Tag: sumber energi terbarukan

  • Arah Masa Depan PLTS: Proyeksi 2030 dan Peran Masyarakat dalam Transisi Energi

    Arah Masa Depan PLTS: Proyeksi 2030 dan Peran Masyarakat dalam Transisi Energi

    Bayangkan jika pada tahun 2030, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen energi bersih, tetapi juga pemain utama dalam industri energi surya di Asia Tenggara. Dengan potensi sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun, mengapa perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia masih berjalan lambat? Pertanyaan ini menjadi krusial saat dunia berlomba-lomba keluar dari ketergantungan energi fosil menuju masa depan yang berkelanjutan, dan Indonesia berada di titik kritis dalam memilih arah transisinya.

    Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan RUPTL 2021–2030, kapasitas PLTS Indonesia ditargetkan mencapai 4,7 gigawatt (GW) pada tahun 2030, atau sekitar 5,4% dari total kapasitas pembangkit baru. Di sisi lain, International Renewable Energy Agency (IRENA) bersama Kementerian ESDM dalam skenario 1,5°C menyarankan bahwa Indonesia perlu membangun kapasitas PLTS hingga 65–66 GW untuk memenuhi target pengurangan emisi dan bauran energi terbarukan. Selisih besar antara target nasional dan proyeksi internasional ini menunjukkan bahwa langkah aktual pemerintah masih jauh dari potensi teknis yang dapat dimanfaatkan secara optimal.

    Laporan Indonesia Energy Transition Outlook 2025 dari Institute for Essential Services Reform (IESR) mengungkapkan bahwa porsi PLTS dalam bauran energi nasional masih berada di bawah 1% per 2024. Meskipun pemerintah telah menyusun peta jalan dengan target 23% energi baru terbarukan pada 2025, realisasinya masih tertinggal. IESR mencatat bahwa hanya sekitar 1,89 GW proyek PLTS yang masuk dalam pipeline hingga 2027, yang bahkan belum mencapai 50% dari target jangka menengah. Lambatnya realisasi ini disebabkan oleh kendala regulasi, kepastian tarif yang belum menarik, dan proses perizinan yang kompleks.

    Indonesia memiliki potensi teknis energi surya yang mencapai lebih dari 200 GW, tersebar dari Sabang hingga Merauke. Namun, dalam praktiknya, kapasitas terpasang nasional untuk PLTS pada 2024 baru mencapai sekitar 400 MW. Studi pemodelan menggunakan metode double exponential smoothing bahkan memperkirakan bahwa tanpa intervensi signifikan, kapasitas PLTS hanya akan mencapai sekitar 756 MW pada 2050, jauh dari target ideal yang disarankan IRENA. Ketimpangan antara potensi dan realisasi ini menegaskan perlunya dorongan kebijakan dan investasi yang lebih agresif.

    Peran masyarakat dalam transisi energi sering kali diposisikan sebagai penerima manfaat pasif. Padahal, jika dimaksimalkan, partisipasi publik dapat menjadi penggerak utama dalam peningkatan kapasitas PLTS, khususnya melalui instalasi PLTS atap dan model koperasi energi. Konsep energy democracy mendorong warga menjadi prosumer produsen sekaligus konsumen energi yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap jaringan listrik konvensional. Dengan pendekatan ini, transisi energi menjadi lebih inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan lokal.

    Contoh konkret dari keterlibatan masyarakat terlihat dalam berbagai inisiatif komunitas energi terbarukan di Indonesia, seperti proyek mikrohidro di Kedungrong, Yogyakarta, atau program solar home system di Nusa Tenggara Timur. Melalui pelatihan teknis, pembiayaan mikro, dan penguatan kelembagaan komunitas, warga tidak hanya mendapatkan akses energi, tetapi juga memberdayakan diri secara ekonomi dan sosial. Menurut Asian Power, penguatan peran komunitas dalam transisi energi dapat membuka hingga 96 juta lapangan kerja baru dan menciptakan nilai ekonomi lebih dari USD 600 juta dalam beberapa dekade ke depan.

    Kampus, komunitas kreatif, hingga organisasi pemuda kini mulai menginisiasi kampanye kesadaran energi, audit energi partisipatif, hingga pelatihan teknisi surya bersertifikat di tingkat lokal. Peran ini sangat penting mengingat Indonesia masih menghadapi kekurangan tenaga kerja terlatih di sektor PLTS. Keterlibatan masyarakat dalam bentuk pendidikan energi bahkan tercatat dalam roadmap Just Energy Transition Partnership (JETP) sebagai komponen penting dalam memastikan transisi yang inklusif dan adil.

    Untuk memaksimalkan peran tersebut, dukungan kebijakan harus diarahkan pada pemberdayaan masyarakat, bukan hanya pada sektor korporasi. Kebijakan feed-in tariff yang ramah prosumer, akses kredit lunak untuk rumah tangga, dan regulasi net metering yang fleksibel dapat menjadi insentif kuat. Pemerintah daerah juga dapat memainkan peran katalis melalui program transisi energi berbasis desa atau kelurahan. Jika diberi ruang partisipatif, masyarakat bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi penggerak utama transformasi energi nasional.

    Dengan sinergi antara kebijakan progresif, pendanaan inovatif, dan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama, Indonesia berpotensi mengakselerasi adopsi PLTS secara masif menuju 2030. PLTS bukan hanya teknologi penghasil listrik, melainkan instrumen demokratisasi energi yang mampu memindahkan kekuasaan dari pusat ke masyarakat. Dalam hal ini, masa depan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh megawatt, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat diberdayakan untuk memegang kendali atas energinya sendiri.

