Category: Gaya Hidup

Aktivitas, profil tokoh, values, tren yang menunjukkan penggunaan PLTS Atap adalah lifestyle yang bijak dan keren.

  • Mau Pasang Panel Surya? Jangan Asal! Ada Regulasi yang Wajib Kamu Tahu

    Mau Pasang Panel Surya? Jangan Asal! Ada Regulasi yang Wajib Kamu Tahu

    Pernah terpikir memasang panel surya di rumah agar tagihan listrik lebih hemat? Banyak orang langsung fokus menghitung penghematan biaya, tetapi sering lupa satu hal penting: ternyata memasang panel surya tidak selalu bisa dilakukan begitu saja. Ada aturan yang perlu dipahami sejak awal agar investasi yang dikeluarkan tidak berujung masalah.

     

    Saat ini, penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS Atap di Indonesia sudah diatur oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024. Regulasi ini mengatur bagaimana sistem panel surya dipasang, dioperasikan, hingga terhubung dengan jaringan listrik PLN. Jadi, sebelum membeli panel atau memilih instalator, ada baiknya memahami aturan mainnya terlebih dahulu.

     

    Hal pertama yang perlu diketahui adalah perbedaan antara sistem on grid dan off grid. Sistem on grid terhubung dengan jaringan PLN, sedangkan sistem off grid berdiri sendiri menggunakan baterai tanpa terhubung ke jaringan PLN. Perbedaan ini penting karena proses administrasi dan persyaratan teknisnya juga berbeda.

     

    Jika kamu ingin memasang sistem on grid, maka pengajuan ke PLN menjadi langkah yang wajib dilakukan. PLN akan melakukan pemeriksaan terhadap kapasitas jaringan dan kuota PLTS yang tersedia di wilayah tersebut. Tujuannya adalah memastikan sistem yang dipasang tidak mengganggu keandalan jaringan listrik yang sudah ada.

     

    Menariknya, aturan terbaru juga mengubah skema yang sebelumnya cukup populer, yaitu ekspor impor listrik atau net metering. Dulu, listrik berlebih yang dihasilkan panel surya dapat diperhitungkan untuk mengurangi tagihan listrik. Kini, kelebihan energi yang disalurkan ke jaringan tidak lagi menjadi pengurang tagihan pelanggan. Karena itu, perencanaan kapasitas PLTS menjadi semakin penting agar energi yang dihasilkan benar benar dimanfaatkan untuk kebutuhan sendiri.

     

    Selain itu, pemerintah juga menerapkan sistem kuota pengembangan PLTS Atap. Artinya, meskipun kamu siap memasang panel surya, persetujuan tetap bergantung pada ketersediaan kuota di jaringan PLN pada wilayah tersebut. Kuota ini dipublikasikan secara berkala dan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam proses persetujuan pemasangan.

     

    Lalu bagaimana dengan sistem off grid? Kabar baiknya, sistem yang tidak terhubung ke PLN umumnya tidak memerlukan izin interkoneksi dengan PLN. Namun bukan berarti bisa dipasang sembarangan. Instalasi tetap harus mengikuti standar keselamatan kelistrikan nasional agar aman digunakan dalam jangka panjang. Instalasi yang tidak sesuai standar berisiko menimbulkan gangguan hingga bahaya kebakaran.

     

    Hal lain yang sering terlewat adalah penggunaan tenaga instalator yang kompeten dan tersertifikasi. Panel surya bukan sekadar memasang modul di atap, tetapi juga melibatkan sistem proteksi, inverter, kabel, serta integrasi dengan instalasi listrik rumah. Memilih penyedia jasa yang berpengalaman akan membantu memastikan sistem bekerja optimal sekaligus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku.

     

    Pada akhirnya, panel surya memang bisa menjadi solusi hemat energi sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih. Namun, keputusan terbaik bukan hanya memilih panel yang bagus, melainkan memastikan seluruh proses pemasangan dilakukan sesuai regulasi. Dengan memahami aturan sejak awal, kamu bisa menikmati manfaat energi surya dengan lebih aman, nyaman, dan tanpa kendala administrasi di kemudian hari. Tertarik memasang PLTS Atap? Kunjungi Solarhub.id  untuk mendapatkan informasi dan solusi energi surya yang sesuai dengan kebutuhanmu.

     

  • Mitos vs Fakta :  Produksi Listrik PLTS Atap Bisa Turun Drastis Saat Cuaca Panas Terik?

    Mitos vs Fakta : Produksi Listrik PLTS Atap Bisa Turun Drastis Saat Cuaca Panas Terik?

    Banyak orang berpikir kalau cuaca sedang cerah dan panas, maka panel surya akan menghasilkan listrik paling banyak. Tapi faktanya, justru di saat matahari sedang terik-teriknya, produksi listrik dari PLTS Atap bisa menurun cukup signifikan. Kok bisa begitu? Bukannya makin panas matahari, makin banyak listriknya?

    Ternyata, panel surya bekerja dengan menangkap cahaya, bukan panas. Jadi walaupun sinar matahari kuat, temperatur yang terlalu tinggi justru membuat panel jadi kurang efisien. Menurut National Renewable Energy Laboratory (NREL), setiap kenaikan suhu 1°C di atas temperatur standar (25°C) bisa menurunkan efisiensi panel sebesar 0,3%–0,5%. Artinya, jika temperatur panel mencapai 60°C hal yang sering terjadi di siang hari tropis  produksi listrik bisa turun sampai 15%.

    Panas berlebih mengganggu kinerja sel silikon dalam panel. Temperatur tinggi dapat menurunkan tegangan terbuka (open circuit voltage) dan daya keluaran panel meskipun intensitas cahaya tetap tinggi. Dengan kata lain, semakin panas permukaan panel, maka listrik yang dihasilkan akan semakin sedikit. (Wang et al., 2024)

    Selain menurunkan efisiensi, temperatur ekstrem juga bisa mempercepat kerusakan material panel. Panas menyebabkan ekspansi dan tekanan pada lapisan silikon, yang dalam jangka panjang mempercepat degradasi. Karena itu, banyak sistem PLTS modern kini menggunakan desain dengan celah udara di bawah panel agar panas bisa keluar lebih cepat. Panel dengan sistem pendinginan udara (air cooling) mampu meningkatkan efisiensi hingga 17% dibanding panel tanpa pendingin. (Mustafa et al., 2024)

    Faktor cuaca lain juga berperan, seperti angin dan kelembapan. Ketika angin lemah, panas sulit keluar dari permukaan panel sehingga temperatur meningkat lebih cepat. Kecepatan angin yang cukup membantu menurunkan temperatur panel dan menjaga kinerjanya tetap stabil. Namun, kondisi ini bukan berarti PLTS Atap tidak cocok untuk wilayah tropis seperti Indonesia. Dengan desain dan perawatan yang tepat, dampak panas bisa diminimalkan. Gunakan panel dengan koefisien temperatur rendah, pastikan ventilasi cukup, dan rutin membersihkan permukaannya agar debu tidak membuat panel makin panas.

    Sebagai contoh, studi lapangan oleh tim dari Institut Teknologi Bandung menemukan bahwa PLTS Atap dengan celah ventilasi sekitar 10 cm di bawah panel mampu menghasilkan listrik 7% lebih banyak pada hari-hari panas dibandingkan sistem tanpa ventilasi. Ini menunjukkan bahwa desain sederhana bisa berdampak besar pada efisiensi sistem.

