Category: Headline

  • Mengungkap Rahasia Lapisan Modul Surya: Apa Saja yang Ada Didalamnya?

    Mengungkap Rahasia Lapisan Modul Surya: Apa Saja yang Ada Didalamnya?

    Di era globalisasi ini, perkembangan teknologi sangatlah pesat dan kebutuhan akan listrik sebagai sumber energinya pun semakin besar. Tingginya permintaan listrik ini dibarengi juga dengan perkembangan komponen penghasil energi listrik salah satunya modul surya. Masyarakat Indonesia sudah semakin mengenal pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) khususnya modul surya, tapi banyak yang hanya melihatnya sebagai “kotak kaca hitam di atap”. Padahal, di dalamnya ada banyak lapisan penting yang membuat modul surya bisa mengubah cahaya matahari menjadi listrik. Penting sekali untuk mengenal komponen dan lapisan-lapisan penyusun modul surya, terlebih untuk konsumen yang akan memasang PLTS, agar paham terkait kualitas dan bagaimana memilih modul surya.  

    Untuk memudahkan membayangkannya, struktur modul surya bisa diibaratkan seperti sandwich. Setiap lapisan roti, selai, dan isian dalam sandwich punya fungsi masing-masing seperti ada yang berfungsi melindungi, merekatkan, dan yang menjadi inti rasa. Sama halnya dengan modul surya: ada lapisan pelindung, perekat, hingga sel fotovoltaik yang menjadi “isi utama” dalam menghasilkan listrik. Dengan memahami susunan lapisan ini, kita jadi tahu bahwa modul surya bukan sekadar kaca di atap, melainkan hasil rekayasa teknologi yang detail dan diperhitungkan dengan baik. 

    Modul surya atau modul fotovoltaik terdiri dari sejumlah sel fotovoltaik yang terhubung secara seri. Sel-sel dan kawat busbar penghubungnya dilindungi oleh bahan pelapis atau enkapsulasi yang melindungi sel-sel dari kontak langsung dengan lingkungan dan kekuatan-kekuatan mekanik yang mampu merusak sel-sel yang tipis. Struktur-struktur itu terdiri dari:  

    • Bingkai atau frame  

    Fungsi dari bingkai ini yaitu untuk memastikan kekokohan panel. Bingkai modul surya biasanya terbuat dari alumunium anodized untuk menghindari korosi. Oleh karena pemasangan bingkai dilakukan di akhir proses pembuatan.  

    • Kaca pelindung  

    Kaca pelindung terletak di bagian paling atas dari modul surya yang berfungsi sebagai pelindung modul dari cuaca dan dan benturan. Kaca transparan ini juga memastikan kekokohan modul surya sehingga mengambil proporsi tertinggi dari total berat modul surya.  

    • Enkapsulasi 

    Enkapsulasi atau laminasi adalah lapisan antara sel fotovoltaik dan kaca pelindung. Laminasi digunakan untuk mencegah kerusakan mekanis pada sel fotovoltaik dan mengisolasi tegangan dari sel fotovoltaik dengan bagian modul lainnya. Biasanya lembaran laminasi menggunakan bahan ethylene-vinyl acetate (EVA). 

    • Sel fotovoltaik 

    Sel fotovoltaik merupakan komponen utama dari modul surya. Sel ini terbuat dari bahan semikonduktor yang menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi listrik. Sel-sel saling terhubung secara seri untuk mendapatkan tegangan total yang lebih tinggi melalui kawat busbar. Bahan yang digunakan untuk sel fotovoltaik umumnya adalah silikon, seperti polycrystalline dan monocrystalline. 

    • Lembar insulasi atau backsheet 

    Lembar ini berada di bagian belakang dari modul surya dan biasanya berwarna putih atau hitam. Terbuat dari bahan plastik yang berfungsi untuk melindungi dan secara elektrik mengisolasi sel-sel dari kelembapan dan cuaca.  

    • Kotak junction  

    Junction box digunakan sebagai terminal penghubung antara serangkaian sel fotovoltaik ke beban atau ke modul surya lainnya. Perangkat ini berisi kawat busbar dari rangkaian sel fotovoltaik, kabel, dan bypass diode.  

     

    Sumber: Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya Dos & Don’ts 

    Pentingnya memahami lapisan modul surya bukan hanya menguntungkan dari segi produsen atau teknisi tapi dari segi konsumen juga. Pertama, pengetahuan tentang struktur modul bisa membuat konsumen lebih percaya diri dalam memilih produk. Misalnya, modul yang menggunakan kaca anti-reflektif mampu menangkap cahaya matahari lebih baik, sehingga menghasilkan listrik lebih banyak. Begitu juga dengan EVA yang berkualitas tinggi dapat menjaga sel fotovoltaik tetap terlindungi dari kerusakan halus akibat panas atau getaran. Sementara itu, backsheet tahan UV berperan penting melindungi modul dari kelembapan dan paparan sinar matahari jangka panjang. 

    Kedua, pemahaman ini juga menyadarkan konsumen bahwa modul surya bukan sekadar “kotak kaca hitam di atap”, tetapi perangkat teknologi canggih hasil rekayasa bertahun-tahun. Setiap lapisan dirancang agar saling mendukung, mulai dari melindungi sel fotovoltaik, mengoptimalkan penyerapan cahaya, hingga memastikan listrik dapat disalurkan dengan aman. Dengan begitu, konsumen bisa lebih menghargai nilai investasi pada modul surya, sekaligus memahami mengapa kualitas berbeda-beda antar merek. 

    Memahami lapisan-lapisan dalam modul surya membuat kita sadar bahwa setiap detail memiliki peran penting dalam menjaga performa dan umur pakai modul. Pengetahuan ini tidak hanya bermanfaat bagi produsen atau teknisi, tetapi juga bagi konsumen yang ingin berinvestasi pada energi bersih.  Pada akhirnya, modul surya bukan sekadar perangkat teknologi, melainkan salah satu kunci menuju masa depan energi yang lebih berkelanjutan di Indonesia. 

  • Ragam Pemanfaatan Tenaga Surya di Indonesia

    Ragam Pemanfaatan Tenaga Surya di Indonesia

    Pernah terbayangkan tidak, jika kehidupan sehari-hari kita yang bergantung dengan listrik seperti dirumah, disekolah, di tempat ibadah, atau bahkan di jalan sekalipun bisa terpenuhi oleh sinar matahari yang bisa dinikmati tiap harinya? Memang terdengarnya seperti masa depan, tapi itu sudah benar-benar terjadi saat ini di Indonesia. Selain mempunyai sumber daya energi yang melimpah, Indonesia merupakan negara yang beruntung karena terletak di katulistiwa, sehingga memiliki daya penyinaran matahari yang melimpah sepanjang tahunnya. 

    Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang biasa dijumpai di proyek-proyek skala besar pemerintah atau perusahaan, kini bisa ditemui di rumah tangga, fasilitas sosial, bahkan desa terpencil di Indonesia. Dari perkotaan hingga pedesaan, PLTS hadir sebagai solusi untuk kebutuhan energi yang bersih, terjangkau, dan berkelanjutan. Besarnya potensi energi surya di Indonesia, diperkirakan mencapai 207,8 gigawatt-peak (IESR, 2021), mampu menjadi peluang yang besar untuk di bangun PLTS. Selain pemerintah dan perusahaan besar, saat ini sudah banyak orang yang menggunakan energi surya sebagai sumber energi utama, seperti UMKM, institusi pendidikan, dan fasilitas sosial. Hal ini membuktikan bahwa energi surya mampu dimanfaatkan oleh siapa saja dan dimana saja. 

