Banyak orang berpikir kalau cuaca sedang cerah dan panas, maka panel surya akan menghasilkan listrik paling banyak. Tapi faktanya, justru di saat matahari sedang terik-teriknya, produksi listrik dari PLTS Atap bisa menurun cukup signifikan. Kok bisa begitu? Bukannya makin panas matahari, makin banyak listriknya?
Ternyata, panel surya bekerja dengan menangkap cahaya, bukan panas. Jadi walaupun sinar matahari kuat, temperatur yang terlalu tinggi justru membuat panel jadi kurang efisien. Menurut National Renewable Energy Laboratory (NREL), setiap kenaikan suhu 1°C di atas temperatur standar (25°C) bisa menurunkan efisiensi panel sebesar 0,3%–0,5%. Artinya, jika temperatur panel mencapai 60°C hal yang sering terjadi di siang hari tropis produksi listrik bisa turun sampai 15%.
Panas berlebih mengganggu kinerja sel silikon dalam panel. Temperatur tinggi dapat menurunkan tegangan terbuka (open circuit voltage) dan daya keluaran panel meskipun intensitas cahaya tetap tinggi. Dengan kata lain, semakin panas permukaan panel, maka listrik yang dihasilkan akan semakin sedikit. (Wang et al., 2024)
Selain menurunkan efisiensi, temperatur ekstrem juga bisa mempercepat kerusakan material panel. Panas menyebabkan ekspansi dan tekanan pada lapisan silikon, yang dalam jangka panjang mempercepat degradasi. Karena itu, banyak sistem PLTS modern kini menggunakan desain dengan celah udara di bawah panel agar panas bisa keluar lebih cepat. Panel dengan sistem pendinginan udara (air cooling) mampu meningkatkan efisiensi hingga 17% dibanding panel tanpa pendingin. (Mustafa et al., 2024)
Faktor cuaca lain juga berperan, seperti angin dan kelembapan. Ketika angin lemah, panas sulit keluar dari permukaan panel sehingga temperatur meningkat lebih cepat. Kecepatan angin yang cukup membantu menurunkan temperatur panel dan menjaga kinerjanya tetap stabil. Namun, kondisi ini bukan berarti PLTS Atap tidak cocok untuk wilayah tropis seperti Indonesia. Dengan desain dan perawatan yang tepat, dampak panas bisa diminimalkan. Gunakan panel dengan koefisien temperatur rendah, pastikan ventilasi cukup, dan rutin membersihkan permukaannya agar debu tidak membuat panel makin panas.
Sebagai contoh, studi lapangan oleh tim dari Institut Teknologi Bandung menemukan bahwa PLTS Atap dengan celah ventilasi sekitar 10 cm di bawah panel mampu menghasilkan listrik 7% lebih banyak pada hari-hari panas dibandingkan sistem tanpa ventilasi. Ini menunjukkan bahwa desain sederhana bisa berdampak besar pada efisiensi sistem.
Jadi, kalau kamu sudah atau berencana memasang PLTS Atap, jangan hanya fokus pada seberapa terangnya matahari. Ingat, cuaca terlalu panas bisa bikin listrik justru turun! Pastikan sistem punya ruang cukup untuk “bernapas” agar tetap efisien, bahkan saat cuaca sedang sangat cerah.









