Dengan perlindungan dari enkapsulasi, komponen-komponen tersebut bisa terawat walaupun harus menghadapi angin, hujan, kelembapan, suhu ekstrem, hingga radiasi ultraviolet. Jadinya, panel surya akan awet dan dapat digunakan hingga lebih dari 20 tahun.

    4. Multi Circuit Breaker

    Pada sistem panel surya untuk PLTS Atap, Anda juga akan menemukan multi circuit breaker (MCB). Komponen satu ini berperan mengatur distribusi listrik untuk menghindari terjadinya kelebihan beban maupun hubungan singkat arus listrik (korsleting). Jadi, apabila terdeteksi adanya arus listrik yang melebihi batas, MCB akan memutus arus tersebut secara manual atau otomatis.

    Sebagai contoh, katakanlah sebuah MCB pada sistem panel surya mempunyai batas arus listrik maksimal 5A. Namun, arus listrik yang melewati MCB tersebut adalah 6A. Maka dari itu, MCB akan trip dengan delay waktu cukup lama sejak ia menemukan adanya arus listrik berlebihan.

    5. Inverter

    Umumnya, sistem panel surya untuk rumah zaman sekarang sudah dilengkapi dengan inverter. Komponen ini mampu menghasilkan 12 Volt DC dan 220 Volt AC yang disimpan dalam baterai. Bahkan, inverter juga bisa mengisi daya baterai apabila terhubung dengan generator power. Dengan adanya listrik yang tersimpan dalam baterai, Anda pun bisa menggunakan listrik tersebut untuk beraktivitas pada malam hari.

    Berkat adanya inverter, sistem panel surya dapat mencegah kelebihan pengisian daya. Dengan proses pengisian daya yang terkontrol, performa dan usia pakai baterai pun akan terjaga sehingga mencegah risiko kerusakan.

    6. kWh Meter Ekspor-Impor (Meteran Exim)

    kWh meter ekspor-impor merupakan perangkat untuk mengkalkulasi arus listrik yang masuk dari jaringan PLN ke konsumen (impor), sekaligus mengukur arus listrik yang keluar dari jaringan PLTS Atap milik konsumen ke jaringan PLN (ekspor).

    Disebut juga dengan meteran exim, komponen satu ini akan menghitung nominal tagihan yang harus Anda bayarkan sebagai konsumen. Caranya adalah dengan membandingkan hasil ekspor-impor dari meteran exim yang terpasang. Jadi, melalui meteran exim ini, Anda bisa tahu total listrik yang dihasilkan panel surya sekaligus jumlah listrik yang masih Anda butuhkan dari jaringan PLN.

     

    Agar sistem panel surya untuk rumah dapat berfungsi dengan semestinya, keberadaan komponen-komponen di atas begitu penting. Maka dari itu, tidak ada salahnya untuk mengecek kelengkapan komponen panel surya sebelum pemasangan berlangsung. 

    Lalu, agar panel surya dapat memenuhi kebutuhan listrik Anda secara optimal, hitung dulu kebutuhan panel surya Anda dengan menggunakan kalkulator SolarHub. Baru setelah itu gunakan direktori SolarHub untuk menemukan perusahaan maupun penyedia jasa pemasangan panel surya. Tapi kalau masih ingin mempelajari lebih lanjut soal PLTS Atap, Anda bisa klik di sini!

     

    Referensi:

    https://www.hexamitra.co.id/plts-rooftop-surya-atap-ongrid.php?p=perangkat-komponen-plts-rooftop-efisiensi-listrik-tagihan-pln-surya-atap

    https://www.lensolar.co.id/mengetahui-komponen-utama-plts-atap-on-grid-bersama-lensolar/

    https://pasangpanelsurya.com/komponen-plts-atap/

    https://pasangpanelsurya.com/plts-atap-pengertian-prinsip-kerja-komponen-mekanisme/

    https://kumparan.com/solar-kita/kenali-ini-komponen-komponen-pembangkit-listrik-tenaga-surya-atap-1yHweyhznED/full

    https://media.solarkita.com/index.php/2022/06/20/mengenal-fungsi-fungsi-komponen-dalam-panel-surya-atap/

  • Sejarah Perkembangan Panel Tenaga Surya dari Tahun ke Tahun

    Sejarah Perkembangan Panel Tenaga Surya dari Tahun ke Tahun

    Saat ini, salah satu sumber energi terbarukan yang paling banyak digunakan adalah tenaga surya. Bahkan, tidak sedikit jumlah hunian pribadi yang memanfaatkan panel tenaga surya rumah tangga atau PLTS Atap untuk kebutuhan listrik pribadi. Memangnya, bagaimana awalnya teknologi ini bisa berkembang hingga sekarang?

    Berawal dari Ditemukannya Efek Photovoltaic

    Bicara tentang panel tenaga surya, sebenarnya teknologi ini bukanlah hal yang benar-benar baru sebab kehadirannya telah ada sejak 1839. Saat itu Alexandre Edmond Bacquerel melakukan penelitian tentang pemanfaatan cahaya matahari menjadi energi. Akan tetapi, percobaan Bacquerel belum memberikan hasil memuaskan, bahkan sampai akhir hayatnya tiba.