    PLTS untuk Skala Rumah Tangga

    Bagi sebagian orang Indonesia, tagihan listrik adalah salah satu pengeluaran yang cukup besar tiap bulannya ditambah saat ini semua teknologi rumah tangga menggunakan listrik sebagai sumber energinya. Disisi lain, sinar matahari yang dijumpai setiap hari merupakan salah satu sumber energi mandiri yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Hal inilah yang membuat PLTS semakin diminati oleh sektor rumah tangga. Dengan mengaplikasikan PLTS dirumah, pemilik rumah bisa menghasilkan listrik sendiri dan memanfaatkannya untuk mengurangi tagihan listrik bulanan sekaligus ikut menggunakan energi bersih berkelanjutan. Listrik yang dihasilkan oleh PLTS mampu menyediakan energi untuk penerangan dan alat elektronik seperti kipas angin dan televisi. Selain itu juga panas dari tenaga surya dapat dimanfaatkan untuk pemanas air. 

    Adapun tantangan utama PLTS atap untuk sektor rumah tangga yaitu kebijakan net-metering yang berubah dari yang sebelumnya yaitu skema ekspor-impor listrik kini dibatasi atau dihapus, sehingga kelebihan energi dari siang hari tidak lagi bisa dikonversi menjadi kredit tagihan. Selain itu, investasi instalasi sistem on-grid tanpa baterai masih terbilang cukup mahal bisa berkisar Rp 14–18 juta per kWp apalagi sistem dengan baterai tentu jauh lebih mahal dan kurang menguntungkan bagi rumah tangga biasa.

    PLTS untuk Skala UMKM dan Industri

    Industri dan UMKM di Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi sekaligus penyumbang konsumsi energi yang besar. Untuk menekan biaya operasional dan mendukung keberlanjutan, banyak pelaku usaha mulai memanfaatkan PLTS. Beberapa perusahaan besar seperti Unilever Indonesia telah mengoperasikan PLTS atap di pabrik Cikarang dengan kapasitas 2,5 MWp, yang mampu memangkas emisi karbon hingga 1.500 ton CO₂ per tahun (Unilever, 2023) dan Danone-AQUA telah menggunakan PLTS sebesar 2.900 kWp untuk kebutuhan energi bersih mereka (ekonomi.bisnis.com, 2020). Sementara itu, UMKM mulai melihat peluang PLTS sebagai solusi hemat energi dengan citra usaha yang lebih ramah lingkungan, terutama dengan adanya skema sewa atau kerja sama penyedia layanan PLTS.

    Di sisi regulasi, pemerintah terus mendorong adopsi PLTS dengan menyempurnakan kebijakan seperti skema net-metering dan penghapusan capacity charge yang memberatkan. Hal ini membuka jalan bagi pelaku industri dan UMKM untuk lebih mudah beralih ke energi bersih. Meskipun tantangan seperti biaya awal dan keterbatasan informasi masih ada, hadirnya banyak penyedia solusi PLTS yang menawarkan paket lengkap membuat adopsi teknologi ini semakin realistis dan menjanjikan ke depan.

    PLTS untuk Fasilitas Sosial: Sekolah, Masjid, Rumah Sakit 

    Fasilitas sosial seperti sekolah, masjid, dan rumah sakit memiliki kebutuhan listrik yang stabil setiap hari, namun sering menghadapi keterbatasan anggaran operasional. PLTS menjadi solusi ideal karena dapat menyuplai energi secara mandiri, mengurangi beban biaya listrik rutin, dan mendukung aktivitas layanan publik tanpa gangguan. Misalnya, di Jawa Barat terdapat tujuh sekolah negeri seperti SMAN 1 Cianjur dan SMKN 1 Garut yang telah memasang PLTS atap untuk mendukung penghematan operasional dan edukasi siswa tentang energi bersih (Detik, 2024). Di sisi lain, sejumlah masjid di berbagai kota seperti Masjid Al Muharram di Bantul, Yogyakarta sudah memasang PLTS dengan kapasitas 4.280 Wp dan telah memenuhi 100% kebutuhan listrik masjid (tajdid.id, 2023). Masjid Istiqlal Jakarta sudah memasang 504 panel surya, mengurangi 16% konsumsi listrik dan menurunkan biaya hingga 20% (SIEJ, 2022).

    Pemanfaatan PLTS di rumah sakit juga menunjukkan potensi besar, terutama sebagai sumber energi cadangan yang stabil. Beberapa rumah sakit rujukan dan puskesmas di daerah terpencil telah menggunakan PLTS hybrid (dengan baterai) untuk memastikan alat-alat medis vital tetap berfungsi saat listrik PLN padam. Selain menghemat biaya operasional, inisiatif ini juga menjadi contoh edukatif bagi masyarakat bahwa transisi energi dapat dimulai dari fasilitas-fasilitas publik terdekat.

    PLTS untuk Pertanian dan Pedesaan 

    Di sejumlah desa pertanian di Indonesia, energi surya telah menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan ketersediaan air irigasi. Di Desa Nanjungan, Kabupaten Lahat (Sumatera Selatan), PLTS irigasi berkapasitas 27,5 kWp yang dipasang oleh PT Bukit Asam sejak Juni 2022 berhasil menyuplai pompa irigasi bagi lahan seluas 83 hektar. Sekelompok petani kini bisa panen hingga tiga kali setahun, meningkat signifikan dari sebelumnya hanya satu kali, dan biaya pengairan turun dari Rp 1.500.000 menjadi Rp 1.000.000 per hektar (Republika, 2021). Selain itu, di Desa Sumbersari, Sleman, program PLTS berbasis komunitas untuk irigasi dan budidaya ikan juga telah memperkuat ekonomi lokal melalui pelatihan, keterlibatan warga, dan pemanfaatan panel plus pompa air yang mendukung produksi pertanian serta perikanan setempat (Jurnal PESARE, 2024).

    Melihat berbagai pemanfaatan tenaga surya di berbagai sektor menunjukkan bahwa energi surya bukan hanya alternatif, tetapi solusi nyata untuk mendukung transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan dukungan regulasi, pembiayaan yang terjangkau, serta peningkatan literasi energi, pemanfaatan PLTS dapat terus diperluas dan dimaksimalkan di seluruh penjuru Indonesia. Kini saatnya tenaga surya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, menuju masa depan energi yang lebih bersih dan mandiri.

  • Menilik Kebijakan: Apakah PLTS Jadi Prioritas?

    Menilik Kebijakan: Apakah PLTS Jadi Prioritas?

    Transisi energi yang inklusif dan berkeadilan menjadi cita-cita Indonesia saat ini. Sudah menjadi agenda penting bagi Indonesia untuk menuju sumber yang lebih bersih dan terbarukan dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah menargetkan porsi energi baru dan terbarukan mencapai 23% dalam bauran energi nasional pada tahun 2025 meskipun saat ini diturunkan menjadi 20%. Energi surya memiliki peranan penting dalam membantu mencapai target ini karena salah satu solusi yang menjanjikan dengan potensi lebih dari 200 GWp. Namun, di Tengah peluang tersebut, pertanyaannya adalah: apakah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) benar-benar menjadi prioritas dalam kebijakan energi Indonesia? Tentunya salah satu hal yang berpengaruh dalam berhasilnya transisi energi di Indonesia ini adalah kebijakan serta regulasi yang mengatur mulai dari mekanisme investasi, pengadaan teknologi, instalasi, dan lain sebagainya.

    Dalam dokumen kebijakan resmi RUPTL PLN 2021–2030, porsi pengembangan PLTS masih cukup kecil yaitu sekitar 4,7 GW dari total seluruh pembangkit EBT yang direncanakan dalam periode RUPTL tersebut yaitu 20,9 GW. Angka tersebut dinilai cukup kecil karena potensi energi surya di Indonesia yang besar dan tersebar di seluruh Indonesia. Adapun Peraturan Presiden (Perpres) No. 112 Tahun 2022 yang menjelaskan mengenai harga pembelian listrik EBT salah satunya PLTS tapi dalam pengaplikasiannya masih terkendala hal teknis dan birokratis. Misalnya, meskipun harga sudah ditetapkan, proses pengadaan masih harus melewati mekanisme penunjukan langsung atau lelang yang tentunya memakan waktu yang cukup lama. Sementara itu, Permen ESDM No. 2 Tahun 2024 yang mengatur tentang PLTS atap justru menimbulkan permasalahan karena skema net-metering yang dihilangkan dinilai merugikan konsumen yang sudah memasang PLTS karena kelebihan listrik yang dihasilkan tidak dapat dijual ke PLN.