    Jadi, kalau kamu sudah atau berencana memasang PLTS Atap, jangan hanya fokus pada seberapa terangnya matahari. Ingat, cuaca terlalu panas bisa bikin listrik justru turun! Pastikan sistem punya ruang cukup untuk “bernapas” agar tetap efisien, bahkan saat cuaca sedang sangat cerah.

  • Ingin Memasang PLTS di Rumah? Waspada, Kebutuhan Setiap Rumah Tidak Sama

    Ingin Memasang PLTS di Rumah? Waspada, Kebutuhan Setiap Rumah Tidak Sama

    Pernah terpikir kalau pasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di rumah itu hanya cukup membeli panel, pasang di atap, lalu selesai? Ternyata, anggapan itu keliru. Banyak orang salah kaprah karena mengira semua rumah punya kebutuhan listrik yang sama. Padahal, setiap rumah punya pola pemakaian energi berbeda, dan inilah yang menentukan seberapa besar kapasitas PLTS yang sebenarnya dibutuhkan.

    Jangan kaget kalau tagihan listrik rumah tetangga bisa turun drastis setelah pasang PLTS, sementara di rumah Anda hasilnya tidak seberapa. Rahasianya ada pada analisis kebutuhan energi harian. Rumah dengan penggunaan AC sepanjang hari tentu membutuhkan kapasitas lebih besar dibanding rumah yang hanya menggunakan kipas angin. Jadi, sebelum buru-buru pasang, penting untuk tahu dulu karakter konsumsi listrik di rumah Anda.

    Coba bayangkan rumah dengan daya listrik 900 VA yang rata-rata mengkonsumsi 100–150 kWh per bulan. Jika menggunakan PLTS 1 kWp, sistem ini bisa menghasilkan sekitar 120–140 kWh per bulan (tergantung lokasi). Artinya, rumah ini bisa hampir sepenuhnya tercukupi dengan PLTS. Tapi berbeda cerita dengan rumah berdaya 2200 VA yang rata-rata butuh 250–300 kWh per bulan tentu butuh kapasitas PLTS lebih besar, minimal 2–3 kWp.

    Jangan heran kalau ada rumah yang bisa menekan tagihan listrik hingga setengahnya setelah pasang PLTS, sementara rumah lain nyaris tidak merasakan perubahan. Perbedaan ini terjadi karena pola penggunaan listrik tidak sama. Rumah dengan AC 1 PK yang menyala 8 jam per hari bisa menghabiskan 200–250 kWh per bulan hanya untuk pendingin ruangan saja. Jika kapasitas PLTS hanya 1 kWp, tentu tidak akan cukup menutupi beban sebesar itu.

    Lokasi juga memainkan peran besar. Rata-rata di Indonesia, setiap 1 kWp panel surya bisa menghasilkan sekitar 4–5 kWh per hari. Jadi, rumah dengan atap cukup luas dan orientasi ke utara selatan tanpa halangan pepohonan bisa memaksimalkan produksi listrik. Sebaliknya, atap yang terhalang gedung atau miring ke arah barat akan mengurangi produksi hingga 20–30%.

    Gaya hidup penghuni rumah juga ikut menentukan. Keluarga yang banyak beraktivitas di malam hari, misalnya, tentu membutuhkan tambahan baterai penyimpanan. Tanpa baterai, listrik dari PLTS hanya bisa digunakan siang hari. Dengan baterai 5 kWh, misalnya, listrik siang bisa disimpan untuk dipakai malam hari sehingga pemanfaatannya lebih optimal.

    Bicara soal biaya, perhitungan investasinya pun tidak bisa sembarangan. Harga PLTS atap saat ini berkisar Rp12–15 juta per kWp. Artinya, untuk rumah dengan kebutuhan 2 kWp, diperlukan investasi sekitar Rp24–30 juta. Jika produksi listrik mencapai 250–280 kWh per bulan dan bisa menggantikan sebagian listrik PLN, maka penghematan bisa mencapai Rp300–400 ribu per bulan. Dari skenario ini, perkiraan balik modal atau payback period biasanya 6–8 tahun.

    Memasang PLTS di rumah memang bisa jadi investasi yang menguntungkan, tapi tidak bisa dilakukan dengan asumsi semua rumah sama. Mulai dari kebutuhan listrik, kondisi bangunan, hingga kebiasaan penghuni, semua harus diperhitungkan. Dengan data pemakaian kWh bulanan dan kapasitas PLTS yang sesuai, Anda bisa benar-benar memastikan investasi energi bersih ini memberikan hasil yang optimal.

  • Ragam Pemanfaatan Tenaga Surya di Indonesia

    Ragam Pemanfaatan Tenaga Surya di Indonesia

    Pernah terbayangkan tidak, jika kehidupan sehari-hari kita yang bergantung dengan listrik seperti dirumah, disekolah, di tempat ibadah, atau bahkan di jalan sekalipun bisa terpenuhi oleh sinar matahari yang bisa dinikmati tiap harinya? Memang terdengarnya seperti masa depan, tapi itu sudah benar-benar terjadi saat ini di Indonesia. Selain mempunyai sumber daya energi yang melimpah, Indonesia merupakan negara yang beruntung karena terletak di katulistiwa, sehingga memiliki daya penyinaran matahari yang melimpah sepanjang tahunnya. 

    Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang biasa dijumpai di proyek-proyek skala besar pemerintah atau perusahaan, kini bisa ditemui di rumah tangga, fasilitas sosial, bahkan desa terpencil di Indonesia. Dari perkotaan hingga pedesaan, PLTS hadir sebagai solusi untuk kebutuhan energi yang bersih, terjangkau, dan berkelanjutan. Besarnya potensi energi surya di Indonesia, diperkirakan mencapai 207,8 gigawatt-peak (IESR, 2021), mampu menjadi peluang yang besar untuk di bangun PLTS. Selain pemerintah dan perusahaan besar, saat ini sudah banyak orang yang menggunakan energi surya sebagai sumber energi utama, seperti UMKM, institusi pendidikan, dan fasilitas sosial. Hal ini membuktikan bahwa energi surya mampu dimanfaatkan oleh siapa saja dan dimana saja. 

    PLTS untuk Skala Rumah Tangga

    Bagi sebagian orang Indonesia, tagihan listrik adalah salah satu pengeluaran yang cukup besar tiap bulannya ditambah saat ini semua teknologi rumah tangga menggunakan listrik sebagai sumber energinya. Disisi lain, sinar matahari yang dijumpai setiap hari merupakan salah satu sumber energi mandiri yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Hal inilah yang membuat PLTS semakin diminati oleh sektor rumah tangga. Dengan mengaplikasikan PLTS dirumah, pemilik rumah bisa menghasilkan listrik sendiri dan memanfaatkannya untuk mengurangi tagihan listrik bulanan sekaligus ikut menggunakan energi bersih berkelanjutan. Listrik yang dihasilkan oleh PLTS mampu menyediakan energi untuk penerangan dan alat elektronik seperti kipas angin dan televisi. Selain itu juga panas dari tenaga surya dapat dimanfaatkan untuk pemanas air. 

    Adapun tantangan utama PLTS atap untuk sektor rumah tangga yaitu kebijakan net-metering yang berubah dari yang sebelumnya yaitu skema ekspor-impor listrik kini dibatasi atau dihapus, sehingga kelebihan energi dari siang hari tidak lagi bisa dikonversi menjadi kredit tagihan. Selain itu, investasi instalasi sistem on-grid tanpa baterai masih terbilang cukup mahal bisa berkisar Rp 14–18 juta per kWp apalagi sistem dengan baterai tentu jauh lebih mahal dan kurang menguntungkan bagi rumah tangga biasa.