    Perjuangan Alexandre Edmond Bacquerel lalu diteruskan oleh Willoughby Smith yang akhirnya menemukan salah satu elemen photovoltaic, yakni selenium. Penemuan ini berhasil memunculkan harapan baru bahwa sinar matahari benar-benar bisa menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan.

    Selenium dan Panel Tenaga Surya Pertama

    Tidak berhenti pada Alexandre Edmond Bacquerel dan Willoughby Smith saja, beberapa peneliti lainnya juga turut andil dalam mengembangkan panel tenaga surya ini. Sebut saja William Grylls Adam dan Richard Evans Day (muridnya) yang mendemonstrasikan bagaimana selenium yang terkena cahaya matahari bisa menghasilkan energi listrik, meski jumlahnya masih sangat sedikit kala itu.

    Penemuan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Charles Frits yang menciptakan panel surya berbahan selenium dengan balutan sedikit emas. Sayangnya, temuan Frits hanya bisa menghasilkan energi listrik dengan efisiensi kurang dari 1%. Itu berarti bahwa alat yang ia hasilkan belum bisa dipakai atau diaplikasikan dalam skala yang lebih luas.

    Teknologi Panel Surya Akhirnya Dipatenkan

    Kendala tentang efisiensi panel surya yang masih menghalangi penemuan oleh tokoh-tokoh sebelumnya kemudian berakhir pada Russel Ohl. Sekitar tahun 1941 dirinya berhasil menciptakan panel tenaga surya dengan tambahan bahan silikon sebagai semikonduktor. Bahan tersebut terbukti bisa menghasilkan energi listrik dari cahaya matahari secara lebih efisien.

    Penemuan Russel Ohl ini sekaligus menjadi momen pematenan panel surya. Hingga kini, model panel tenaga surya itulah yang kita kenal. Alasannya tidak lain karena efisiensinya cukup baik untuk menangkap dan menyimpan sinar matahari kemudian mengubahnya menjadi energi listrik yang bisa digunakan sehari-hari.

    Biaya yang Dibutuhkan Semakin Berkurang

    Selain Russel Ohl, masih ada beberapa tokoh pengembang panel surya berikutnya, misalnya Calvin Souther Fuller, Daryl Chapin, hingga Gerald Pearson. Namun, teknologi ciptaan mereka bahkan masih bisa dikatakan terlalu mahal untuk diaplikasikan oleh masyarakat pada saat itu. Sampai akhirnya Universitas Delaware menginisiasi pembuatan Solar One.

    Solar One temuan para peneliti dari Universitas Delaware ini kemudian memikat perhatian banyak pihak di Amerika Serikat. Pasalnya, panel surya bukan lagi berbentuk seperti bangunan, melainkan bisa diimplementasikan di atas atap rumah-rumah sehingga semakin hemat biaya dan ruang. 

    Bersamaan dengan hal itu, sekitar tahun 1970-an, seorang bernama Dr. Elliot Berman dari Amerika berhasil membuat harga panel surya yang awalnya 100 USD per watt menjadi 20 USD saja. Inilah yang melatarbelakangi kemunculan industri-industri PLTS Atap sampai sekarang sebab nilainya sudah terjangkau dan dinilai menjadi jawaban atas krisis iklim yang melanda dunia.

    Panel Surya di Masa Sekarang

    Penemuan dan pengembangan panel surya tak pernah berhenti sedikit pun. Bahkan, kini sudah dikenal berbagai inovasi dari panel tenaga surya yang bisa Anda temukan bukan hanya di atap-atap rumah, melainkan juga di kendaraan bermotor maupun di perangkat elektronik seperti drone.

    Di tengah kondisi krisis iklim yang kian mengancam, potensi tenaga surya yang bisa dimanfaatkan menjadi energi listrik tentunya terlihat begitu menarik. Belum lagi, perkembangan sentiasa dilakukan supaya dapat menciptakan produk yang efisien dan tetap terjangkau.

    Ternyata, PLTS sudah mulai dikembangkan sejak lama, ya! Bahkan, hingga saat ini teknologi panel tenaga surya masih terus dikembangkan agar biaya pemasangannya bisa lebih terjangkau dan listrik yang dihasilkan lebih efisien.

    Nah, jika Anda jadi tertarik untuk memasang PLTS Atap di rumah, cari saja jasa pemasangan terdekat dari wilayah Anda melalui website SolarHub! Anda juga bisa menghitung kapasitas panel surya dengan kalkulator surya SolarHub. Mari cintai bumi dengan gunakan PLTS Atap!

     

    Referensi:

    https://jasatirtaenergi.co.id/2022/03/08/matahari-di-sepanjang-sejarah-panel-surya/

    https://solarwarrior.co.id/blog/detail.php?id=Kapan%20Panel%20Surya%20Ditemukan?%20%E2%80%93%20Photovoltaic%20serta%20Perkembangannya

    https://www.kompasiana.com/fauzaniqbal/59f254e728d54e5a79130fe2/sejarah-dan-perkembangan-teknologi-panel-surya?page=2&page_images=1

    https://m.icasolar.com/support/blog/sejarah-energi-surya

    https://kalkulator.solarhub.id/

    https://solarhub.id/

  • Solar Window: Teknologi Panel Surya Masa Depan?