    Nyatanya, data dari Kementerian ESDM per akhir 2024 menunjukkan bahwa kapasitas PLTS terpasang secara nasional masih di bawah 1 GWp, atau hanya sekitar 10% dari target jangka menengah. Padahal, untuk mendukung target net-zero emission (NZE) dan target bauran EBT 20% di tahun 2025, peran PLTS sangat krusial sebagai teknologi yang dapat dibangun dengan cepat dan modular. Perubahan Permen ESDM No. 26 tahun 2021 ke Permen ESDM No. 2 tahun 2024 juga menyebabkan turunnya minat masyarakat untuk mulai memakai PLTS di rumahnya.

    Beberapa permasalahan dan tantangan utama pengembangan PLTS di Indonesia berasal dari sisi regulasi dan teknis pengaplikasian di lapangan. Dari segi regulasi, kebijakan yang dibuat oleh pemerintah masih merugikan masyarakat karena tidak bisa menjual kelebihan listrik yang dihasilkan ke PLN sehingga tidak ada nilai pengurangan tagihan listrik disamping nilai investasi awal PLTS yang masih cukup mahal di Indonesia. Dari segi teknis, PLTS masih belum stabil dalam menghasilkan listrik beroperasi secara intermiten dan membutuhkan sistem penyimpanan berupa baterai yang harganya cukup mahal menjadi penyebab masyarakat masih bergantung pada pembangkit yang berbasis energi fosil.

    Dari penjelasan-penjelasan sebelumnya, agar PLTS bisa menjadi pilar utama dalam transisi energi nasional, dibutuhkan langkah-langkah strategis yang lebih nyata. Pemerintah perlu menyusun roadmap khusus pengembangan PLTS dengan target tahunan yang realistis dan diperlukannya mekanisme evaluasi. Selain itu, perlu adanya insentif fiskal dan keuangan yang dapat meningkatkan daya tarik masyarakat untuk berinvestasi terutama untuk sektor rumah tangga dan industri kecil.

    PLTS merupakan salah satu pilar penting dalam mencapai bauran energi yang bersih, berkelanjutan, dan terjangkau. Namun dalam praktiknya, berbagai kebijakan yang ada belum mendukung sepenuhnya PLTS sebagai prioritas. Tanpa dorongan kebijakan yang kuat, insentif yang menarik, serta infrastruktur yang mendukung, maka potensi besar tenaga surya di Indonesia akan sulit terwujud sepenuhnya.

  • Arah Masa Depan PLTS: Proyeksi 2030 dan Peran Masyarakat dalam Transisi Energi

    Arah Masa Depan PLTS: Proyeksi 2030 dan Peran Masyarakat dalam Transisi Energi

    Bayangkan jika pada tahun 2030, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen energi bersih, tetapi juga pemain utama dalam industri energi surya di Asia Tenggara. Dengan potensi sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun, mengapa perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia masih berjalan lambat? Pertanyaan ini menjadi krusial saat dunia berlomba-lomba keluar dari ketergantungan energi fosil menuju masa depan yang berkelanjutan, dan Indonesia berada di titik kritis dalam memilih arah transisinya.

    Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan RUPTL 2021–2030, kapasitas PLTS Indonesia ditargetkan mencapai 4,7 gigawatt (GW) pada tahun 2030, atau sekitar 5,4% dari total kapasitas pembangkit baru. Di sisi lain, International Renewable Energy Agency (IRENA) bersama Kementerian ESDM dalam skenario 1,5°C menyarankan bahwa Indonesia perlu membangun kapasitas PLTS hingga 65–66 GW untuk memenuhi target pengurangan emisi dan bauran energi terbarukan. Selisih besar antara target nasional dan proyeksi internasional ini menunjukkan bahwa langkah aktual pemerintah masih jauh dari potensi teknis yang dapat dimanfaatkan secara optimal.

    Laporan Indonesia Energy Transition Outlook 2025 dari Institute for Essential Services Reform (IESR) mengungkapkan bahwa porsi PLTS dalam bauran energi nasional masih berada di bawah 1% per 2024. Meskipun pemerintah telah menyusun peta jalan dengan target 23% energi baru terbarukan pada 2025, realisasinya masih tertinggal. IESR mencatat bahwa hanya sekitar 1,89 GW proyek PLTS yang masuk dalam pipeline hingga 2027, yang bahkan belum mencapai 50% dari target jangka menengah. Lambatnya realisasi ini disebabkan oleh kendala regulasi, kepastian tarif yang belum menarik, dan proses perizinan yang kompleks.

    Indonesia memiliki potensi teknis energi surya yang mencapai lebih dari 200 GW, tersebar dari Sabang hingga Merauke. Namun, dalam praktiknya, kapasitas terpasang nasional untuk PLTS pada 2024 baru mencapai sekitar 400 MW. Studi pemodelan menggunakan metode double exponential smoothing bahkan memperkirakan bahwa tanpa intervensi signifikan, kapasitas PLTS hanya akan mencapai sekitar 756 MW pada 2050, jauh dari target ideal yang disarankan IRENA. Ketimpangan antara potensi dan realisasi ini menegaskan perlunya dorongan kebijakan dan investasi yang lebih agresif.

    Peran masyarakat dalam transisi energi sering kali diposisikan sebagai penerima manfaat pasif. Padahal, jika dimaksimalkan, partisipasi publik dapat menjadi penggerak utama dalam peningkatan kapasitas PLTS, khususnya melalui instalasi PLTS atap dan model koperasi energi. Konsep energy democracy mendorong warga menjadi prosumer produsen sekaligus konsumen energi yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap jaringan listrik konvensional. Dengan pendekatan ini, transisi energi menjadi lebih inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan lokal.

    Contoh konkret dari keterlibatan masyarakat terlihat dalam berbagai inisiatif komunitas energi terbarukan di Indonesia, seperti proyek mikrohidro di Kedungrong, Yogyakarta, atau program solar home system di Nusa Tenggara Timur. Melalui pelatihan teknis, pembiayaan mikro, dan penguatan kelembagaan komunitas, warga tidak hanya mendapatkan akses energi, tetapi juga memberdayakan diri secara ekonomi dan sosial. Menurut Asian Power, penguatan peran komunitas dalam transisi energi dapat membuka hingga 96 juta lapangan kerja baru dan menciptakan nilai ekonomi lebih dari USD 600 juta dalam beberapa dekade ke depan.

    Kampus, komunitas kreatif, hingga organisasi pemuda kini mulai menginisiasi kampanye kesadaran energi, audit energi partisipatif, hingga pelatihan teknisi surya bersertifikat di tingkat lokal. Peran ini sangat penting mengingat Indonesia masih menghadapi kekurangan tenaga kerja terlatih di sektor PLTS. Keterlibatan masyarakat dalam bentuk pendidikan energi bahkan tercatat dalam roadmap Just Energy Transition Partnership (JETP) sebagai komponen penting dalam memastikan transisi yang inklusif dan adil.

    Untuk memaksimalkan peran tersebut, dukungan kebijakan harus diarahkan pada pemberdayaan masyarakat, bukan hanya pada sektor korporasi. Kebijakan feed-in tariff yang ramah prosumer, akses kredit lunak untuk rumah tangga, dan regulasi net metering yang fleksibel dapat menjadi insentif kuat. Pemerintah daerah juga dapat memainkan peran katalis melalui program transisi energi berbasis desa atau kelurahan. Jika diberi ruang partisipatif, masyarakat bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi penggerak utama transformasi energi nasional.