    PLTS untuk Skala UMKM dan Industri

    Industri dan UMKM di Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi sekaligus penyumbang konsumsi energi yang besar. Untuk menekan biaya operasional dan mendukung keberlanjutan, banyak pelaku usaha mulai memanfaatkan PLTS. Beberapa perusahaan besar seperti Unilever Indonesia telah mengoperasikan PLTS atap di pabrik Cikarang dengan kapasitas 2,5 MWp, yang mampu memangkas emisi karbon hingga 1.500 ton CO₂ per tahun (Unilever, 2023) dan Danone-AQUA telah menggunakan PLTS sebesar 2.900 kWp untuk kebutuhan energi bersih mereka (ekonomi.bisnis.com, 2020). Sementara itu, UMKM mulai melihat peluang PLTS sebagai solusi hemat energi dengan citra usaha yang lebih ramah lingkungan, terutama dengan adanya skema sewa atau kerja sama penyedia layanan PLTS.

    Di sisi regulasi, pemerintah terus mendorong adopsi PLTS dengan menyempurnakan kebijakan seperti skema net-metering dan penghapusan capacity charge yang memberatkan. Hal ini membuka jalan bagi pelaku industri dan UMKM untuk lebih mudah beralih ke energi bersih. Meskipun tantangan seperti biaya awal dan keterbatasan informasi masih ada, hadirnya banyak penyedia solusi PLTS yang menawarkan paket lengkap membuat adopsi teknologi ini semakin realistis dan menjanjikan ke depan.

    PLTS untuk Fasilitas Sosial: Sekolah, Masjid, Rumah Sakit 

    Fasilitas sosial seperti sekolah, masjid, dan rumah sakit memiliki kebutuhan listrik yang stabil setiap hari, namun sering menghadapi keterbatasan anggaran operasional. PLTS menjadi solusi ideal karena dapat menyuplai energi secara mandiri, mengurangi beban biaya listrik rutin, dan mendukung aktivitas layanan publik tanpa gangguan. Misalnya, di Jawa Barat terdapat tujuh sekolah negeri seperti SMAN 1 Cianjur dan SMKN 1 Garut yang telah memasang PLTS atap untuk mendukung penghematan operasional dan edukasi siswa tentang energi bersih (Detik, 2024). Di sisi lain, sejumlah masjid di berbagai kota seperti Masjid Al Muharram di Bantul, Yogyakarta sudah memasang PLTS dengan kapasitas 4.280 Wp dan telah memenuhi 100% kebutuhan listrik masjid (tajdid.id, 2023). Masjid Istiqlal Jakarta sudah memasang 504 panel surya, mengurangi 16% konsumsi listrik dan menurunkan biaya hingga 20% (SIEJ, 2022).

    Pemanfaatan PLTS di rumah sakit juga menunjukkan potensi besar, terutama sebagai sumber energi cadangan yang stabil. Beberapa rumah sakit rujukan dan puskesmas di daerah terpencil telah menggunakan PLTS hybrid (dengan baterai) untuk memastikan alat-alat medis vital tetap berfungsi saat listrik PLN padam. Selain menghemat biaya operasional, inisiatif ini juga menjadi contoh edukatif bagi masyarakat bahwa transisi energi dapat dimulai dari fasilitas-fasilitas publik terdekat.

    PLTS untuk Pertanian dan Pedesaan 

    Di sejumlah desa pertanian di Indonesia, energi surya telah menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan ketersediaan air irigasi. Di Desa Nanjungan, Kabupaten Lahat (Sumatera Selatan), PLTS irigasi berkapasitas 27,5 kWp yang dipasang oleh PT Bukit Asam sejak Juni 2022 berhasil menyuplai pompa irigasi bagi lahan seluas 83 hektar. Sekelompok petani kini bisa panen hingga tiga kali setahun, meningkat signifikan dari sebelumnya hanya satu kali, dan biaya pengairan turun dari Rp 1.500.000 menjadi Rp 1.000.000 per hektar (Republika, 2021). Selain itu, di Desa Sumbersari, Sleman, program PLTS berbasis komunitas untuk irigasi dan budidaya ikan juga telah memperkuat ekonomi lokal melalui pelatihan, keterlibatan warga, dan pemanfaatan panel plus pompa air yang mendukung produksi pertanian serta perikanan setempat (Jurnal PESARE, 2024).

    Melihat berbagai pemanfaatan tenaga surya di berbagai sektor menunjukkan bahwa energi surya bukan hanya alternatif, tetapi solusi nyata untuk mendukung transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan dukungan regulasi, pembiayaan yang terjangkau, serta peningkatan literasi energi, pemanfaatan PLTS dapat terus diperluas dan dimaksimalkan di seluruh penjuru Indonesia. Kini saatnya tenaga surya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, menuju masa depan energi yang lebih bersih dan mandiri.

  • Arah Masa Depan PLTS: Proyeksi 2030 dan Peran Masyarakat dalam Transisi Energi

    Arah Masa Depan PLTS: Proyeksi 2030 dan Peran Masyarakat dalam Transisi Energi

    Bayangkan jika pada tahun 2030, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen energi bersih, tetapi juga pemain utama dalam industri energi surya di Asia Tenggara. Dengan potensi sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun, mengapa perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia masih berjalan lambat? Pertanyaan ini menjadi krusial saat dunia berlomba-lomba keluar dari ketergantungan energi fosil menuju masa depan yang berkelanjutan, dan Indonesia berada di titik kritis dalam memilih arah transisinya.

    Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan RUPTL 2021–2030, kapasitas PLTS Indonesia ditargetkan mencapai 4,7 gigawatt (GW) pada tahun 2030, atau sekitar 5,4% dari total kapasitas pembangkit baru. Di sisi lain, International Renewable Energy Agency (IRENA) bersama Kementerian ESDM dalam skenario 1,5°C menyarankan bahwa Indonesia perlu membangun kapasitas PLTS hingga 65–66 GW untuk memenuhi target pengurangan emisi dan bauran energi terbarukan. Selisih besar antara target nasional dan proyeksi internasional ini menunjukkan bahwa langkah aktual pemerintah masih jauh dari potensi teknis yang dapat dimanfaatkan secara optimal.

    Laporan Indonesia Energy Transition Outlook 2025 dari Institute for Essential Services Reform (IESR) mengungkapkan bahwa porsi PLTS dalam bauran energi nasional masih berada di bawah 1% per 2024. Meskipun pemerintah telah menyusun peta jalan dengan target 23% energi baru terbarukan pada 2025, realisasinya masih tertinggal. IESR mencatat bahwa hanya sekitar 1,89 GW proyek PLTS yang masuk dalam pipeline hingga 2027, yang bahkan belum mencapai 50% dari target jangka menengah. Lambatnya realisasi ini disebabkan oleh kendala regulasi, kepastian tarif yang belum menarik, dan proses perizinan yang kompleks.

    Indonesia memiliki potensi teknis energi surya yang mencapai lebih dari 200 GW, tersebar dari Sabang hingga Merauke. Namun, dalam praktiknya, kapasitas terpasang nasional untuk PLTS pada 2024 baru mencapai sekitar 400 MW. Studi pemodelan menggunakan metode double exponential smoothing bahkan memperkirakan bahwa tanpa intervensi signifikan, kapasitas PLTS hanya akan mencapai sekitar 756 MW pada 2050, jauh dari target ideal yang disarankan IRENA. Ketimpangan antara potensi dan realisasi ini menegaskan perlunya dorongan kebijakan dan investasi yang lebih agresif.