    Solar Window: Teknologi Panel Surya Masa Depan?

    Isu krisis iklim atau yang lebih dikenal sebagai global warming sudah semakin gawat seiring bertambahnya tahun. Hal itu ternyata juga beriringan dengan inovasi panel surya yang kian banyak dikembangkan oleh ilmuwan di berbagai negara. Salah satu inovasinya adalah solar window, sebuah jendela yang juga bisa berfungsi sebagai panel surya. Lalu, bagaimana perkembangan teknologi tersebut? Simak penjelasannya di bawah ini!

    Sejarah Perkembangan Solar Windows

    Meski mungkin saja istilah panel surya dan solar window baru terdengar beberapa tahun belakangan, sebenarnya keberadaannya telah ada sejak 1980-an. Saat itu, jendela-jendela yang juga berfungsi sebagai penangkap energi matahari kemudian dilapisi dengan amorphous silicon, salah satu bahan yang mirip dengan pelapis panel surya di atap-atap rumah. Namun, karena bahannya sangat tipis, solar windows dengan bahan tersebut ternyata kurang efisien dalam menghasilkan energi listrik.

    Seiring bertambahnya tahun, jenis bahan pelapis photovoltaic pun berkembang dan menyajikan berbagai pilihan potensial untuk solar window. Meski begitu, beberapa di antaranya juga ada yang kurang stabil, sulit untuk diproduksi, atau sekadar tidak efisien dari segi penyerapan energi seperti yang terjadi pada amorphous silicon. Hingga akhirnya hadirlah perovskit yang sangat tipis dan efisien dalam memproduksi listrik.

    Bagaimana Cara Kerja Jendela Panel Surya?

    Sama halnya seperti panel surya yang kita ketahui menempel di atas atap-atap perumahan, solar window juga bekerja dengan cara serupa. Jendela panel surya ini menangkap sinar matahari, menyimpan, dan mengubahnya menjadi energi listrik yang bisa digunakan untuk melakukan berbagai kegiatan sehari-hari.

    Akan tetapi, solar window bisa bekerja dengan lebih menguntungkan karena Anda tidak harus memasang black solar panel di atas atap. Meski begitu, pemasangan jendela panel surya sampai saat ini belum bisa ditujukan untuk perumahan biasa. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kerja sama sebentar lagi akan terjadi antara perusahaan dengan produsen kaca untuk hunian.

    Keuntungan dari Jendela Panel Surya

    Sebagai alternatif dari black solar panel yang umumnya dipasang di atap-atap rumah, apa yang ditawarkan oleh jendela panel surya ini sehingga memiliki nilai lebih bagi pengguna? Faktor utama yang penting untuk diingat adalah Anda jadi tak perlu memasang lapisan tebal tersendiri di bagian rumah atau kantor, melainkan cukup melapisi kaca jendela Anda dengan bahan khusus yang dapat berfungsi sebagai panel surya. Bahan khusus tersebut adalah kaca photovoltaic yang dapat menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik.

    Selain bisa menyimpan energi tersebut untuk digunakan di lain waktu, jendela panel surya juga dapat mengurangi kadar ultraviolet yang masuk ke dalam hunian. Bahkan, Anda juga akan memiliki suhu ruangan yang lebih dingin daripada biasanya, risiko silau berkurang, privasi meningkat karena terdapat lapisan yang mengaburkan pandangan, biaya instalasinya lebih murah, dan yang jelas Anda turut berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan, tanpa perlu berkorban dari segi kenyamanan. Menarik, bukan?

    Bagaimana Perkembangannya Saat Ini?

    Karena ini masih tergolong inovasi baru, solar window kemungkinan besar belum memasuki pasar Indonesia. Akan tetapi, Ubiquitous Energy selaku perusahaan yang berfokus di produksi jendela panel surya mengatakan bahwa mereka akan membangun gedung pencakar langit sebagai produsen energi listrik terbarukan yang cukup potensial. Bahkan, salah satu perusahaan asal California pun ingin mewujudkan hal serupa per 2024 nanti.

    Tak berhenti di Amerika, Eropa juga membuka diri terhadap teknologi canggih berupa solar window ini. Perusahaan asal Belanda, Physee, mengaku sedang memasang sekitar 15.000 smart windows di berbagai perusahaan yang dapat memangkas 30% biaya listrik. Lalu, salah satu sekolah di Denmark juga telah menerapkan 12.000 solar windows di seluruh bangunannya sehingga bisa menghasilkan energi listrik mencapai separuh dari total kebutuhan.

    Melihat penjelasan mengenai jendela panel surya tersebut, semoga teknologi ini bisa segera diterapkan di berbagai tempat dengan biaya yang terjangkau dan instalasi yang mudah. Sebelum waktu itu tiba, Anda sendiri sudah bisa mulai memanfaatkan energi terbarukan dengan memasang PLTS Atap untuk kebutuhan listrik rumah tangga Anda.