    Dengan sinergi antara kebijakan progresif, pendanaan inovatif, dan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama, Indonesia berpotensi mengakselerasi adopsi PLTS secara masif menuju 2030. PLTS bukan hanya teknologi penghasil listrik, melainkan instrumen demokratisasi energi yang mampu memindahkan kekuasaan dari pusat ke masyarakat. Dalam hal ini, masa depan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh megawatt, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat diberdayakan untuk memegang kendali atas energinya sendiri.

  • Energi Terbarukan dari Permukaan Air: Apa Itu PLTS Terapung?

    Energi Terbarukan dari Permukaan Air: Apa Itu PLTS Terapung?

    Saat permukaan darat semakin padat dan kebutuhan energi terus meningkat, muncul pertanyaan menarik: mungkinkah permukaan air seperti danau dan waduk dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik? Inilah yang menjadi dasar pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS terapung), sebuah teknologi yang menggabungkan efisiensi pemanfaatan ruang dengan potensi energi terbarukan. Dengan memanfaatkan permukaan air yang luas dan belum termanfaatkan secara optimal, PLTS terapung menawarkan solusi inovatif terhadap tantangan transisi energi bersih di tengah keterbatasan lahan.

    PLTS terapung bekerja dengan prinsip yang sama seperti PLTS konvensional, yakni mengubah energi matahari menjadi listrik melalui sel fotovoltaik. Bedanya, sistem ini dipasang di atas permukaan air seperti danau, waduk, bendungan, atau bahkan laut tenang. Panel surya diletakkan pada struktur pelampung yang stabil dan tahan korosi, lalu dihubungkan dengan kabel bawah air ke jaringan listrik darat. Lingkungan perairan memberikan efek pendinginan alami yang meningkatkan efisiensi panel hingga 5–15% dibanding instalasi darat (IRENA, 2023).

    Keunggulan PLTS terapung tidak hanya terbatas pada efisiensi teknis. Ia juga menawarkan solusi atas keterbatasan lahan, terutama di negara-negara dengan kepadatan penduduk tinggi atau keterbatasan ruang terbuka. Di Indonesia, potensi lahan untuk PLTS darat memang luas, namun seringkali berbenturan dengan kebutuhan pangan, kehutanan, atau konservasi. Berdasarkan studi Kementerian ESDM tahun 2022, potensi teknis PLTS terapung di Indonesia mencapai lebih dari 28 GWp, terutama dari waduk-waduk besar seperti Jatiluhur, Cirata, dan Saguling.

    Contoh konkret dari implementasi PLTS terapung di Indonesia adalah proyek Cirata Floating Solar Plant di Jawa Barat, yang digarap oleh PT PLN dan Masdar dari Uni Emirat Arab. PLTS ini memiliki kapasitas 145 MWac dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara saat mulai beroperasi pada tahun 2024. Proyek ini tidak hanya menunjukkan kapasitas teknologi nasional, tetapi juga komitmen Indonesia dalam mengejar target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025, sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

    Secara global, negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan telah memanfaatkan teknologi ini lebih awal. Jepang, misalnya, telah mengoperasikan lebih dari 60 PLTS terapung skala komersial sejak 2015. Salah satu proyek unggulannya adalah Yamakura Dam Floating Solar Plant dengan kapasitas 13,7 MW. Negara-negara ini tidak hanya memanfaatkan energi bersih, tetapi juga mengurangi penguapan air dan pertumbuhan alga berlebih, dua efek positif tambahan dari pemasangan panel di atas air.

    Kendati menjanjikan, pengembangan PLTS terapung tetap menghadapi tantangan. Aspek teknis seperti ketahanan sistem terhadap angin kencang, ombak, dan korosi masih menjadi perhatian, terutama jika ingin diterapkan di laut terbuka. Selain itu, perizinan pemanfaatan ruang perairan, potensi dampak ekologis terhadap ekosistem akuatik, dan kebutuhan investasi awal yang relatif tinggi menjadi faktor yang harus dikaji secara menyeluruh. Studi yang dilakukan oleh World Bank Group (2021) mencatat bahwa biaya pembangunan PLTS terapung berkisar antara 20–25% lebih tinggi dari PLTS darat, meski tren ini terus menurun seiring skala produksi meningkat.

    Meski tantangan tersebut tidak bisa diabaikan, peluang yang ditawarkan jauh lebih besar. PLTS terapung membuka opsi pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam perencanaan energi nasional. Selain itu, ia juga sejalan dengan pendekatan multi-fungsi ruang perairan yang berkelanjutan, khususnya di negara kepulauan seperti Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang progresif, skema pembiayaan yang inklusif, dan peningkatan kapasitas SDM lokal, PLTS terapung dapat menjadi motor penggerak utama dalam dekarbonisasi sektor energi.

    Dengan meningkatnya urgensi krisis iklim dan dorongan global untuk menekan emisi karbon, PLTS terapung muncul sebagai bagian penting dari portofolio solusi energi bersih. Ia bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan juga simbol dari adaptasi cerdas terhadap tantangan keterbatasan ruang dan kebutuhan energi yang terus tumbuh. Masa depan energi terbarukan tak lagi hanya terbentang di daratan, melainkan juga mengambang dengan tenang di permukaan air.

     

  • Selayang Pandang Tenaga Surya di Indonesia: Potensi Kontra Realita

    Selayang Pandang Tenaga Surya di Indonesia: Potensi Kontra Realita

    Indonesia, sebagai negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa, memiliki potensi energi surya yang sangat besar dan merata sepanjang tahun. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi teknis tenaga surya Indonesia mencapai sekitar 3.294 gigawatt-peak (GWp), dengan intensitas rata-rata radiasi matahari mencapai 4,8 kWh/m²/hari (Kementerian ESDM, 2023). Selain itu, potensi khusus Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap diperkirakan mencapai 32,5 GWp (Kompas, 2023). 

    Data dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan estimasi potensi teknis kapasitas PLTS nasional yang lebih luas, berkisar antara 3.396 GWp hingga 19.835 GWp, tergantung pada skenario penggunaan lahan dan pengecualian tertentu (IESR, 2023). Sementara potensi PLTS atap menurut IESR bahkan mencapai sekitar 165,9 GW, jauh melampaui estimasi sebelumnya, yang menunjukkan peluang besar untuk pemanfaatan energi surya di sektor rumah tangga dan industri. Dengan kondisi geografis dan iklim yang menguntungkan ini, energi surya menjadi salah satu kandidat utama dalam strategi dekarbonisasi sektor energi nasional di Indonesia.

    Realisasi pemanfaatan energi surya di Indonesia masih jauh dari optimal. Hingga akhir 2023, kapasitas terpasang PLTS nasional baru mencapai sekitar 322 megawatt-peak (MWp), atau hanya sekitar 0,01% dari total potensi nasional (PV Tech, 2024). Target pengembangan PLTS atap sebesar 900 MWp pada 2023 tidak tercapai. Sebagai pembanding, India telah melampaui kapasitas 81 GW tenaga surya, sedangkan Tiongkok telah melampaui 550 GW (IRENA, 2023). Angka-angka ini menyoroti ketimpangan antara ambisi, potensi, dan capaian Indonesia.

    Meski potensi tenaga surya di Indonesia sangat besar, realisasi pemanfaatannya masih terkendala oleh regulasi yang belum sepenuhnya mendukung. Salah satu regulasi terbaru, Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 Tahun 2023 tentang Pemanfaatan Energi Surya Atap, mengatur tarif jual-beli listrik dan mekanisme interkoneksi PLTS atap dengan jaringan listrik nasional. Namun, penerapan sistem kuota nasional PLTS atap yang dibatasi hingga 901 MW pada 2024 dan target kumulatif 1.593 MW pada 2028 masih membatasi ekspansi energi surya secara signifikan. Kondisi ini mencerminkan ketidaksesuaian antara potensi besar tenaga surya dengan realita regulasi yang menjadi hambatan bagi percepatan transisi energi di Indonesia.

