Saat permukaan darat semakin padat dan kebutuhan energi terus meningkat, muncul pertanyaan menarik: mungkinkah permukaan air seperti danau dan waduk dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik? Inilah yang menjadi dasar pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS terapung), sebuah teknologi yang menggabungkan efisiensi pemanfaatan ruang dengan potensi energi terbarukan. Dengan memanfaatkan permukaan air yang luas dan belum termanfaatkan secara optimal, PLTS terapung menawarkan solusi inovatif terhadap tantangan transisi energi bersih di tengah keterbatasan lahan.
PLTS terapung bekerja dengan prinsip yang sama seperti PLTS konvensional, yakni mengubah energi matahari menjadi listrik melalui sel fotovoltaik. Bedanya, sistem ini dipasang di atas permukaan air seperti danau, waduk, bendungan, atau bahkan laut tenang. Panel surya diletakkan pada struktur pelampung yang stabil dan tahan korosi, lalu dihubungkan dengan kabel bawah air ke jaringan listrik darat. Lingkungan perairan memberikan efek pendinginan alami yang meningkatkan efisiensi panel hingga 5–15% dibanding instalasi darat (IRENA, 2023).
Keunggulan PLTS terapung tidak hanya terbatas pada efisiensi teknis. Ia juga menawarkan solusi atas keterbatasan lahan, terutama di negara-negara dengan kepadatan penduduk tinggi atau keterbatasan ruang terbuka. Di Indonesia, potensi lahan untuk PLTS darat memang luas, namun seringkali berbenturan dengan kebutuhan pangan, kehutanan, atau konservasi. Berdasarkan studi Kementerian ESDM tahun 2022, potensi teknis PLTS terapung di Indonesia mencapai lebih dari 28 GWp, terutama dari waduk-waduk besar seperti Jatiluhur, Cirata, dan Saguling.
Contoh konkret dari implementasi PLTS terapung di Indonesia adalah proyek Cirata Floating Solar Plant di Jawa Barat, yang digarap oleh PT PLN dan Masdar dari Uni Emirat Arab. PLTS ini memiliki kapasitas 145 MWac dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara saat mulai beroperasi pada tahun 2024. Proyek ini tidak hanya menunjukkan kapasitas teknologi nasional, tetapi juga komitmen Indonesia dalam mengejar target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025, sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).
Secara global, negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan telah memanfaatkan teknologi ini lebih awal. Jepang, misalnya, telah mengoperasikan lebih dari 60 PLTS terapung skala komersial sejak 2015. Salah satu proyek unggulannya adalah Yamakura Dam Floating Solar Plant dengan kapasitas 13,7 MW. Negara-negara ini tidak hanya memanfaatkan energi bersih, tetapi juga mengurangi penguapan air dan pertumbuhan alga berlebih, dua efek positif tambahan dari pemasangan panel di atas air.
Kendati menjanjikan, pengembangan PLTS terapung tetap menghadapi tantangan. Aspek teknis seperti ketahanan sistem terhadap angin kencang, ombak, dan korosi masih menjadi perhatian, terutama jika ingin diterapkan di laut terbuka. Selain itu, perizinan pemanfaatan ruang perairan, potensi dampak ekologis terhadap ekosistem akuatik, dan kebutuhan investasi awal yang relatif tinggi menjadi faktor yang harus dikaji secara menyeluruh. Studi yang dilakukan oleh World Bank Group (2021) mencatat bahwa biaya pembangunan PLTS terapung berkisar antara 20–25% lebih tinggi dari PLTS darat, meski tren ini terus menurun seiring skala produksi meningkat.
Meski tantangan tersebut tidak bisa diabaikan, peluang yang ditawarkan jauh lebih besar. PLTS terapung membuka opsi pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam perencanaan energi nasional. Selain itu, ia juga sejalan dengan pendekatan multi-fungsi ruang perairan yang berkelanjutan, khususnya di negara kepulauan seperti Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang progresif, skema pembiayaan yang inklusif, dan peningkatan kapasitas SDM lokal, PLTS terapung dapat menjadi motor penggerak utama dalam dekarbonisasi sektor energi.
Dengan meningkatnya urgensi krisis iklim dan dorongan global untuk menekan emisi karbon, PLTS terapung muncul sebagai bagian penting dari portofolio solusi energi bersih. Ia bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan juga simbol dari adaptasi cerdas terhadap tantangan keterbatasan ruang dan kebutuhan energi yang terus tumbuh. Masa depan energi terbarukan tak lagi hanya terbentang di daratan, melainkan juga mengambang dengan tenang di permukaan air.


Leave a Reply