    Dengan kalkulator surya SolarHub, Anda bisa menghitung kebutuhan kapasitas panel surya untuk hunian maupun gedung perkantoran. Setelah mengetahui daya yang tepat untuk memenuhi kebutuhan Anda, masuklah ke laman SolarHub untuk mencari vendor pemasangan PLTS Atap terdekat di sekitar Anda.

     

     

  • Peranan Listrik Tenaga Surya untuk Bantuan Bencana Alam

    Peranan Listrik Tenaga Surya untuk Bantuan Bencana Alam

    Berdasarkan hasil penemuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 95% dari total 3.207 bencana alam yang tercatat di Indonesia pada tahun 2022 disebabkan oleh cuaca ekstrem, di antaranya banjir dan tanah longsor. Saat peristiwa itu terjadi, tentunya para korban yang terdampak bencana alam sangat membutuhkan berbagai macam bantuan, mulai dari makanan, pakaian, obat-obatan, tempat tinggal sementara, sampai tenaga listrik.

    Terkadang bencana alam memang bisa memutus aliran listrik. Itulah yang membuat listrik tenaga surya memiliki peranan penting dalam proses recovery pasca bencana. Lantas, seperti apakah contoh penggunaannya? Berikut penjelasannya beserta kelebihan menggunakan panel tenaga surya saat bencana alam terjadi!

    3 Teknologi Listrik Tenaga Surya untuk Bantuan Bencana Alam

    Hilangnya akses ke aliran listrik memang menyulitkan manusia dalam beraktivitas. Itulah mengapa teknologi listrik tenaga surya diperlukan karena adanya tiga manfaat berikut.

    1. Penjernih air tenaga surya

    Kebutuhan dasar manusia itu salah satunya adalah air. Namun, mengingat para korban bencana sedang berada di tempat evakuasi, mendapatkan air bersih mungkin tak semudah ketika mereka di rumah. Itulah mengapa pemasok energi listrik tenaga surya untuk menghasilkan air bersih sangat diperlukan.

    1. Generator listrik cadangan

    Bencana alam yang terjadi di daerah tertentu kadang berdampak hingga ke daerah tetangga. Beberapa rumah hingga bangunan publik pastinya perlu pasokan listrik cadangan supaya bisa tetap menjalankan aktivitasnya. Hal ini bisa tersedia apabila ada panel surya yang mampu menyimpan tenaga dari sinar matahari untuk dipakai pada saat-saat genting.

    1. Pompa air dengan panel tenaga surya

    Kebutuhan air bersih tak hanya untuk aktivitas makan dan minum, melainkan juga mandi. Dengan memanfaatkan teknologi listrik tenaga surya, urusan air jadi mudah karena ini bisa dialirkan ke bagian pompa air. Sehingga, para korban bencana bisa melakukan kegiatan Mandi Cuci Kakus (MCK) meski tengah dievakuasi.

    Kelebihan Panel Tenaga Surya untuk Bantuan Bencana Alam

    Teknologi listrik tenaga surya memang banyak berguna saat bencana alam melanda. Di samping itu, masih ada banyak kelebihan yang membuat panel surya ini benar-benar worth it.

    1. Mudah diangkut ke mana pun

    Bencana alam bisa terjadi di mana saja dan tempat-tempat tersebut belum tentu mudah dijangkau. Akan tetapi, panel surya yang modern sudah bisa digulung seperti karpet sehingga mempermudah proses perpindahannya ke berbagai lokasi.

    1. Kokoh dan tahan lama

    Kelebihan lainnya dari teknologi listrik tenaga surya adalah daya tahannya yang teruji. Dibandingkan dengan pemasok listrik sumber energi lainnya, panel surya memiliki ketahan mencapai 25 tahun lebih dengan masa pakai baterai hingga 5 tahun. Perawatannya pun simpel karena tak perlu mengganti oli dan perangkat lainnya secara rutin.

    1. Dapat disesuaikan dengan kondisi

    Selain mudah dibawa ke berbagai tempat, panel surya juga mudah disesuaikan di berbagai kondisi. Ingin melakukan pemasangan di atap atau di tanah? Semuanya bisa! Baterainya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan tegangannya pun bisa diatur karena ada pengontrol di dalamnya.

    1. Lebih ramah lingkungan dan senyap

    Satu lagi kelebihan teknologi listrik tenaga surya yang dirasakan adalah lebih ramah lingkungan dan senyap. Karena memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi listrik, pastinya alat ini tidak menghasilkan karbon dioksida ke udara. Selain itu, panel surya juga tidak mengeluarkan suara berdengung yang dapat mengganggu kenyamanan para korban bencana di tempat evakuasi.

     

    Sudah paham bagaimana pentingnya teknologi listrik tenaga surya untuk bencana alam? Meski kesannya bencana alam terjadi begitu saja, tapi nyatanya bencana alam banyak yang dipicu oleh krisis iklim. Maka dari itu, untuk meminimalkan krisis iklim atau yang lebih dikenal dengan global warming, Anda dapat mulai beralih ke sumber energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, misalnya PLTS Atap.

    Jika Anda tertarik dengan pemasangan PLTS Atap, jangan lupa untuk lakukan kalkulasi kebutuhan kapasitas panel surya dengan memanfaatkan kalkulator di sini. Lalu, temukan vendor instalasi sistem PLTS Atap terdekat melalui SolarHub. Mari kita bersama menjaga bumi dari kerusakan lingkungan!