    Biaya awal pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) masih menjadi tantangan dari sisi ekonomi, meskipun harga modul surya global telah menurun signifikan. Tarif listrik yang disubsidi sekitar Rp1.600 per kWh untuk rumah tangga dan sekitar Rp1.100 per kWh untuk industri mengurangi daya tarik finansial instalasi PLTS karena penghematan yang diperoleh relatif kecil (IMF, 2022). Dukungan fiskal pemerintah juga belum memadai. Laporan Frontiers in Sustainable Energy Policy (2024) menunjukkan bahwa alokasi subsidi untuk PLTS hanya sebagian kecil dari total insentif energi terbarukan, yakni sekitar Rp500 miliar, sementara mayoritas alokasi subsidi sekitar Rp7 triliun dikhususkan untuk pengembangan panas bumi sebagai sumber energi terbarukan utama di Indonesia.

    Beberapa pencapaian tetap layak dicatat sebagai kemajuan penting. Proyek PLTS terapung Cirata di Jawa Barat, dengan kapasitas 192 MWp, yang diresmikan pada akhir 2023, menjadi proyek PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara. Proyek ini hampir menggandakan kapasitas PLTS on-grid nasional. Keberhasilan Cirata menunjukkan bahwa pembangunan proyek energi surya skala besar memungkinkan dicapai apabila ada sinergi antara teknologi, pendanaan, dan kemauan politik.

    Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menetapkan bahwa 70% dari kapasitas listrik baru sebesar 71 GW akan berasal dari energi terbarukan, termasuk 17 GW dari tenaga surya (Reuters, 2024). Target ini juga diperkuat melalui dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC) 2022 yang menyebut PLTS sebagai instrumen kunci menuju emisi nol bersih tahun 2060. Indonesia bahkan menyampaikan komitmen membangun 75 GW energi terbarukan dalam 15 tahun ke depan dalam forum COP29.

    Hambatan teknis seperti intermitensi tenaga surya dan keterbatasan teknologi penyimpanan energi (battery storage) masih perlu diselesaikan. Ketidakstabilan pasokan yang dihasilkan dari variabilitas intensitas matahari memerlukan sistem penyimpanan agar kelistrikan tetap stabil. Infrastruktur transmisi nasional juga belum sepenuhnya mendukung distribusi energi PLTS secara optimal, khususnya di wilayah timur Indonesia. PLN menyatakan bahwa investasi sebesar USD 25 miliar dibutuhkan untuk memperkuat jaringan agar kompatibel dengan penetrasi energi terbarukan

    Kesimpulannya, tenaga surya di Indonesia menyimpan potensi besar untuk mendukung transformasi energi nasional. Namun, realisasi yang masih sangat rendah menunjukkan perlunya reformasi kebijakan yang konsisten, dukungan fiskal yang kuat, serta investasi pada infrastruktur dan teknologi pendukung. Dengan komitmen kolektif dari pemerintah, swasta, dan masyarakat, tenaga surya dapat menjadi pilar utama dalam menciptakan sistem energi yang rendah karbon, berkelanjutan, dan mandiri di masa depan.

  • PLTS Atap: Masa Depan Energi Kita?

    PLTS Atap: Masa Depan Energi Kita?

    Di tengah semakin meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis energi dan percepatan perubahan iklim global, muncul pertanyaan penting: apakah atap rumah kita bisa menjadi pembangkit listrik pribadi dan sumber energi masa depan? Bayangkan jika setiap rumah, sekolah, kantor, hingga pabrik tidak hanya mengonsumsi listrik, tetapi juga memproduksi energi bersih secara mandiri. Konsep ini kini mulai diterapkan secara luas melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap, sebuah inovasi desentralisasi energi yang berpotensi mengubah sistem energi global, termasuk di Indonesia.

    PLTS atap menggunakan teknologi fotovoltaik (PV) yang mengubah sinar matahari langsung menjadi listrik. Panel surya dipasang di atap bangunan dan terhubung dengan inverter agar listrik yang dihasilkan bisa digunakan langsung atau disalurkan ke jaringan listrik umum. Di negara tropis seperti Indonesia, potensi energi surya sangat besar, dengan rata-rata radiasi matahari sekitar 4,8 kWh/m² per hari dan potensi teknis nasional mencapai 3.294 GWp. Namun, hingga tahun 2024, kapasitas terpasang PLTS atap baru sekitar 96 MWp, jauh di bawah target 3,6 GWp pada 2025 sesuai Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

    Pemanfaatan PLTS atap memberikan banyak keuntungan, seperti menyediakan energi bersih yang mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan membantu menurunkan emisi gas rumah kaca. Namun, biaya pemasangan awal yang relatif tinggi masih menjadi tantangan, dengan estimasi biaya sekitar Rp 24 juta hingga Rp 33 juta per kWp. Meski demikian, biaya ini dapat dianggap sebagai investasi jangka panjang karena penghematan tagihan listrik yang signifikan memungkinkan titik impas tercapai dalam 6 hingga 7 tahun. Selain itu, PLTS atap juga meningkatkan nilai properti dan membuka peluang lapangan kerja di sektor energi terbarukan. Dengan dukungan kebijakan dan kemajuan teknologi, manfaat jangka panjang PLTS atap diyakini jauh lebih besar dibandingkan tantangan yang ada.

    Dari sisi ekonomi, PLTS atap dapat mengurangi biaya energi secara signifikan. Menurut simulasi Direktorat Jenderal EBTKE (2023), rumah tangga dengan daya listrik sekitar 1.300 VA yang memasang PLTS atap berkapasitas 2 kWp dapat menghemat sekitar 30–40% dari tagihan listrik bulanan. Misalnya, jika tagihan listrik biasanya Rp800.000 per bulan, dengan PLTS atap bisa turun menjadi sekitar Rp480.000. Penghematan ini bahkan lebih besar di sektor komersial dan industri yang menggunakan listrik banyak di siang hari, saat produksi listrik PLTS atap mencapai puncaknya.

    Pengalaman dari negara lain juga menunjukkan bahwa PLTS atap bukan hanya pelengkap, tapi sudah menjadi bagian utama dari pasokan energi. Di Australia, misalnya, lebih dari 3,6 juta rumah telah memasang sistem surya atap hingga 2023, mencakup sekitar 30% rumah tangga. Program insentif seperti feed-in tariff dan kredit lunak membantu mempercepat adopsi teknologi ini. Di Jerman, PLTS atap menjadi bagian dari kebijakan Energiewende, dengan kapasitas tenaga surya lebih dari 50 GW yang sebagian besar berasal dari instalasi atap kecil dan menengah. Keberhasilan kedua negara ini menunjukkan bahwa dukungan kebijakan, insentif fiskal, dan edukasi publik sangat penting untuk mendorong penggunaan energi surya.

    Dari sisi lingkungan, PLTS atap membantu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan. Setiap 1 kWh listrik dari PLTS atap bisa menghindari emisi CO₂ sebesar 0,8–1,0 kg yang seharusnya dihasilkan oleh pembangkit batu bara. Jadi, jika satu rumah menggunakan 250 kWh listrik dari PLTS atap setiap bulan, emisi karbon yang bisa ditekan mencapai sekitar 3 ton per tahun. Jika satu juta rumah menggunakan PLTS atap, pengurangan emisi bisa mencapai 3 juta ton CO₂e per tahun, setara dengan menanam lebih dari 100 juta pohon.

    Di Indonesia, berbagai regulasi sudah diterbitkan untuk mendukung pemanfaatan PLTS atap, seperti Peraturan Menteri ESDM No. 26/2021 tentang sistem ekspor-impor listrik antara pengguna PLTS atap dan PLN. Meskipun skema net metering sudah ada, masih ada beberapa kendala, seperti kuota kapasitas yang dibatasi, teknis integrasi sistem yang kurang jelas, dan ketidakpastian insentif yang membuat minat investasi dan pemasangan oleh rumah tangga menjadi terbatas. Survei IESR (2023) menunjukkan 69% calon pengguna tertarik memasang PLTS atap, namun 51% dari mereka menunda karena masalah regulasi dan biaya awal.

