Pernah terpikir kalau pasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di rumah itu hanya cukup membeli panel, pasang di atap, lalu selesai? Ternyata, anggapan itu keliru. Banyak orang salah kaprah karena mengira semua rumah punya kebutuhan listrik yang sama. Padahal, setiap rumah punya pola pemakaian energi berbeda, dan inilah yang menentukan seberapa besar kapasitas PLTS yang sebenarnya dibutuhkan.
Jangan kaget kalau tagihan listrik rumah tetangga bisa turun drastis setelah pasang PLTS, sementara di rumah Anda hasilnya tidak seberapa. Rahasianya ada pada analisis kebutuhan energi harian. Rumah dengan penggunaan AC sepanjang hari tentu membutuhkan kapasitas lebih besar dibanding rumah yang hanya menggunakan kipas angin. Jadi, sebelum buru-buru pasang, penting untuk tahu dulu karakter konsumsi listrik di rumah Anda.
Coba bayangkan rumah dengan daya listrik 900 VA yang rata-rata mengkonsumsi 100–150 kWh per bulan. Jika menggunakan PLTS 1 kWp, sistem ini bisa menghasilkan sekitar 120–140 kWh per bulan (tergantung lokasi). Artinya, rumah ini bisa hampir sepenuhnya tercukupi dengan PLTS. Tapi berbeda cerita dengan rumah berdaya 2200 VA yang rata-rata butuh 250–300 kWh per bulan tentu butuh kapasitas PLTS lebih besar, minimal 2–3 kWp.
Jangan heran kalau ada rumah yang bisa menekan tagihan listrik hingga setengahnya setelah pasang PLTS, sementara rumah lain nyaris tidak merasakan perubahan. Perbedaan ini terjadi karena pola penggunaan listrik tidak sama. Rumah dengan AC 1 PK yang menyala 8 jam per hari bisa menghabiskan 200–250 kWh per bulan hanya untuk pendingin ruangan saja. Jika kapasitas PLTS hanya 1 kWp, tentu tidak akan cukup menutupi beban sebesar itu.
Lokasi juga memainkan peran besar. Rata-rata di Indonesia, setiap 1 kWp panel surya bisa menghasilkan sekitar 4–5 kWh per hari. Jadi, rumah dengan atap cukup luas dan orientasi ke utara selatan tanpa halangan pepohonan bisa memaksimalkan produksi listrik. Sebaliknya, atap yang terhalang gedung atau miring ke arah barat akan mengurangi produksi hingga 20–30%.
Gaya hidup penghuni rumah juga ikut menentukan. Keluarga yang banyak beraktivitas di malam hari, misalnya, tentu membutuhkan tambahan baterai penyimpanan. Tanpa baterai, listrik dari PLTS hanya bisa digunakan siang hari. Dengan baterai 5 kWh, misalnya, listrik siang bisa disimpan untuk dipakai malam hari sehingga pemanfaatannya lebih optimal.
Bicara soal biaya, perhitungan investasinya pun tidak bisa sembarangan. Harga PLTS atap saat ini berkisar Rp12–15 juta per kWp. Artinya, untuk rumah dengan kebutuhan 2 kWp, diperlukan investasi sekitar Rp24–30 juta. Jika produksi listrik mencapai 250–280 kWh per bulan dan bisa menggantikan sebagian listrik PLN, maka penghematan bisa mencapai Rp300–400 ribu per bulan. Dari skenario ini, perkiraan balik modal atau payback period biasanya 6–8 tahun.
Memasang PLTS di rumah memang bisa jadi investasi yang menguntungkan, tapi tidak bisa dilakukan dengan asumsi semua rumah sama. Mulai dari kebutuhan listrik, kondisi bangunan, hingga kebiasaan penghuni, semua harus diperhitungkan. Dengan data pemakaian kWh bulanan dan kapasitas PLTS yang sesuai, Anda bisa benar-benar memastikan investasi energi bersih ini memberikan hasil yang optimal.