     

    Referensi:

    https://iesr.or.id/aktivitasmu-menyumbang-pemanasan-global-bagaimana-bisa

    https://www.weforum.org/agenda/2018/05/how-solar-power-is-impacting-natural-disaster-relief

    https://www.watsonschargingstations.com/blog/2023/february/the-role-of-solar-power-in-disaster-relief-and-e/

    https://thesolarlabs.com/ros/the-role-of-solar-energy-in-disaster-relief-and-emergency-power/

    https://www.greenmatters.com/renewables/2018/05/08/1ciiuh/solar-power-relief

    https://supergreensolutions.com/how-solar-power-helps-with-disaster-resilience/

    https://kalkulator.solarhub.id/

    https://solarhub.id/

  • Panel Surya Portable, Solusi Berkemah yang Tepat?

    Panel Surya Portable, Solusi Berkemah yang Tepat?

    Berkemah memang lekat dengan kegiatan untuk menjauhkan diri dari hiruk pikuk kesibukan harian. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa teknologi seperti smartphone masih dibutuhkan, apalagi saat keadaan darurat. 

    Untungnya, saat ini sudah ada berbagai macam panel surya portable yang siap menemani Anda camping. Tidak hanya untuk mengisi baterai smartphone, beberapa panel surya ini juga bisa menjadi sumber energi untuk kebutuhan lain, lho! Memangnya, apa itu panel surya portable?

    Apa Itu Panel Surya Portable?

    Seperti namanya, panel surya portable adalah rangkaian sel surya dari silikon yang dapat Anda bawa ke mana pun karena desainnya ringkas. Umumnya, jenis panel surya ini terbuat dari plastik atau kain yang bisa dilipat, sehingga Anda bisa menyimpannya di dalam tas ransel untuk berkemah. Selain itu, ada juga panel surya untuk atap mobil khusus camping dengan ukuran lebih kecil daripada PLTS Atap pada umumnya, tetapi masih memiliki inverter dan baterai.

    Meski demikian, fungsi dan desain panel surya tersebut tidak berbeda jauh dengan yang ada di rumah. Sebab, panel surya portable masih dapat menyerap sinar matahari untuk diubah menjadi tenaga listrik, yang kemudian akan disalurkan melalui output jack arus bolak-balik dan kabel USB.

    Kelebihan Panel Surya Portable untuk Berkemah

    Jika Anda suka berkemah di alam terbuka, panel surya portable akan sangat berguna untuk menunjang kegiatan tersebut dengan sejumlah kelebihan di bawah ini.

    1. Bisa dipakai di mana saja selama ada matahari

    Karena desainnya tidak membutuhkan banyak tempat penyimpanan, Anda dapat menggunakan panel surya portable di mana pun lokasi camping Anda. Selama matahari masih bersinar, Anda akan memiliki pasokan listrik tambahan dari panel surya untuk berbagai kegiatan selama camping. Dengan demikian, kebutuhan Anda akan tetap terpenuhi, dan Anda masih bisa berhubungan dengan dunia luar.

    2. Tidak berisik

    Terkadang, generator listrik konvensional untuk camping menghasilkan bunyi dengungan yang sangat kentara di tempat sepi. Sayangnya, kebisingan ini dapat mengganggu hewan atau orang lain di sekitar Anda. Tapi, kinerja panel surya sama sekali tidak menghasilkan suara. Jadi, Anda bisa tidur dengan lebih nyenyak, begitu juga orang lain serta makhluk hidup yang ada di dekat tenda Anda.

    3. Tidak merusak lingkungan

    Selain menimbulkan kebisingan, power generator yang dapat dibawa ke mana saja untuk berkemah juga memiliki jejak karbon yang cukup tinggi. Sebab, untuk bisa menggunakannya, Anda harus mengisi dayanya dengan listrik bertenaga batu bara atau fosil terlebih dahulu. Di sisi lain, panel surya portable mengandalkan sumber energi terbarukan yang lebih bersih dan ramah lingkungan, yaitu sinar matahari. Jadi, Anda tidak perlu mencemaskan jejak karbon saat berkemah.

    Tips Berkemah dengan Panel Surya

    Apakah Anda tertarik membawa panel surya portable untuk agenda berkemah dalam waktu dekat? Sebelum berangkat, coba terapkan tips berikut agar camping tambah lancar.

    1. Tentukan kebutuhan listrik

    Saat memilih panel surya portable untuk memenuhi kebutuhan camping Anda, sebaiknya Anda mengetahui kegiatan apa saja yang ingin dilakukan. Apakah Anda ingin mengisi ulang daya berbagai perangkat elektronik secara bersamaan dan sering memasak, atau sebaliknya? Perlu diingat bahwa setiap panel surya memiliki kapasitas dan besaran output yang berbeda, sehingga Anda harus memilih yang bisa menunjang aktivitas harian selama berkemah.

    2. Cari tempat yang tepat

    Panel surya portable akan bekerja dengan lebih maksimal saat terdapat banyak cahaya matahari. Oleh sebab itu, pastikan Anda memasang panel surya di lokasi yang terpapar sinar matahari secara langsung. Misalnya, jika Anda menggunakan panel surya yang dapat dilipat pada tenda, jangan lupa mengganti posisinya secara berkala untuk mengikuti arah pergerakan matahari.