    Dari sisi sosial, PLTS atap membuka peluang bagi masyarakat menjadi prosumen — yaitu produsen sekaligus konsumen energi yang aktif mendukung transisi energi. Teknologi ini juga menciptakan lapangan kerja hijau, mulai dari pembuatan modul, instalasi, hingga pemeliharaan dan pemantauan. International Renewable Energy Agency (IRENA) mencatat bahwa sektor tenaga surya menciptakan lebih dari 4,9 juta pekerjaan secara global pada 2022, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring percepatan transisi energi di berbagai negara berkembang.

    Dengan manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial yang nyata, PLTS atap seharusnya dipandang bukan hanya sebagai alternatif energi, melainkan sebagai bagian penting dari transformasi sistem energi nasional. Masa depan energi Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada pembangunan pembangkit besar, tetapi juga pada inovasi kecil dan tersebar yang dimulai dari atap rumah kita sendiri. Jika dukungan kebijakan, insentif pembiayaan, dan kesadaran masyarakat berjalan bersama, PLTS atap bukan hanya masa depan energi, tetapi juga solusi terbaik untuk saat ini.

  • Unik, 7 Panel Surya Ini Diubah Jadi Karya Seni!

    Unik, 7 Panel Surya Ini Diubah Jadi Karya Seni!

    Beberapa tahun belakangan ini, popularitas panel surya sedang meningkat. Menurut data dari Indonesia Solar Energy Outlook (ISEO) 2023, kapasitas pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) meningkat jadi 63,5 MWp pada September 2022 dari 43,9 MWp pada 2021. Tren ini juga mendunia karena secara global, kapasitas solar panel tumbuh dari hanya 5 GigaWatt pada 2005 menjadi sekitar 940 GigaWatt pada 2021.

    Ditambah dengan berkembangnya kecanggihan teknologi, pemanfaatan solar panel pun jadi semakin beragam. Tidak hanya digunakan sebagai PLTS semata, beberapa panel surya bahkan berhasil diubah menjadi karya seni.

    7 Karya Seni yang Terbuat dari Panel Surya

    Inspirasi untuk menciptakan karya seni bisa datang dari mana saja, termasuk dari solar panel yang selama ini dikenal sebagai salah satu bentuk pemanfaatan sumber energi terbarukan. Beberapa instalasi karya seni berikut ini adalah buktinya.

    • La Monarcha

    Karya seni rancangan Cruz Ortiz ini menggunakan SolarSkin, sebuah lapisan film yang dapat mengubah panel surya menjadi kanvas. Hebatnya, SolarSkin dirancang sedemikian rupa agar pelaku seni bisa menggunakan kanvas tersebut tanpa mengganggu performa sistem dari solar panel. 

    Dari sinilah lahir La Monarcha, instalasi seni dalam bentuk empat panel berukuran 6×6 inci setinggi kurang lebih 3,3 meter, yang dipasang di San Antonio, Texas, Amerika Serikat. Proyek spesial ini merupakan inisiatif dari land Art Generator Solar Mural yang ingin meningkatkan awareness terhadap energi terbarukan melalui karya seni.

    • Sonic Bloom

    Di Seattle, Washington, Amerika Serikat, terdapat menara tinggi bernama Space Needle yang menjadi ikon kota. Nah, di salah satu areanya, Anda bisa menemukan deretan “bunga” raksasa yang ditenagai oleh sinar matahari. Memiliki tinggi sekitar 10 meter dengan kelopak selebar 6 meter, bunga buatan rancangan Dan Corson ini dilengkapi 270 panel surya berkapasitas 4 Watt yang terpasang pada bagian atas.

    Dikenal dengan nama Sonic Bloom, bunga-bunga ini akan menyala dalam warna-warni memukau selama lima jam setiap malam. Tak jauh dari Sonic Bloom berada, tepatnya di dalam Pacific Science Center, Anda juga bisa menemukan informasi real-time tentang jumlah energi listrik yang dihasilkan oleh Sonic Bloom.

     

    • Solar Intersections

    Masih di Amerika Serikat, tepatnya di wilayah Davis, California, terdapat karya seni bernama Solar Intersections yang juga memanfaatkan solar panel. Dibangun pada 1989, instalasi seni buatan Robert Behrens ini merupakan pilar-pilar setinggi kurang-lebih 21 meter yang terbuat dari baja. Setiap pilar dicat menggunakan perekat khusus dan dilapisi dengan solar panel. 

    Selama pagi hingga sore hari, Solar Intersections terlihat berwarna putih polos biasa, tapi akan berubah jadi warna-warni menarik setelah mendapat aliran tenaga listrik dari solar panel yang dipasang.

    • Solar Peace Sculptures

    Pada 1958, seniman Geral Holtom menciptakan simbol perdamaian (peace) setelah pelucutan senjata nuklir resmi dilakukan. Cerita inilah yang menjadi inspirasi Fred George dalam membuat Solar Peace Sculptures, sebuah karya seni yang terdiri dari beberapa barel minyak daur ulang. Tiap barel dipasangi solar panel yang dibentuk menyerupai simbol peace tersebut.

    Agak berbeda dari sejumlah karya seni sebelumnya, Solar Peace Sculptures tidak berdiri di satu tempat tetap. Karya seni setinggi 17,6 meter ini berpindah ke berbagai tempat untuk menyebarkan awareness—terutama kepada anak muda—terhadap energi terbarukan. Kerennya lagi, sinar matahari yang diserap oleh Solar Peace Sculptures dapat disalurkan sebagai energi listrik ke jaringan kota tempat ia berada.

    • Solar Sun-Catcher

    Bernama Solar Sun-Catcher, karya seni satu ini terbuat dari aluminium daur ulang dengan panel lucite berwarna kuning terang. Melalui panel surya yang terpasang, Solar Sun-Catcher menghasilkan energi listrik dari sinar matahari untuk menerangi instalasi seni sekaligus mengalirkannya ke jaringan listrik Kota Clearwater, Florida, Amerika Serikat—tempat Solar Sun-Catcher berada.

    Didesain oleh Deedee Morrison bersama studionya, Morrison Studion, instalasi Solar Sun-Catcher dibangun sebagai bagian dari program seni Sculpture360 yang ada di Florida. Program ini diadakan oleh Program Seni dan Desain Publik Clearwater, yang bekerja sama dengan Downtown Development Board.

    • The Ra

    Seorang seniman asal Belanda, Marjan van Aubel, menyusun sel-sel fotovoltaik warna-warni dalam pola geometrik hingga tercipta karya seni solar panel yang bisa dipajang di rumah. Van Aubel memberi nama Ra, yang diambil dari nama Dewa Matahari Mesir Kuno. 

    Dengan ketebalan kurang dari 1 mm, Ra memiliki desain tembus pandang dan dapat dipasang pada jendela, sehingga akan menghasilkan bayangan artistik pada dinding sekitarnya seiring dengan perubahan cahaya sepanjang hari.

    • Shala. 

    Selama ini, kebanyakan panel surya dipasang di atap bangunan tanpa terlalu memikirkan aspek estetika. Menyadari hal tersebut, seniman bernama Shala Akintunde (Shala.) pun melakukan berbagai proyek seni dengan melibatkan solar panel; salah satunya termasuk melukis mural pada permukaan panel surya.

    Dengan menciptakan seni indah pada produk yang menghasilkan energi listrik, Shala. percaya hal tersebut bisa menarik perhatian lebih banyak orang untuk menggunakan energi terbarukan. Itulah kenapa kini ia juga menerima komisi untuk mengerjakan mural pada solar panel. 

