Pernah terbayangkan tidak, jika kehidupan sehari-hari kita yang bergantung dengan listrik seperti dirumah, disekolah, di tempat ibadah, atau bahkan di jalan sekalipun bisa terpenuhi oleh sinar matahari yang bisa dinikmati tiap harinya? Memang terdengarnya seperti masa depan, tapi itu sudah benar-benar terjadi saat ini di Indonesia. Selain mempunyai sumber daya energi yang melimpah, Indonesia merupakan negara yang beruntung karena terletak di katulistiwa, sehingga memiliki daya penyinaran matahari yang melimpah sepanjang tahunnya.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang biasa dijumpai di proyek-proyek skala besar pemerintah atau perusahaan, kini bisa ditemui di rumah tangga, fasilitas sosial, bahkan desa terpencil di Indonesia. Dari perkotaan hingga pedesaan, PLTS hadir sebagai solusi untuk kebutuhan energi yang bersih, terjangkau, dan berkelanjutan. Besarnya potensi energi surya di Indonesia, diperkirakan mencapai 207,8 gigawatt-peak (IESR, 2021), mampu menjadi peluang yang besar untuk di bangun PLTS. Selain pemerintah dan perusahaan besar, saat ini sudah banyak orang yang menggunakan energi surya sebagai sumber energi utama, seperti UMKM, institusi pendidikan, dan fasilitas sosial. Hal ini membuktikan bahwa energi surya mampu dimanfaatkan oleh siapa saja dan dimana saja.
PLTS untuk Skala Rumah Tangga
Bagi sebagian orang Indonesia, tagihan listrik adalah salah satu pengeluaran yang cukup besar tiap bulannya ditambah saat ini semua teknologi rumah tangga menggunakan listrik sebagai sumber energinya. Disisi lain, sinar matahari yang dijumpai setiap hari merupakan salah satu sumber energi mandiri yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Hal inilah yang membuat PLTS semakin diminati oleh sektor rumah tangga. Dengan mengaplikasikan PLTS dirumah, pemilik rumah bisa menghasilkan listrik sendiri dan memanfaatkannya untuk mengurangi tagihan listrik bulanan sekaligus ikut menggunakan energi bersih berkelanjutan. Listrik yang dihasilkan oleh PLTS mampu menyediakan energi untuk penerangan dan alat elektronik seperti kipas angin dan televisi. Selain itu juga panas dari tenaga surya dapat dimanfaatkan untuk pemanas air.
Adapun tantangan utama PLTS atap untuk sektor rumah tangga yaitu kebijakan net-metering yang berubah dari yang sebelumnya yaitu skema ekspor-impor listrik kini dibatasi atau dihapus, sehingga kelebihan energi dari siang hari tidak lagi bisa dikonversi menjadi kredit tagihan. Selain itu, investasi instalasi sistem on-grid tanpa baterai masih terbilang cukup mahal bisa berkisar Rp 14–18 juta per kWp apalagi sistem dengan baterai tentu jauh lebih mahal dan kurang menguntungkan bagi rumah tangga biasa.
PLTS untuk Skala UMKM dan Industri
Industri dan UMKM di Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi sekaligus penyumbang konsumsi energi yang besar. Untuk menekan biaya operasional dan mendukung keberlanjutan, banyak pelaku usaha mulai memanfaatkan PLTS. Beberapa perusahaan besar seperti Unilever Indonesia telah mengoperasikan PLTS atap di pabrik Cikarang dengan kapasitas 2,5 MWp, yang mampu memangkas emisi karbon hingga 1.500 ton CO₂ per tahun (Unilever, 2023) dan Danone-AQUA telah menggunakan PLTS sebesar 2.900 kWp untuk kebutuhan energi bersih mereka (ekonomi.bisnis.com, 2020). Sementara itu, UMKM mulai melihat peluang PLTS sebagai solusi hemat energi dengan citra usaha yang lebih ramah lingkungan, terutama dengan adanya skema sewa atau kerja sama penyedia layanan PLTS.