    3. Pilih panel surya yang sesuai

    Langkah terakhir untuk memilih panel surya demi keperluan camping adalah menyesuaikan tipenya dengan moda transportasi yang akan digunakan. Semisal Anda ingin berkemah dengan mobil camper van, belilah panel surya yang dapat dipasang pada atap mobil. Sementara itu, jika Anda hanya akan berjalan kaki dan bermalam di tenda biasa, solar blanket atau panel surya yang bisa dilipat adalah solusi ideal.

     

    Panel surya portable merupakan solusi ramah lingkungan untuk menjaga kenyamanan saat berkemah, sehingga tidak ada salahnya Anda mempertimbangkan teknologi ini untuk hobi camping. 

    Sementara itu, untuk solusi sumber listrik yang ramah lingkungan bagi penggunaan di rumah, Anda bisa memasang PLTS Atap. Ketahui kebutuhan rumah tangga Anda terlebih dahulu dan dapatkan kapasitas panel surya yang cocok melalui kalkulator surya SolarHub. Kemudian, kunjungi direktori SolarHub untuk menemukan layanan pemasangan panel surya di kota Anda.

     

    Referensi:

    https://www.redarc.com.au/blog/ideal-solar-power-setups-for-remote-camping

    https://www.renogy.com/blog/solar-panels-for-a-camper-everything-you-need-to-know/

    https://blog.ecoflow.com/us/how-to-use-solar-panels-for-camping/

    https://www.outdoorlife.com/gear/best-solar-panels-for-camping/

    https://kalkulator.solarhub.id/

    https://solarhub.id/

  • Begini Cara Kerja Kendaraan Listrik dengan Panel Tenaga Surya!

    Begini Cara Kerja Kendaraan Listrik dengan Panel Tenaga Surya!

    Salah satu langkah yang diterapkan oleh berbagai negara di dunia untuk mengurangi emisi karbon hingga 0% adalah dengan menggalakkan penggunaan kendaraan listrik. Untuk menyukseskan hal tersebut, pemerintah Indonesia telah mengguyurkan insentif kepada masyarakat yang membeli mobil dan motor bertenaga listrik dengan beberapa syarat dan ketentuan.

    Namun, menggunakan kendaraan listrik saja tidak cukup. Ini karena listrik yang digunakan untuk menghidupkan kendaraan tersebut bisa saja bersumber dari energi yang tidak terbarukan, seperti batu bara. Untuk mengatasi hal tersebut, saat ini telah muncul sebuah inovasi yang cukup unik, yaitu mobil bertenaga surya. Ya, kendaraan ini dilengkapi dengan panel tenaga surya yang berfungsi untuk mengumpulkan energi dari sinar matahari. Lalu, bagaimana cara kerjanya?

    Prinsip Dasar Kendaraan Listrik dengan Panel Tenaga Surya

    Kendaraan listrik bertenaga surya memiliki prinsip dasar yang sama dengan penggunaan panel tenaga surya pada umumnya. Beberapa panel surya dengan komponen photovoltaic akan dipasang pada bagian atap dan sisi mobil. Kemudian, sinar matahari yang diserap akan diubah menjadi energi listrik dan disimpan dalam suatu baterai. Nah, baterai inilah yang digunakan sebagai sumber energi penggerak mobil. 

    Hingga saat ini, belum ada mobil bertenaga surya yang diproduksi secara massal. Ini karena baik pabrikan mobil maupun pabrikan panel surya belum menemukan cara menghasilkan energi yang cukup untuk memaksimalkan jarak tempuh mobil. Beberapa pabrikan mobil pun mengakalinya dengan menggunakan sistem hybrid, yang berarti mobil bisa memanfaatkan listrik yang dihasilkan dari panel tenaga surya yang terpasang, atau mengisi daya listrik di charging station.

    Kelebihan Kendaraan Listrik Bertenaga Surya

    Jika kendaraan listrik bertenaga surya ini benar-benar akan terwujud di masa depan, maka akan ada beberapa kelebihan yang bisa dirasakan oleh pengemudi maupun lingkungan sekitar. Apa saja kelebihannya?

    1. Bebas emisi karbon

    Pertama, sudah pasti kendaraan listrik bertenaga surya akan bebas emisi karbon. Ini karena dalam menggerakkan mobil, tidak dibutuhkan adanya proses pembakaran bahan bakar apa pun. Tentu saja, kendaraan listrik bertenaga surya ini juga akan semakin bebas emisi karbon jika pada kemudian hari, ilmuwan bisa menemukan bagaimana cara memproduksi panel tenaga surya dan baterai mobil listrik dengan lebih ramah lingkungan.

    2. Lebih senyap

    Karena mesinnya yang lebih simpel, maka mobil listrik akan terasa jauh lebih senyap jika dibandingkan dengan mobil konvensional yang berbahan bakar bensin maupun diesel. Artinya, mobil listrik bertenaga surya tidak hanya akan mengurangi polusi udara, tapi juga polusi suara lalu lintas.