     

    Betapa kreatifnya seniman-seniman di atas dalam mengubah panel surya menjadi bentuk karya seni indah. Hal ini tidak terlepas dari akses ke solar panel yang semakin tahun semakin mudah. Bahkan jika Anda ingin menggunakan solar panel untuk PLTS Atap di rumah, Anda bisa dengan mudah mencari jasa pemasangan panel surya terdekat melalui direktori SolarHub.

    Tak hanya itu, Anda juga bisa menggunakan kalkulator SolarHub untuk menghitung kebutuhan panel surya yang sebaiknya Anda pasang. Bersama SolarHub, memasang solar panel di rumah jadi semakin praktis dan mudah!

     

    Referensi:

    https://byshala.com/solarart

    https://www.dezeen.com/2022/01/26/ra-marjan-van-aubel-tapestry/

    http://jpsolar.com/2020/07/15/3-amazing-art-installations-inspired-by-solar-energy/

    https://cleantechnica.com/2013/05/08/11-must-see-art-installations-inspired-by-solar-panels/

    https://www.thecoolist.com/solar-bulb-installations/

    https://www.thecivilengineer.org/news/art-in-photovoltaics-world-s-first-solar-panel-mural-installation-is-a-reality

    https://iesr.or.id/memacu-pemanfaatan-energi-surya-di-indonesia 

    https://www.statista.com/topics/993/solar-pv/#topicOverview

    https://www.solarfeeds.com/mag/the-sun-catcher-solar-light-sculpture/

  • 6 Lokasi Wisata yang Menggunakan Panel Surya untuk Sumber Energinya

    6 Lokasi Wisata yang Menggunakan Panel Surya untuk Sumber Energinya

    Pemerintah Indonesia memiliki target untuk mencapai bauran energi terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025. Namun, target tersebut baru tercapai 12,3% per tahun 2022 lalu. Demi meningkatkan bauran EBT, pemerintah pun melakukan berbagai upaya; salah satunya adalah memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berupa panel surya di berbagai tempat wisata di Indonesia.

    6 Tempat Wisata yang Menggunakan Panel Surya

    Tidak hanya untuk mempercepat pencapaian target bauran EBT, pemasangan panel surya di juga mendukung infrastruktur di tempat-tempat wisata. Dari sekian banyak tempat wisata yang ada di Indonesia, berikut beberapa di antaranya yang telah dilengkapi sistem solar panel.

    • Wisata Bukit Tinatar Piyungan

    Bukit Tinatar merupakan tempat wisata alam yang berada di Desa Srimulyo, Piyungan, Bantul. Dikelola oleh Desa Srimulyo, wisata satu ini menyajikan suasana alam khas bukit dengan pemandangan Jalan Wonosari. Sebagai salah satu upaya untuk mendukung green tourism di Wisata Bukit Tinatar, maka dipasanglah PLTS.

    Pemasangan PLTS di Wisata Bukit Tinatar dilakukan oleh Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta melalui Program Kemitraan Wilayah (PKW) 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kemendikbudristek. Memiliki kapasitas 100 WP, PLTS di Wisata Bukit Tinatar mampu menghidupkan tiga lampu yang terdapat di area wisata. 

    • Pantai Sendiki

    Berada di Desa Tambakrejo, Sumbermanjing, Malang, Pantai Sendiki berada cukup jauh dari area pemukiman warga sehingga belum mendapat akses listrik PLN. Namun, kini masalah tersebut telah teratasi berkat pemasangan panel surya sebagai PLTS di sejumlah titik area pantai, seperti jalan setapak dan atap warung. Berkapasitas 100 WP, solar panel di Pantai Sendiki mampu memberikan penerangan hingga 10 jam di setiap rumah pohon, kamar mandi, musala, hingga pos penjagaan. 

    • Kepri Coral Resort

    Jika mengunjungi Kepri Coral Resort di Batam, Kepulauan Riau, Anda akan menemukan banyak panel surya yang terpasang di area dermaga dan jalanan sepanjang pulau. Pemasangan solar panel ini mampu memenuhi hampir seluruh keperluan listrik di Kepri Coral Resort, termasuk listrik untuk 112 dome village. Ketika tamu penuh saat peak season, kebutuhan listrik akan dibantu dengan menggunakan genset.

    Dari seluruh solar panel yang terpasang, arus listrik dipusatkan di satu area untuk memenuhi kebutuhan Kepri Coral Resort. Pemasangan ini juga tidak terlepas dari komitmen Kepri Coral Resort untuk menyediakan resor berkonsep alamiah. Nah, penggunaan energi terbarukan merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan komitmen tersebut.

    • Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan

    Pemanfaatan panel surya sebagai PLTS juga bisa Anda temukan di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Setiap tempat memiliki PLTS dengan kapasitas berbeda, yaitu 600 kWp di Gili Trawangan, 160 kWp di Gili Air, dan 60 kWp di Gili meno; 

    Dengan kata lain, total kapasitas PLTS untuk ketiga tempat wisata di Lombok tersebut mencapai 820 kWp. Setiap harinya, ketiga PLTS tersebut beroperasi sejak pukul tujuh pagi hingga lima sore, sedangkan kebutuhan listrik untuk malam hari dipenuhi oleh jaringan PLN.

    Seluruh solar panel tersebut ditata dengan rapi sehingga menciptakan pemandangan yang menarik. Alhasil, kehadiran PLTS pun bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata tambahan di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Para pengunjung dapat mengamati jajaran PLTS tersebut dari luar pagar.

    • Pantai Sembilan

    Lokasi wisata satu ini memiliki nasib yang mirip dengan Pantai Sendiki, yakni berada di area terpencil sehingga tidak terjangkau akses listrik dari jaringan PLN. Bedanya, apabila Pantai Sendiri berada di Malang, maka Pantai Sembilan berlokasi di Gili Genting, Sumenep, Madura. 

    Kabar baiknya, kondisi tersebut berubah berkat hibah panel surya dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya pada 2017. Sejak saat itu, Pantai Sembilan memiliki aliran listrik sehingga semakin ramai pengunjung. Pihak pengelola memasang solar panel tersebut di berbagai area strategis pantai, seperti di bagian atap gazebo dan atap bangunan penginapan. 

    • Pulau Derawan

    Pulau Derawan sudah lama dikenal sebagai salah satu wisata dalam negeri yang memiliki keindahan alam bawah laut memukau. Demi menarik lebih banyak wisatawan, pihak pengelola pun mengembangkan Pulau Derawan sebagai green island. Mendukung hal tersebut, PLN membangun PLTS di area Pulau Derawan sebagai salah satu bentuk komitmen untuk mencapai Net Zero Emission 2060 melalui penggunaan EBT.

    Proyek PLTS Derawan pun dimulai pada 2012. Saat itu, kapasitas daya listrik maksimumnya masih mencapai 80 kWp untuk memenuhi kebutuhan listrik penduduk di Kepulauan Derawan. Namun, perbaikan dan pengembangan PLTS Derawan terus dilakukan demi menyuplai listrik yang lebih stabil bagi penduduk sekitar. Rencananya, revitalisasi PLTS Derawan akan dilakukan agar bisa menambah kapasitas listrik hingga 190 kWp.

     

    Ikut bangga rasanya melihat semakin banyak tempat wisata di Indonesia yang menggunakan panel surya sebagai sumber energi. Dengan mengunjungi tempat-tempat di atas, secara tidak langsung Anda pun sudah ikut berupaya melawan krisis iklim melalui dukungan terhadap green tourism. Namun, jika belum mendatangi berbagai tempat wisata di atas, Anda tetap bisa melawan krisis iklim dengan memasang PLTS Atap untuk rumah tangga. 