    Peran masyarakat dalam transisi energi sering kali diposisikan sebagai penerima manfaat pasif. Padahal, jika dimaksimalkan, partisipasi publik dapat menjadi penggerak utama dalam peningkatan kapasitas PLTS, khususnya melalui instalasi PLTS atap dan model koperasi energi. Konsep energy democracy mendorong warga menjadi prosumer produsen sekaligus konsumen energi yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap jaringan listrik konvensional. Dengan pendekatan ini, transisi energi menjadi lebih inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan lokal.

    Contoh konkret dari keterlibatan masyarakat terlihat dalam berbagai inisiatif komunitas energi terbarukan di Indonesia, seperti proyek mikrohidro di Kedungrong, Yogyakarta, atau program solar home system di Nusa Tenggara Timur. Melalui pelatihan teknis, pembiayaan mikro, dan penguatan kelembagaan komunitas, warga tidak hanya mendapatkan akses energi, tetapi juga memberdayakan diri secara ekonomi dan sosial. Menurut Asian Power, penguatan peran komunitas dalam transisi energi dapat membuka hingga 96 juta lapangan kerja baru dan menciptakan nilai ekonomi lebih dari USD 600 juta dalam beberapa dekade ke depan.

    Kampus, komunitas kreatif, hingga organisasi pemuda kini mulai menginisiasi kampanye kesadaran energi, audit energi partisipatif, hingga pelatihan teknisi surya bersertifikat di tingkat lokal. Peran ini sangat penting mengingat Indonesia masih menghadapi kekurangan tenaga kerja terlatih di sektor PLTS. Keterlibatan masyarakat dalam bentuk pendidikan energi bahkan tercatat dalam roadmap Just Energy Transition Partnership (JETP) sebagai komponen penting dalam memastikan transisi yang inklusif dan adil.

    Untuk memaksimalkan peran tersebut, dukungan kebijakan harus diarahkan pada pemberdayaan masyarakat, bukan hanya pada sektor korporasi. Kebijakan feed-in tariff yang ramah prosumer, akses kredit lunak untuk rumah tangga, dan regulasi net metering yang fleksibel dapat menjadi insentif kuat. Pemerintah daerah juga dapat memainkan peran katalis melalui program transisi energi berbasis desa atau kelurahan. Jika diberi ruang partisipatif, masyarakat bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi penggerak utama transformasi energi nasional.

    Dengan sinergi antara kebijakan progresif, pendanaan inovatif, dan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama, Indonesia berpotensi mengakselerasi adopsi PLTS secara masif menuju 2030. PLTS bukan hanya teknologi penghasil listrik, melainkan instrumen demokratisasi energi yang mampu memindahkan kekuasaan dari pusat ke masyarakat. Dalam hal ini, masa depan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh megawatt, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat diberdayakan untuk memegang kendali atas energinya sendiri.

  • Selayang Pandang Tenaga Surya di Indonesia: Potensi Kontra Realita

    Selayang Pandang Tenaga Surya di Indonesia: Potensi Kontra Realita

    Indonesia, sebagai negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa, memiliki potensi energi surya yang sangat besar dan merata sepanjang tahun. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi teknis tenaga surya Indonesia mencapai sekitar 3.294 gigawatt-peak (GWp), dengan intensitas rata-rata radiasi matahari mencapai 4,8 kWh/m²/hari (Kementerian ESDM, 2023). Selain itu, potensi khusus Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap diperkirakan mencapai 32,5 GWp (Kompas, 2023). 

    Data dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan estimasi potensi teknis kapasitas PLTS nasional yang lebih luas, berkisar antara 3.396 GWp hingga 19.835 GWp, tergantung pada skenario penggunaan lahan dan pengecualian tertentu (IESR, 2023). Sementara potensi PLTS atap menurut IESR bahkan mencapai sekitar 165,9 GW, jauh melampaui estimasi sebelumnya, yang menunjukkan peluang besar untuk pemanfaatan energi surya di sektor rumah tangga dan industri. Dengan kondisi geografis dan iklim yang menguntungkan ini, energi surya menjadi salah satu kandidat utama dalam strategi dekarbonisasi sektor energi nasional di Indonesia.

    Realisasi pemanfaatan energi surya di Indonesia masih jauh dari optimal. Hingga akhir 2023, kapasitas terpasang PLTS nasional baru mencapai sekitar 322 megawatt-peak (MWp), atau hanya sekitar 0,01% dari total potensi nasional (PV Tech, 2024). Target pengembangan PLTS atap sebesar 900 MWp pada 2023 tidak tercapai. Sebagai pembanding, India telah melampaui kapasitas 81 GW tenaga surya, sedangkan Tiongkok telah melampaui 550 GW (IRENA, 2023). Angka-angka ini menyoroti ketimpangan antara ambisi, potensi, dan capaian Indonesia.

    Meski potensi tenaga surya di Indonesia sangat besar, realisasi pemanfaatannya masih terkendala oleh regulasi yang belum sepenuhnya mendukung. Salah satu regulasi terbaru, Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 Tahun 2023 tentang Pemanfaatan Energi Surya Atap, mengatur tarif jual-beli listrik dan mekanisme interkoneksi PLTS atap dengan jaringan listrik nasional. Namun, penerapan sistem kuota nasional PLTS atap yang dibatasi hingga 901 MW pada 2024 dan target kumulatif 1.593 MW pada 2028 masih membatasi ekspansi energi surya secara signifikan. Kondisi ini mencerminkan ketidaksesuaian antara potensi besar tenaga surya dengan realita regulasi yang menjadi hambatan bagi percepatan transisi energi di Indonesia.

    Biaya awal pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) masih menjadi tantangan dari sisi ekonomi, meskipun harga modul surya global telah menurun signifikan. Tarif listrik yang disubsidi sekitar Rp1.600 per kWh untuk rumah tangga dan sekitar Rp1.100 per kWh untuk industri mengurangi daya tarik finansial instalasi PLTS karena penghematan yang diperoleh relatif kecil (IMF, 2022). Dukungan fiskal pemerintah juga belum memadai. Laporan Frontiers in Sustainable Energy Policy (2024) menunjukkan bahwa alokasi subsidi untuk PLTS hanya sebagian kecil dari total insentif energi terbarukan, yakni sekitar Rp500 miliar, sementara mayoritas alokasi subsidi sekitar Rp7 triliun dikhususkan untuk pengembangan panas bumi sebagai sumber energi terbarukan utama di Indonesia.

    Beberapa pencapaian tetap layak dicatat sebagai kemajuan penting. Proyek PLTS terapung Cirata di Jawa Barat, dengan kapasitas 192 MWp, yang diresmikan pada akhir 2023, menjadi proyek PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara. Proyek ini hampir menggandakan kapasitas PLTS on-grid nasional. Keberhasilan Cirata menunjukkan bahwa pembangunan proyek energi surya skala besar memungkinkan dicapai apabila ada sinergi antara teknologi, pendanaan, dan kemauan politik.

    Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menetapkan bahwa 70% dari kapasitas listrik baru sebesar 71 GW akan berasal dari energi terbarukan, termasuk 17 GW dari tenaga surya (Reuters, 2024). Target ini juga diperkuat melalui dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC) 2022 yang menyebut PLTS sebagai instrumen kunci menuju emisi nol bersih tahun 2060. Indonesia bahkan menyampaikan komitmen membangun 75 GW energi terbarukan dalam 15 tahun ke depan dalam forum COP29.

    Hambatan teknis seperti intermitensi tenaga surya dan keterbatasan teknologi penyimpanan energi (battery storage) masih perlu diselesaikan. Ketidakstabilan pasokan yang dihasilkan dari variabilitas intensitas matahari memerlukan sistem penyimpanan agar kelistrikan tetap stabil. Infrastruktur transmisi nasional juga belum sepenuhnya mendukung distribusi energi PLTS secara optimal, khususnya di wilayah timur Indonesia. PLN menyatakan bahwa investasi sebesar USD 25 miliar dibutuhkan untuk memperkuat jaringan agar kompatibel dengan penetrasi energi terbarukan

    Kesimpulannya, tenaga surya di Indonesia menyimpan potensi besar untuk mendukung transformasi energi nasional. Namun, realisasi yang masih sangat rendah menunjukkan perlunya reformasi kebijakan yang konsisten, dukungan fiskal yang kuat, serta investasi pada infrastruktur dan teknologi pendukung. Dengan komitmen kolektif dari pemerintah, swasta, dan masyarakat, tenaga surya dapat menjadi pilar utama dalam menciptakan sistem energi yang rendah karbon, berkelanjutan, dan mandiri di masa depan.

  • Unik, 7 Panel Surya Ini Diubah Jadi Karya Seni!

    Unik, 7 Panel Surya Ini Diubah Jadi Karya Seni!

    Beberapa tahun belakangan ini, popularitas panel surya sedang meningkat. Menurut data dari Indonesia Solar Energy Outlook (ISEO) 2023, kapasitas pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) meningkat jadi 63,5 MWp pada September 2022 dari 43,9 MWp pada 2021. Tren ini juga mendunia karena secara global, kapasitas solar panel tumbuh dari hanya 5 GigaWatt pada 2005 menjadi sekitar 940 GigaWatt pada 2021.

    Ditambah dengan berkembangnya kecanggihan teknologi, pemanfaatan solar panel pun jadi semakin beragam. Tidak hanya digunakan sebagai PLTS semata, beberapa panel surya bahkan berhasil diubah menjadi karya seni.

    7 Karya Seni yang Terbuat dari Panel Surya

    Inspirasi untuk menciptakan karya seni bisa datang dari mana saja, termasuk dari solar panel yang selama ini dikenal sebagai salah satu bentuk pemanfaatan sumber energi terbarukan. Beberapa instalasi karya seni berikut ini adalah buktinya.

    • La Monarcha

    Karya seni rancangan Cruz Ortiz ini menggunakan SolarSkin, sebuah lapisan film yang dapat mengubah panel surya menjadi kanvas. Hebatnya, SolarSkin dirancang sedemikian rupa agar pelaku seni bisa menggunakan kanvas tersebut tanpa mengganggu performa sistem dari solar panel. 

    Dari sinilah lahir La Monarcha, instalasi seni dalam bentuk empat panel berukuran 6×6 inci setinggi kurang lebih 3,3 meter, yang dipasang di San Antonio, Texas, Amerika Serikat. Proyek spesial ini merupakan inisiatif dari land Art Generator Solar Mural yang ingin meningkatkan awareness terhadap energi terbarukan melalui karya seni.

    • Sonic Bloom

    Di Seattle, Washington, Amerika Serikat, terdapat menara tinggi bernama Space Needle yang menjadi ikon kota. Nah, di salah satu areanya, Anda bisa menemukan deretan “bunga” raksasa yang ditenagai oleh sinar matahari. Memiliki tinggi sekitar 10 meter dengan kelopak selebar 6 meter, bunga buatan rancangan Dan Corson ini dilengkapi 270 panel surya berkapasitas 4 Watt yang terpasang pada bagian atas.

    Dikenal dengan nama Sonic Bloom, bunga-bunga ini akan menyala dalam warna-warni memukau selama lima jam setiap malam. Tak jauh dari Sonic Bloom berada, tepatnya di dalam Pacific Science Center, Anda juga bisa menemukan informasi real-time tentang jumlah energi listrik yang dihasilkan oleh Sonic Bloom.

     

    • Solar Intersections

    Masih di Amerika Serikat, tepatnya di wilayah Davis, California, terdapat karya seni bernama Solar Intersections yang juga memanfaatkan solar panel. Dibangun pada 1989, instalasi seni buatan Robert Behrens ini merupakan pilar-pilar setinggi kurang-lebih 21 meter yang terbuat dari baja. Setiap pilar dicat menggunakan perekat khusus dan dilapisi dengan solar panel. 

    Selama pagi hingga sore hari, Solar Intersections terlihat berwarna putih polos biasa, tapi akan berubah jadi warna-warni menarik setelah mendapat aliran tenaga listrik dari solar panel yang dipasang.

    • Solar Peace Sculptures

    Pada 1958, seniman Geral Holtom menciptakan simbol perdamaian (peace) setelah pelucutan senjata nuklir resmi dilakukan. Cerita inilah yang menjadi inspirasi Fred George dalam membuat Solar Peace Sculptures, sebuah karya seni yang terdiri dari beberapa barel minyak daur ulang. Tiap barel dipasangi solar panel yang dibentuk menyerupai simbol peace tersebut.

    Agak berbeda dari sejumlah karya seni sebelumnya, Solar Peace Sculptures tidak berdiri di satu tempat tetap. Karya seni setinggi 17,6 meter ini berpindah ke berbagai tempat untuk menyebarkan awareness—terutama kepada anak muda—terhadap energi terbarukan. Kerennya lagi, sinar matahari yang diserap oleh Solar Peace Sculptures dapat disalurkan sebagai energi listrik ke jaringan kota tempat ia berada.

    • Solar Sun-Catcher

    Bernama Solar Sun-Catcher, karya seni satu ini terbuat dari aluminium daur ulang dengan panel lucite berwarna kuning terang. Melalui panel surya yang terpasang, Solar Sun-Catcher menghasilkan energi listrik dari sinar matahari untuk menerangi instalasi seni sekaligus mengalirkannya ke jaringan listrik Kota Clearwater, Florida, Amerika Serikat—tempat Solar Sun-Catcher berada.

    Didesain oleh Deedee Morrison bersama studionya, Morrison Studion, instalasi Solar Sun-Catcher dibangun sebagai bagian dari program seni Sculpture360 yang ada di Florida. Program ini diadakan oleh Program Seni dan Desain Publik Clearwater, yang bekerja sama dengan Downtown Development Board.

    • The Ra

    Seorang seniman asal Belanda, Marjan van Aubel, menyusun sel-sel fotovoltaik warna-warni dalam pola geometrik hingga tercipta karya seni solar panel yang bisa dipajang di rumah. Van Aubel memberi nama Ra, yang diambil dari nama Dewa Matahari Mesir Kuno. 

    Dengan ketebalan kurang dari 1 mm, Ra memiliki desain tembus pandang dan dapat dipasang pada jendela, sehingga akan menghasilkan bayangan artistik pada dinding sekitarnya seiring dengan perubahan cahaya sepanjang hari.

    • Shala. 

    Selama ini, kebanyakan panel surya dipasang di atap bangunan tanpa terlalu memikirkan aspek estetika. Menyadari hal tersebut, seniman bernama Shala Akintunde (Shala.) pun melakukan berbagai proyek seni dengan melibatkan solar panel; salah satunya termasuk melukis mural pada permukaan panel surya.