    3. Hemat biaya perawatan

    Dibandingkan dengan mobil konvensional yang berbahan bakar bensin atau diesel, mobil listrik akan lebih mudah dan lebih hemat untuk dirawat. Hal ini tidak terlepas dari mekanisme mobil listrik yang lebih simpel daripada mobil konvensional, sehingga komponen dalam mobil listrik pun juga lebih sedikit. 

    4. Irit biaya bahan bakar

    Terakhir, tentu saja mobil listrik akan menghemat pengeluaran untuk bahan bakar sehari-hari. Apalagi, jika di masa depan nanti akan ada mobil listrik yang secara penuh mengandalkan tenaga surya saja untuk dapat digunakan dengan jarak tempuh yang jauh. Anda tidak perlu lagi menghabiskan uang untuk membeli bahan bakar fosil atau mampir ke charging station untuk mengisi daya baterai mobil listrik.

    Kapan Kendaraan Bertenaga Surya Mulai Beredar di Pasaran?

    Meskipun secara teori cukup menjanjikan, masih dibutuhkan inovasi dalam dunia otomotif maupun energi surya agar mobil listrik bertenaga surya bisa digunakan secara praktikal. Ini karena terbatasnya jumlah komponen photovoltaic yang bisa ditaruh pada sebuah mobil tanpa membuat mobil jadi terlalu berat. Selain itu, mahalnya panel surya yang tipis dan efektif juga menjadi pertimbangan para pabrikan mobil yang tidak ingin menjual produknya dengan harga terlalu mahal.

    Namun, Anda tidak perlu khawatir karena teknologi panel tenaga surya hingga saat ini masih terus dikembangkan. Inovasi-inovasi terus dikeluarkan untuk meningkatkan tingkat efektivitas, memperkecil ukuran, dan mempermurah panel surya. 

    Dalam beberapa tahun, bukan tidak mungkin kalau mobil bertenaga surya ini mulai beredar di pasaran Indonesia. Apalagi, mengingat kalau pada tahun 2022 kemarin sebuah start-up otomotif asal California, Aptera, telah mengumumkan akan segera memproduksi massal mobil tenaga surya mereka yang bernama ‘Sol’.

     

    Hingga saat ini, memang belum ada kendaraan listrik bertenaga surya yang telah dipasarkan di Indonesia. Tapi, bukan berarti Anda tidak bisa berkontribusi untuk mengurangi emisi karbon global. Misalnya, Anda bisa mulai menggunakan sumber energi terbarukan untuk kebutuhan listrik sehari-hari, seperti dengan memasang PLTS Atap di rumah. 

    Selain menghasilkan emisi karbon yang minim, memasang PLTS Atap juga bisa membantu Anda menghemat energi setiap bulannya. Kalau tertarik, Anda bisa mulai dengan menghitung kebutuhan listrik Anda menggunakan kalkulator surya dari SolarHub. Setelah itu, carilah informasi mengenai vendor pemasangan PLTS Atap rumah tangga terdekat dengan memanfaatkan direktori yang juga disediakan oleh SolarHub.

     

    Referensi:

    https://iesr.or.id/insentif-cara-dongkrak-adopsi-kendaraan-listrik

    https://iesr.or.id/ievo-2023-meninjau-ekosistem-kendaraan-listrik-indonesia

    https://iesr.or.id/kata-data-beli-kendaraan-listrik-akan-disubsidi-ini-biaya-bbm-yang-bisa-dihemat

    https://interestingengineering.com/transportation/all-you-need-to-know-about-solar-powered-cars

    https://www.carsdirect.com/green-cars/how-does-a-solar-electric-car-work

    https://solarpowernerd.com/benefits-of-solar-energy-cars/

    https://www.theautochannel.com/news/2022/04/18/1131745-everything-you-need-to-know-about-solar-powered-cars.html

    https://solarhub.id/listing-category/perusahaan

    https://kalkulator.solarhub.id

  • 7 Inovasi Canggih dalam Teknologi Panel Surya

    7 Inovasi Canggih dalam Teknologi Panel Surya

    Percepatan peralihan ke energi terbarukan, termasuk energi surya, sangatlah penting untuk meminimalisir dampak dari krisis iklim secara global. Itulah mengapa pemerintah Indonesia dan negara-negara lainnya terus menggalakkan program yang mengajak masyarakat beralih menggunakan energi terbarukan, seperti panel surya untuk kebutuhan listrik sehari-hari. Sayangnya, ada saja hambatan yang menyebabkan penerapan energi terbarukan tersebut tidak bisa dilakukan secara masif. Mulai dari hambatan teknologi, biaya, hingga aksesibilitas.

    Untuk itu, ilmuwan di seluruh dunia terus berinovasi untuk menciptakan panel surya yang lebih efektif, serta mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Memangnya, apa saja inovasi panel surya yang saat ini sedang dikembangkan?