    Agar pemasangannya tepat sasaran, gunakan kalkulator SolarHub untuk menghitung kebutuhan panel surya Anda. Selanjutnya, segera cari perusahaan dan jasa pemasangan solar panel di direktori SolarHub. Kalau masih ingin cari tahu lebih banyak tentang PLTS Atap, Anda bisa klik di sini. Yuk, bersama-sama melawan krisis iklim dengan bantuan SolarHub!

     

    Referensi:

    https://lldikti5.kemdikbud.go.id/home/detailpost/ujb-aplikasikan-listrik-tenaga-surya-di-lokasi-wisata-bukit-tinatar-piyungan

    https://lautsehat.id/gaya-hidup/annisa/panel-surya-untuk-listrik-berkelanjutan-di-pantai-daerah-terpencil/

    https://www.mongabay.co.id/2020/12/17/matahari-penuhi-keperluan-energi-obyek-wisata-di-pulau-pengalap/

    https://web.pln.co.id/cms/media/2022/10/pln-operasikan-plts-pulau-derawan-di-kalimantan-kawasan-wisata-unggulan-makin-menawan/

    https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/02/14/kawasan-wisata-lombok-kini-gunakan-plts

    https://iesr.or.id/pemerintah-perlu-rombak-strategi-untuk-kejar-bauran-energi-terbarukan-23-di-2025

  • Apa Saja Komponen dalam Sistem Panel Surya untuk Rumah?

    Apa Saja Komponen dalam Sistem Panel Surya untuk Rumah?

    Pemasangan PLTS Atap untuk rumah dapat memberi banyak keuntungan. Karena mengandalkan sinar matahari sebagai sumber energi, PLTS Atap jadi bisa membantu Anda menghemat tagihan listrik. Namun, agar dapat memproduksi listrik secara optimal, dan menjalankan fungsinya dengan baik, sistem panel surya untuk rumah didukung oleh berbagai komponen penting. Apa saja komponen-komponen tersebut?

    6 Komponen Panel Surya untuk Rumah

    Jika dijelaskan secara sederhana, panel surya inilah yang memungkinkan PLTS Atap untuk mengubah sinar matahari menjadi listrik di rumah Anda. Nah, proses tersebut tidak akan terjadi tanpa komponen-komponen penting berikut ini:

    1. Panel Surya

    Ini dia komponen utama pada sistem panel surya untuk rumah. Dalam solar panel, sejumlah sel-sel surya membentuk kesatuan panel yang terintegrasi satu sama lain. Tiap sel surya memiliki komponen fotovoltaik yang mampu mengubah sinar matahari menjadi listrik. 

    Sementara itu, komponen fotovoltaik sendiri terdiri atas dua lapis material semikonduktor, umumnya silikon. Ketika panel surya terkena pancaran sinar matahari, material semikonduktor itulah yang akan menyerapnya. 

    Kemudian, sel semikonduktor akan memecah sumber energi matahari menjadi ion positif dan negatif. Ion positif bergerak menuju ion negatif yang ada pada panel surya. Sementara itu, ion positif bergerak menuju ion positif pula melalui lapisan-lapisan yang terdapat dalam panel surya. Proses ini menghasilkan arus listrik DC, yang akan dialirkan ke komponen lain agar bisa dipakai sebagai sumber energi listrik.

    2. Substrat

    Berperan sebagai kontak terminal bermuatan positif, komponen satu ini berfungsi menopang keseluruhan komponen yang ada dalam panel surya. Karenanya, material substrat harus memiliki konduktivitas listrik yang baik agar bisa menjalankan seluruh fungsi dengan lancar. Idealnya, material yang dipakai untuk menyusun komponen substrat adalah metal atau logam seperti molybdenum atau aluminium.

    3. Komponen Enkapsulasi

    Karena diletakkan di outdoor, sistem panel surya untuk rumah pun bisa kena hujan atau kotoran. Nah, komponen enkapsulasi inilah yang bertugas melindungi panel surya dari hujan maupun kotoran lain.

    Dengan perlindungan dari enkapsulasi, komponen-komponen tersebut bisa terawat walaupun harus menghadapi angin, hujan, kelembapan, suhu ekstrem, hingga radiasi ultraviolet. Jadinya, panel surya akan awet dan dapat digunakan hingga lebih dari 20 tahun.

    4. Multi Circuit Breaker

    Pada sistem panel surya untuk PLTS Atap, Anda juga akan menemukan multi circuit breaker (MCB). Komponen satu ini berperan mengatur distribusi listrik untuk menghindari terjadinya kelebihan beban maupun hubungan singkat arus listrik (korsleting). Jadi, apabila terdeteksi adanya arus listrik yang melebihi batas, MCB akan memutus arus tersebut secara manual atau otomatis.

    Sebagai contoh, katakanlah sebuah MCB pada sistem panel surya mempunyai batas arus listrik maksimal 5A. Namun, arus listrik yang melewati MCB tersebut adalah 6A. Maka dari itu, MCB akan trip dengan delay waktu cukup lama sejak ia menemukan adanya arus listrik berlebihan.

    5. Inverter

    Umumnya, sistem panel surya untuk rumah zaman sekarang sudah dilengkapi dengan inverter. Komponen ini mampu menghasilkan 12 Volt DC dan 220 Volt AC yang disimpan dalam baterai. Bahkan, inverter juga bisa mengisi daya baterai apabila terhubung dengan generator power. Dengan adanya listrik yang tersimpan dalam baterai, Anda pun bisa menggunakan listrik tersebut untuk beraktivitas pada malam hari.

    Berkat adanya inverter, sistem panel surya dapat mencegah kelebihan pengisian daya. Dengan proses pengisian daya yang terkontrol, performa dan usia pakai baterai pun akan terjaga sehingga mencegah risiko kerusakan.

    6. kWh Meter Ekspor-Impor (Meteran Exim)

    kWh meter ekspor-impor merupakan perangkat untuk mengkalkulasi arus listrik yang masuk dari jaringan PLN ke konsumen (impor), sekaligus mengukur arus listrik yang keluar dari jaringan PLTS Atap milik konsumen ke jaringan PLN (ekspor).

    Disebut juga dengan meteran exim, komponen satu ini akan menghitung nominal tagihan yang harus Anda bayarkan sebagai konsumen. Caranya adalah dengan membandingkan hasil ekspor-impor dari meteran exim yang terpasang. Jadi, melalui meteran exim ini, Anda bisa tahu total listrik yang dihasilkan panel surya sekaligus jumlah listrik yang masih Anda butuhkan dari jaringan PLN.

     

    Agar sistem panel surya untuk rumah dapat berfungsi dengan semestinya, keberadaan komponen-komponen di atas begitu penting. Maka dari itu, tidak ada salahnya untuk mengecek kelengkapan komponen panel surya sebelum pemasangan berlangsung. 

    Lalu, agar panel surya dapat memenuhi kebutuhan listrik Anda secara optimal, hitung dulu kebutuhan panel surya Anda dengan menggunakan kalkulator SolarHub. Baru setelah itu gunakan direktori SolarHub untuk menemukan perusahaan maupun penyedia jasa pemasangan panel surya. Tapi kalau masih ingin mempelajari lebih lanjut soal PLTS Atap, Anda bisa klik di sini!

     

    Referensi:

    https://www.hexamitra.co.id/plts-rooftop-surya-atap-ongrid.php?p=perangkat-komponen-plts-rooftop-efisiensi-listrik-tagihan-pln-surya-atap

    https://www.lensolar.co.id/mengetahui-komponen-utama-plts-atap-on-grid-bersama-lensolar/

    https://pasangpanelsurya.com/komponen-plts-atap/

    https://pasangpanelsurya.com/plts-atap-pengertian-prinsip-kerja-komponen-mekanisme/

    https://kumparan.com/solar-kita/kenali-ini-komponen-komponen-pembangkit-listrik-tenaga-surya-atap-1yHweyhznED/full

    https://media.solarkita.com/index.php/2022/06/20/mengenal-fungsi-fungsi-komponen-dalam-panel-surya-atap/