    Dengan menciptakan seni indah pada produk yang menghasilkan energi listrik, Shala. percaya hal tersebut bisa menarik perhatian lebih banyak orang untuk menggunakan energi terbarukan. Itulah kenapa kini ia juga menerima komisi untuk mengerjakan mural pada solar panel. 

     

    Betapa kreatifnya seniman-seniman di atas dalam mengubah panel surya menjadi bentuk karya seni indah. Hal ini tidak terlepas dari akses ke solar panel yang semakin tahun semakin mudah. Bahkan jika Anda ingin menggunakan solar panel untuk PLTS Atap di rumah, Anda bisa dengan mudah mencari jasa pemasangan panel surya terdekat melalui direktori SolarHub.

    Tak hanya itu, Anda juga bisa menggunakan kalkulator SolarHub untuk menghitung kebutuhan panel surya yang sebaiknya Anda pasang. Bersama SolarHub, memasang solar panel di rumah jadi semakin praktis dan mudah!

     

    Referensi:

    https://byshala.com/solarart

    https://www.dezeen.com/2022/01/26/ra-marjan-van-aubel-tapestry/

    http://jpsolar.com/2020/07/15/3-amazing-art-installations-inspired-by-solar-energy/

    https://cleantechnica.com/2013/05/08/11-must-see-art-installations-inspired-by-solar-panels/

    https://www.thecoolist.com/solar-bulb-installations/

    https://www.thecivilengineer.org/news/art-in-photovoltaics-world-s-first-solar-panel-mural-installation-is-a-reality

    https://iesr.or.id/memacu-pemanfaatan-energi-surya-di-indonesia 

    https://www.statista.com/topics/993/solar-pv/#topicOverview

    https://www.solarfeeds.com/mag/the-sun-catcher-solar-light-sculpture/

  • 6 Lokasi Wisata yang Menggunakan Panel Surya untuk Sumber Energinya

    6 Lokasi Wisata yang Menggunakan Panel Surya untuk Sumber Energinya

    Pemerintah Indonesia memiliki target untuk mencapai bauran energi terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025. Namun, target tersebut baru tercapai 12,3% per tahun 2022 lalu. Demi meningkatkan bauran EBT, pemerintah pun melakukan berbagai upaya; salah satunya adalah memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berupa panel surya di berbagai tempat wisata di Indonesia.

    6 Tempat Wisata yang Menggunakan Panel Surya

    Tidak hanya untuk mempercepat pencapaian target bauran EBT, pemasangan panel surya di juga mendukung infrastruktur di tempat-tempat wisata. Dari sekian banyak tempat wisata yang ada di Indonesia, berikut beberapa di antaranya yang telah dilengkapi sistem solar panel.

    • Wisata Bukit Tinatar Piyungan

    Bukit Tinatar merupakan tempat wisata alam yang berada di Desa Srimulyo, Piyungan, Bantul. Dikelola oleh Desa Srimulyo, wisata satu ini menyajikan suasana alam khas bukit dengan pemandangan Jalan Wonosari. Sebagai salah satu upaya untuk mendukung green tourism di Wisata Bukit Tinatar, maka dipasanglah PLTS.

    Pemasangan PLTS di Wisata Bukit Tinatar dilakukan oleh Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta melalui Program Kemitraan Wilayah (PKW) 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kemendikbudristek. Memiliki kapasitas 100 WP, PLTS di Wisata Bukit Tinatar mampu menghidupkan tiga lampu yang terdapat di area wisata. 

    • Pantai Sendiki

    Berada di Desa Tambakrejo, Sumbermanjing, Malang, Pantai Sendiki berada cukup jauh dari area pemukiman warga sehingga belum mendapat akses listrik PLN. Namun, kini masalah tersebut telah teratasi berkat pemasangan panel surya sebagai PLTS di sejumlah titik area pantai, seperti jalan setapak dan atap warung. Berkapasitas 100 WP, solar panel di Pantai Sendiki mampu memberikan penerangan hingga 10 jam di setiap rumah pohon, kamar mandi, musala, hingga pos penjagaan. 

    • Kepri Coral Resort

    Jika mengunjungi Kepri Coral Resort di Batam, Kepulauan Riau, Anda akan menemukan banyak panel surya yang terpasang di area dermaga dan jalanan sepanjang pulau. Pemasangan solar panel ini mampu memenuhi hampir seluruh keperluan listrik di Kepri Coral Resort, termasuk listrik untuk 112 dome village. Ketika tamu penuh saat peak season, kebutuhan listrik akan dibantu dengan menggunakan genset.

    Dari seluruh solar panel yang terpasang, arus listrik dipusatkan di satu area untuk memenuhi kebutuhan Kepri Coral Resort. Pemasangan ini juga tidak terlepas dari komitmen Kepri Coral Resort untuk menyediakan resor berkonsep alamiah. Nah, penggunaan energi terbarukan merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan komitmen tersebut.

    • Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan

    Pemanfaatan panel surya sebagai PLTS juga bisa Anda temukan di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Setiap tempat memiliki PLTS dengan kapasitas berbeda, yaitu 600 kWp di Gili Trawangan, 160 kWp di Gili Air, dan 60 kWp di Gili meno; 

    Dengan kata lain, total kapasitas PLTS untuk ketiga tempat wisata di Lombok tersebut mencapai 820 kWp. Setiap harinya, ketiga PLTS tersebut beroperasi sejak pukul tujuh pagi hingga lima sore, sedangkan kebutuhan listrik untuk malam hari dipenuhi oleh jaringan PLN.

    Seluruh solar panel tersebut ditata dengan rapi sehingga menciptakan pemandangan yang menarik. Alhasil, kehadiran PLTS pun bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata tambahan di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Para pengunjung dapat mengamati jajaran PLTS tersebut dari luar pagar.

    • Pantai Sembilan

    Lokasi wisata satu ini memiliki nasib yang mirip dengan Pantai Sendiki, yakni berada di area terpencil sehingga tidak terjangkau akses listrik dari jaringan PLN. Bedanya, apabila Pantai Sendiri berada di Malang, maka Pantai Sembilan berlokasi di Gili Genting, Sumenep, Madura. 

    Kabar baiknya, kondisi tersebut berubah berkat hibah panel surya dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya pada 2017. Sejak saat itu, Pantai Sembilan memiliki aliran listrik sehingga semakin ramai pengunjung. Pihak pengelola memasang solar panel tersebut di berbagai area strategis pantai, seperti di bagian atap gazebo dan atap bangunan penginapan. 

    • Pulau Derawan

    Pulau Derawan sudah lama dikenal sebagai salah satu wisata dalam negeri yang memiliki keindahan alam bawah laut memukau. Demi menarik lebih banyak wisatawan, pihak pengelola pun mengembangkan Pulau Derawan sebagai green island. Mendukung hal tersebut, PLN membangun PLTS di area Pulau Derawan sebagai salah satu bentuk komitmen untuk mencapai Net Zero Emission 2060 melalui penggunaan EBT.

    Proyek PLTS Derawan pun dimulai pada 2012. Saat itu, kapasitas daya listrik maksimumnya masih mencapai 80 kWp untuk memenuhi kebutuhan listrik penduduk di Kepulauan Derawan. Namun, perbaikan dan pengembangan PLTS Derawan terus dilakukan demi menyuplai listrik yang lebih stabil bagi penduduk sekitar. Rencananya, revitalisasi PLTS Derawan akan dilakukan agar bisa menambah kapasitas listrik hingga 190 kWp.