    7 Inovasi Teknologi Panel Surya

    Dari banyaknya inovasi teknologi panel surya yang dicetuskan oleh beberapa tim ilmuwan dari seluruh dunia, berikut adalah tujuh di antaranya yang wajib untuk Anda ketahui:

    1. Panel surya kristal perovskite

    Umumnya, untuk menangkap sinar matahari, sebuah panel surya menggunakan bahan yang berasal dari polysilicon murni. Sayangnya, bahan ini hanya dapat menyerap sekitar 34% dari sinar matahari tersebut. Oleh karena itu, ilmuwan terus mengembangkan penggunaan bahan lainnya untuk menyerap sinar matahari yang tidak terserap oleh polysilicon. 

    Saat ini, opsi yang sedang dikembangkan adalah material berbahan dasar dari kristal perovskite. Jika digunakan bersamaan dengan material yang berbahan silikon, perovskite dapat meningkatkan penyerapan sinar matahari yang diubah menjadi energi listrik. Namun, masalah terbesar dari perkembangan material satu ini adalah daya tahannya yang belum teruji.

    2. Solar window

    Solar window adalah sebuah teknologi yang cara kerjanya sama seperti panel surya biasa. Hanya saja, panel surya yang digunakan menjadi solar window bersifat transparan alias tembus pandang. Oleh karena itu, panel surya solar window bisa dipasang sebagai pengganti jendela, tidak harus di pasang di solar farm, atau atap suatu bangunan.

    3. Solar paint

    Tidak hanya dikembangkan untuk meningkatkan tingkat efektivitas panel surya silikon, saat ini kristal perovskite juga sedang dikembangkan untuk menjadi solar paint. Sesuai namanya, solar paint adalah sebuah cat yang bisa digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Namun, hingga saat ini produk yang telah dikeluarkan masih berupa prototype saja.

    4. Lapisan film surya tipis

    Saat ini, beberapa kelompok ilmuwan di seluruh dunia juga sedang mengembangkan panel surya dengan ketebalan setipis mungkin. Tujuannya agar panel surya menjadi sumber energi yang lebih portable serta lebih mudah diimplementasikan untuk kebutuhan sehari-hari.

    5. Panel spektrum inframerah

    Umumnya, panel surya menyerap cahaya matahari yang gelombangnya termasuk ke dalam visible light atau cahaya tampak. Artinya, ada jenis gelombang lainnya yang tidak terserap oleh panel surya konvensional. Untuk itu, ilmuwan mengembangkan penggunaan vanadium dan titanium yang dapat menangkap gelombang cahaya matahari yang termasuk pada cahaya inframerah.

    6. Peternakan tenaga surya terapung

    Umumnya, sebuah solar farm atau peternakan tenaga surya membutuhkan lahan yang sangat luas. Tentunya ini menjadi masalah bagi daerah yang memiliki keterbatasan lahan. Oleh karena itu, saat ini ada beberapa daerah yang menerapkan peternakan tenaga surya terapung. Salah satunya bisa Anda temukan di Dezhou Dingzhuang, Shandong, Cina.

    7. Panel surya aktif 24 jam

    Siapa bilang panel surya hanya bisa menghasilkan energi listrik saat langit cerah? Beberapa ilmuwan telah mengembangkan solusi agar sebuah panel surya dapat menghasilkan energi listrik selama 24 jam dalam cuaca apa pun, termasuk ketika turun hujan maupun saat malam hari.

    Agar panel surya bisa bekerja pada malam hari, ilmuwan memanfaatkan perbedaan suhu antara panel surya yang mendingin saat malam tiba, dengan udara sekitar yang masih hangat. Nantinya, panas dari udara ini akan bergerak melewati thermoelectric generator. Nah, alat inilah yang bisa mengubah kalor yang lewat menjadi sebuah energi listrik.

    Sedangkan untuk mengatasi panel surya yang tidak bisa menghasilkan listrik saat hujan tiba, sekelompok ilmuwan dari Cina memiliki solusi yang cukup unik. Mereka menempelkan lapisan triboelectric nanogenerator (TENG) pada permukaan panel surya konvensional. Dengan alat tersebut, gesekan yang dihasilkan antara tetesan air hujan dengan permukaan panel surya dapat berubah menjadi energi listrik.

     

    Selain beberapa inovasi tersebut, hingga saat ini masih banyak inovasi lainnya yang terus bermunculan mengenai perkembangan panel surya. Hal ini tentu saja sejalan dengan tujuan global untuk meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan agar dampak krisis iklim bisa berkurang. Anda sendiri juga bisa membantu usaha global ini dengan menerapkan penggunaan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari.

    Tertarik menggunakan PLTS Atap untuk rumah tangga? Hitung dulu kebutuhan Anda dengan kalkulator surya dari SolarHub, ya! Setelah itu, barulah Anda dapat mencari vendor jasa instalasi PLTS Atap melalui direktori SolarHub.

     

    Referensi:

    https://iesr.or.id/memacu-pemanfaatan-energi-surya-di-indonesia

    https://iesr.or.id/menyediakan-pembiayaan-terjangkau-untuk-transisi-energi

    https://www.weforum.org/agenda/2022/05/solar-panels-work-in-dark/

    https://interestingengineering.com/innovation/solar-panels-new-materials-cheaper-better

    https://solartechadvisers.com/innovations-in-solar-energy/#1-new-innovations-in-solar-energy-

    https://solarhub.id/listing-category/perusahaan

    https://kalkulator.solarhub.id