Di sisi regulasi, pemerintah terus mendorong adopsi PLTS dengan menyempurnakan kebijakan seperti skema net-metering dan penghapusan capacity charge yang memberatkan. Hal ini membuka jalan bagi pelaku industri dan UMKM untuk lebih mudah beralih ke energi bersih. Meskipun tantangan seperti biaya awal dan keterbatasan informasi masih ada, hadirnya banyak penyedia solusi PLTS yang menawarkan paket lengkap membuat adopsi teknologi ini semakin realistis dan menjanjikan ke depan.
PLTS untuk Fasilitas Sosial: Sekolah, Masjid, Rumah Sakit
Fasilitas sosial seperti sekolah, masjid, dan rumah sakit memiliki kebutuhan listrik yang stabil setiap hari, namun sering menghadapi keterbatasan anggaran operasional. PLTS menjadi solusi ideal karena dapat menyuplai energi secara mandiri, mengurangi beban biaya listrik rutin, dan mendukung aktivitas layanan publik tanpa gangguan. Misalnya, di Jawa Barat terdapat tujuh sekolah negeri seperti SMAN 1 Cianjur dan SMKN 1 Garut yang telah memasang PLTS atap untuk mendukung penghematan operasional dan edukasi siswa tentang energi bersih (Detik, 2024). Di sisi lain, sejumlah masjid di berbagai kota seperti Masjid Al Muharram di Bantul, Yogyakarta sudah memasang PLTS dengan kapasitas 4.280 Wp dan telah memenuhi 100% kebutuhan listrik masjid (tajdid.id, 2023). Masjid Istiqlal Jakarta sudah memasang 504 panel surya, mengurangi 16% konsumsi listrik dan menurunkan biaya hingga 20% (SIEJ, 2022).
Pemanfaatan PLTS di rumah sakit juga menunjukkan potensi besar, terutama sebagai sumber energi cadangan yang stabil. Beberapa rumah sakit rujukan dan puskesmas di daerah terpencil telah menggunakan PLTS hybrid (dengan baterai) untuk memastikan alat-alat medis vital tetap berfungsi saat listrik PLN padam. Selain menghemat biaya operasional, inisiatif ini juga menjadi contoh edukatif bagi masyarakat bahwa transisi energi dapat dimulai dari fasilitas-fasilitas publik terdekat.
PLTS untuk Pertanian dan Pedesaan
Di sejumlah desa pertanian di Indonesia, energi surya telah menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan ketersediaan air irigasi. Di Desa Nanjungan, Kabupaten Lahat (Sumatera Selatan), PLTS irigasi berkapasitas 27,5 kWp yang dipasang oleh PT Bukit Asam sejak Juni 2022 berhasil menyuplai pompa irigasi bagi lahan seluas 83 hektar. Sekelompok petani kini bisa panen hingga tiga kali setahun, meningkat signifikan dari sebelumnya hanya satu kali, dan biaya pengairan turun dari Rp 1.500.000 menjadi Rp 1.000.000 per hektar (Republika, 2021). Selain itu, di Desa Sumbersari, Sleman, program PLTS berbasis komunitas untuk irigasi dan budidaya ikan juga telah memperkuat ekonomi lokal melalui pelatihan, keterlibatan warga, dan pemanfaatan panel plus pompa air yang mendukung produksi pertanian serta perikanan setempat (Jurnal PESARE, 2024).
Melihat berbagai pemanfaatan tenaga surya di berbagai sektor menunjukkan bahwa energi surya bukan hanya alternatif, tetapi solusi nyata untuk mendukung transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan dukungan regulasi, pembiayaan yang terjangkau, serta peningkatan literasi energi, pemanfaatan PLTS dapat terus diperluas dan dimaksimalkan di seluruh penjuru Indonesia. Kini saatnya tenaga surya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, menuju masa depan energi yang lebih bersih dan mandiri.


Leave a Reply