     

    Ikut bangga rasanya melihat semakin banyak tempat wisata di Indonesia yang menggunakan panel surya sebagai sumber energi. Dengan mengunjungi tempat-tempat di atas, secara tidak langsung Anda pun sudah ikut berupaya melawan krisis iklim melalui dukungan terhadap green tourism. Namun, jika belum mendatangi berbagai tempat wisata di atas, Anda tetap bisa melawan krisis iklim dengan memasang PLTS Atap untuk rumah tangga. 

    Agar pemasangannya tepat sasaran, gunakan kalkulator SolarHub untuk menghitung kebutuhan panel surya Anda. Selanjutnya, segera cari perusahaan dan jasa pemasangan solar panel di direktori SolarHub. Kalau masih ingin cari tahu lebih banyak tentang PLTS Atap, Anda bisa klik di sini. Yuk, bersama-sama melawan krisis iklim dengan bantuan SolarHub!

     

    Referensi:

    https://lldikti5.kemdikbud.go.id/home/detailpost/ujb-aplikasikan-listrik-tenaga-surya-di-lokasi-wisata-bukit-tinatar-piyungan

    https://lautsehat.id/gaya-hidup/annisa/panel-surya-untuk-listrik-berkelanjutan-di-pantai-daerah-terpencil/

    https://www.mongabay.co.id/2020/12/17/matahari-penuhi-keperluan-energi-obyek-wisata-di-pulau-pengalap/

    https://web.pln.co.id/cms/media/2022/10/pln-operasikan-plts-pulau-derawan-di-kalimantan-kawasan-wisata-unggulan-makin-menawan/

    https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/02/14/kawasan-wisata-lombok-kini-gunakan-plts

    https://iesr.or.id/pemerintah-perlu-rombak-strategi-untuk-kejar-bauran-energi-terbarukan-23-di-2025

  • 6 Tips Mencari Jasa Pemasangan Panel Surya yang Tepat untuk Anda

    6 Tips Mencari Jasa Pemasangan Panel Surya yang Tepat untuk Anda

    Apabila Anda sudah mantap mau memasang PLTS Atap atau panel surya untuk bangunan, memilih kualitas produk yang baik saja belum cukup; Anda juga perlu mencari penyedia jasa pemasangan yang tepat. Jika tidak, bisa-bisa malah panel surya tidak bekerja dengan maksimal, atau biaya yang diberikan penyedia jasa lebih mahal daripada pasaran. Lalu, bagaimana cara mencari jasa pemasangan panel surya yang tepat?

    6 Tips Mencari Jasa Pemasangan Panel Surya

    Mulai dari mempelajari track record hingga memanfaatkan direktori penyedia jasa solar panel, berikut hal-hal penting yang sebaiknya Anda lakukan untuk mendapatkan jasa terbaik pemasangan panel surya.

    1. Cek track record atau portofolio perusahaan tersebut

    Cek track record perusahaan pemasang panel surya melalui portofolio mereka. Jika portofolio tidak tersedia pada website, Anda bisa meminta langsung kepada mereka. Dari portofolio inilah Anda dapat mengecek proyek-proyek yang pernah dikerjakan perusahaan, tingkat kompleksitas dan skala proyeknya. Semakin banyak proyek yang pernah mereka kerjakan, tentu semakin baik karena hal tersebut membuktikan bahwa mereka begitu tepercaya.

    2. Pastikan bahwa mereka memberikan harga yang jelas

    Selain track record, penawaran harga juga tak kalah penting untuk Anda cek. Kumpulkan penawaran dari 3-4 perusahaan agar Anda bisa membandingkan harga dan fasilitas yang akan Anda dapatkan. Umumnya, perusahaan pemasang panel surya akan meminta untuk langsung mendatangi lokasi properti Anda agar bisa menghitung harga. Nah, pada saat inilah Anda dapat bertanya apa pun untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

    Sebagai informasi, beberapa pemasangan panel surya membutuhkan konstruksi tambahan pada atap bangunan—tergantung dari kebutuhan dan kondisi properti. Kalau memang butuh pengerjaan konstruksi tambahan, tanyakan apakah quotation penawaran dari perusahaan sudah mencakup hal tersebut.

    3. Cari tahu lisensi yang dimiliki perusahaan

    Pemasangan panel surya tentu tidak boleh dilakukan sembarangan. Perusahaan harus mematuhi peraturan dari pemerintah sekaligus memenuhi standar kualitas. Selain mengecek hal tersebut dari track record, perusahaan, Anda juga bisa menanyakan lisensi yang mereka miliki. 

    Pastikan bahwa perusahaan pilihan Anda sudah mendapatkan lisensi SBUJK EBT dan SIUJPTL. Jika suatu perusahaan memiliki kedua lisensi tersebut, artinya ia telah diakui pemerintah sebagai penyedia panel surya yang tepercaya di Indonesia.

    4. Cari tahu juga merek panel surya yang digunakan

    Saat berkonsultasi dengan penyedia jasa pemasangan panel surya, tanyakan merek solar panel yang mereka gunakan. Sebaiknya, pilihlah penyedia yang menggunakan merek panel surya ternama. Merek dengan reputasi baik idealnya memiliki performa yang oke pula sehingga lebih tahan lama. Beberapa contoh merek panel surya ternama adalah JA Solar, Jinko Solar, Trina Solar, Canadian Solar, Risen Energy, dan Hanwha QCells.

    5. Jangan lupakan garansi

    Garansi juga menjadi hal yang tak kalah penting untuk Anda cek saat mencari jasa pemasangan panel surya. Saat berdiskusi tentang quotation penawaran dengan perusahaan, tanyakan apakah harga tersebut sudah termasuk garansi. Jika iya, pastikan lagi apakah garansi tersebut berlaku selama periode pemakaian panel surya (umumnya 25 tahun).

    Sebaiknya, carilah perusahaan yang memberikan penawaran Total Cost of Ownership (TOC). Artinya, penawaran tersebut telah mencakup keseluruhan produk dan layanan, termasuk inspeksi lokasi, biaya panel surya, jasa pemasangan, pemeliharaan setelah pemasangan, dan garansi sampai 25 tahun. Dengan begini, seharusnya tak ada lagi hidden cost yang membuat Anda harus mengeluarkan uang tambahan.

    6. Gunakan direktori dari SolarHub

    Mencari jasa pemasangan panel surya memang gampang-gampang susah. Banyaknya perusahaan memang memberi Anda beragam pilihan, tapi di sisi lain juga membuat bingung. Agar proses pencarian jadi lebih mudah, Anda bisa menggunakan direktori dari SolarHub. 

    Anda hanya perlu membuka website SolarHub atau klik di sini, lalu di halaman utama ada kolom untuk mencari perusahaan panel surya atau jasa pemasangnya. Pilih juga kota tempat tinggal Anda saat ini, lalu klik “Pindai”. Setelah itu, halaman akan menampilkan perusahaan panel surya atau jasa pemasang yang paling dekat dengan Anda. 

     

    Jika memang sudah berniat untuk memasang PLTS Atap untuk rumah atau properti lainnya, mencari jasa pemasangan panel surya yang tepat sangat penting Anda lakukan. Dengan begitu, panel surya yang dipasang bisa tahan lama dan memberikan performa optimal. 

    Agar lebih pas dengan kebutuhan, hitung dulu kebutuhan panel surya Anda menggunakan kalkulator SolarHub. Setelah itu, baru Anda bisa menggunakan direktori SolarHub untuk menemukan jasa pemasangan solar panel yang tepat. Bersama SolarHub, pemasangan panel surya jadi lebih mudah dan praktis!

     

    Referensi:

    https://kumparan.com/solar-kita/lakukan-5-hal-ini-sebelum-memilih-penyedia-sistem-panel-surya-1wvDmnwSh0J/4

    https://panelsuryajakarta.com/memilih-jasa-pemasangan-panel-surya-pastikan-penuhi-kriteria-ini/

    https://kelistrikan.com/jasa-pemasangan-solar-panel/

    https://theplaceboston.com/tips-memilih-jasa-pemasangan-solar-panel-yang-terpercaya/

    https://sedayu.com/2021/11/26/cara-memilih-penyedia-solar-panel-yang-tepat/

    https://www.builder.id/rekomendasi-merek-panel-surya/

  • Bagaimana Leonardo DiCaprio Menjadi Aktivis Energi Terbarukan?

    Bagaimana Leonardo DiCaprio Menjadi Aktivis Energi Terbarukan?

    Siapa yang tidak kenal dengan Leonardo DiCaprio? Aktor kawakan pemenang piala Oscar ini telah memainkan berbagai macam film fenomenal yang kerap menghiasi layar lebar serta festival film internasional. Namun, di balik semuanya, ternyata aktor kelahiran Los Angeles ini juga seorang environmentalist! Ia aktif mendukung gerakan melawan krisis iklim dan terus menyuarakan hal tersebut melalui berbagai platform miliknya. Apa saja yang telah dilakukan Leonardo DiCaprio sebagai aktivis lingkungan?

    5 Tindakan DiCaprio untuk Melawan Krisis Iklim

    Sebelum beranjak ke tindakan konkret apa saja yang sudah dilakukan Leonardo DiCaprio untuk lingkungan, pahami dulu bahwa ia telah memulai semuanya sejak usia 24 tahun. Kini dirinya hampir menginjak 49 tahun dan itu artinya ia telah menyuarakan tentang krisis iklim ini 25 tahun. Mari lihat apa saja yang ia lakukan untuk bumi!

    1. Membangun Leonardo DiCaprio Foundation

    Persis setelah film legendaris berjudul Titanic mengangkat namanya di industri perfilman dunia, di saat itulah ia mendirikan Leonardo DiCaprio Foundation yang bertujuan untuk melindungi bumi. Ketika itu ia masih berusia 24 tahun, tetapi telah memiliki misi untuk mengharmonisasikan antara humanisme dan alam.

    Kini yayasan yang dibangunnya itu telah mendukung lebih dari 35 proyek konservasi di seluruh dunia dengan tujuan menjaga ekosistem dan melindungi spesies-spesies langka. Semuanya berawal dari Leonardo DiCaprio kecil yang tersentuh ketika menonton film dokumenter tentang perusakan hutan hujan.

    1. Berinvestasi pada perusahaan yang sustainable

    Bukan hanya terang-terangan mendirikan yayasan yang bergerak di ranah lingkungan hidup, Leonardo DiCaprio juga memperhatikan kepada siapa dirinya menanamkan modal investasi. Selama puluhan tahun terakhir, dirinya terbukti hanya mempercayakan dananya pada perusahaan-perusahaan yang memedulikan tentang sustainability.

    Sebagai contoh, lawan main Kate Winslet di film Titanic ini berinvestasi pada Beyond Meat, Califia Farms, Hippeas, dan lainnya. Lalu, belum lama ini, tepatnya sekitar tahun 2021, ia memutuskan untuk bergabung bersama keluarga Perfect Day sebagai Sustainability & Health Advisory Council. Perfect Day adalah tech startup penghasil es krim non-hewani pertama di dunia.

    1. Menggunakan berbagai platform untuk meningkatkan awareness

    Wujud nyata tindakan Leonardo DiCaprio peduli terhadap krisis iklim pun selalu ia suarakan di berbagai kesempatan. Tak hanya memenuhi platform media sosialnya dengan banyak unggahan seputar lingkungan, ia juga menggunakan momen langsung ketika dirinya menerima piala Oscar untuk pidato soal hal ini.

    Tahun 2016 Leonardo DiCaprio menerima piala Oscar atas filmnya yang bertajuk The Revenant. Ketika harus menyampaikan pidato di podium, dirinya pun membuka isu akan lingkungan dan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Momen tersebut tentunya bertepatan, mengingat film buatan Alejandro González Iñárritu itu memang mengungkapkan keindahan alam yang luar biasa.

    Pungkasan pidatonya yang menarik pada perhelatan malam tersebut mengatakan, “I thank you all for this amazing award tonight. Let us not take this planet for granted, I do not take this night for granted.”

    1. Mendukung pembuatan film dokumenter lingkungan

    Sebagai sineas, Leonardo DiCaprio tentu saja mengangkat krisis iklim ini lewat medium film, baik itu film pendek maupun panjang. Beberapa judul yang menyertakan namanya dalam proses produksi, antara lain Cowspiracy: The 11th Hour (2007), Virunga (2014), The Sustainability Secret (2014), Before the Flood (2016), And We Go Green (2019), Ice on Fire (2019), serta The Loneliest Whale: The Search for 52 (2021).

    1. Menjadi pendukung penggunaan energi surya

    Peran Leonardo DiCaprio dalam memerangi krisis iklim juga tampak pada komitmennya mendukung penggunaan energi surya sebagai sumber listrik berkelanjutan. Aksi konkretnya adalah dengan menjadi investor di Kingo, perusahaan panel surya off-grid yang mempunyai visi untuk mengalirkan listrik ke daerah-daerah kurang terjamah, misalnya Pegunungan Guatemala.

    Tak hanya menanamkan modalnya di sana, aktor berprestasi ini juga bergabung ke dalam dewan penasihat yang kemudian turut menaikkan angka pengguna. Terbukti, setelah tiga tahun berjalan, Kingo berhasil menembus angka 600.000 pengguna (dari hanya 500) di berbagai pedesaan. Sekali lagi, perusahaan ini tidak menuntut biaya sepeser pun.

     

    Bagaimana, peran Leonardo DiCaprio sebagai environmentalist tak perlu diragukan lagi, bukan? Jika Anda ingin mengikuti jejak sang aktor untuk memerangi krisis iklim, mulailah dengan memasang PLTS Atap seperti yang dilakukan DiCaprio saat mendukung Kingo.

    Mari hitung kebutuhan panel surya di hunian Anda dengan memanfaatkan fitur kalkulator surya SolarHub. Kemudian, temukan vendor pemasangan PLTS Atap terdekat dari daerah Anda dengan mengunjungi laman ini!

     

    Referensi:

    https://togetherband.org/blogs/news/leonardo-dicaprio-environment

    https://vegnews.com/vegan-news/celebrities/leonardo-dicaprio-save-the-planet

    https://www.livekindly.com/how-leonardo-dicaprio-saving-planet/

    https://www.livekindly.com/how-leonardo-dicaprio-saving-planet/

    https://www.people4ocean.com/blogs/blog/how-leonardo-dicaprio-became-a-leading-climate-activist

    https://mashable.com/article/leonardo-dicaprio-kingo-solar-energy

    https://kalkulator.solarhub.id/

    https://solarhub.id/