  • Energi Terbarukan dari Permukaan Air: Apa Itu PLTS Terapung?

    Energi Terbarukan dari Permukaan Air: Apa Itu PLTS Terapung?

    Saat permukaan darat semakin padat dan kebutuhan energi terus meningkat, muncul pertanyaan menarik: mungkinkah permukaan air seperti danau dan waduk dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik? Inilah yang menjadi dasar pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS terapung), sebuah teknologi yang menggabungkan efisiensi pemanfaatan ruang dengan potensi energi terbarukan. Dengan memanfaatkan permukaan air yang luas dan belum termanfaatkan secara optimal, PLTS terapung menawarkan solusi inovatif terhadap tantangan transisi energi bersih di tengah keterbatasan lahan.

    PLTS terapung bekerja dengan prinsip yang sama seperti PLTS konvensional, yakni mengubah energi matahari menjadi listrik melalui sel fotovoltaik. Bedanya, sistem ini dipasang di atas permukaan air seperti danau, waduk, bendungan, atau bahkan laut tenang. Panel surya diletakkan pada struktur pelampung yang stabil dan tahan korosi, lalu dihubungkan dengan kabel bawah air ke jaringan listrik darat. Lingkungan perairan memberikan efek pendinginan alami yang meningkatkan efisiensi panel hingga 5–15% dibanding instalasi darat (IRENA, 2023).

    Keunggulan PLTS terapung tidak hanya terbatas pada efisiensi teknis. Ia juga menawarkan solusi atas keterbatasan lahan, terutama di negara-negara dengan kepadatan penduduk tinggi atau keterbatasan ruang terbuka. Di Indonesia, potensi lahan untuk PLTS darat memang luas, namun seringkali berbenturan dengan kebutuhan pangan, kehutanan, atau konservasi. Berdasarkan studi Kementerian ESDM tahun 2022, potensi teknis PLTS terapung di Indonesia mencapai lebih dari 28 GWp, terutama dari waduk-waduk besar seperti Jatiluhur, Cirata, dan Saguling.

    Contoh konkret dari implementasi PLTS terapung di Indonesia adalah proyek Cirata Floating Solar Plant di Jawa Barat, yang digarap oleh PT PLN dan Masdar dari Uni Emirat Arab. PLTS ini memiliki kapasitas 145 MWac dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara saat mulai beroperasi pada tahun 2024. Proyek ini tidak hanya menunjukkan kapasitas teknologi nasional, tetapi juga komitmen Indonesia dalam mengejar target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025, sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

    Secara global, negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan telah memanfaatkan teknologi ini lebih awal. Jepang, misalnya, telah mengoperasikan lebih dari 60 PLTS terapung skala komersial sejak 2015. Salah satu proyek unggulannya adalah Yamakura Dam Floating Solar Plant dengan kapasitas 13,7 MW. Negara-negara ini tidak hanya memanfaatkan energi bersih, tetapi juga mengurangi penguapan air dan pertumbuhan alga berlebih, dua efek positif tambahan dari pemasangan panel di atas air.

    Kendati menjanjikan, pengembangan PLTS terapung tetap menghadapi tantangan. Aspek teknis seperti ketahanan sistem terhadap angin kencang, ombak, dan korosi masih menjadi perhatian, terutama jika ingin diterapkan di laut terbuka. Selain itu, perizinan pemanfaatan ruang perairan, potensi dampak ekologis terhadap ekosistem akuatik, dan kebutuhan investasi awal yang relatif tinggi menjadi faktor yang harus dikaji secara menyeluruh. Studi yang dilakukan oleh World Bank Group (2021) mencatat bahwa biaya pembangunan PLTS terapung berkisar antara 20–25% lebih tinggi dari PLTS darat, meski tren ini terus menurun seiring skala produksi meningkat.

    Meski tantangan tersebut tidak bisa diabaikan, peluang yang ditawarkan jauh lebih besar. PLTS terapung membuka opsi pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam perencanaan energi nasional. Selain itu, ia juga sejalan dengan pendekatan multi-fungsi ruang perairan yang berkelanjutan, khususnya di negara kepulauan seperti Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang progresif, skema pembiayaan yang inklusif, dan peningkatan kapasitas SDM lokal, PLTS terapung dapat menjadi motor penggerak utama dalam dekarbonisasi sektor energi.

    Dengan meningkatnya urgensi krisis iklim dan dorongan global untuk menekan emisi karbon, PLTS terapung muncul sebagai bagian penting dari portofolio solusi energi bersih. Ia bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan juga simbol dari adaptasi cerdas terhadap tantangan keterbatasan ruang dan kebutuhan energi yang terus tumbuh. Masa depan energi terbarukan tak lagi hanya terbentang di daratan, melainkan juga mengambang dengan tenang di permukaan air.

     

  • PLTS Atap: Sumber Energi Terbarukan yang Bantu Pengrajin Ukir Pangkas Biaya

    PLTS Atap: Sumber Energi Terbarukan yang Bantu Pengrajin Ukir Pangkas Biaya

    Sudah jadi pengetahuan umum bahwa sumber energi terbarukan seperti PLTS atap memiliki berbagai macam manfaat. Selain manfaat di bidang lingkungan karena bisa menjadi pembangkit listrik energi terbarukan, pengguna PLTS atap juga mendapatkan manfaat dari segi perekonomian. Contohnya adalah seperti yang dirasakan langsung oleh pengrajin ukir relief di Jepara. Yuk, simak kisah selengkapnya di sini!

    Efek Pandemi terhadap Para Pengrajin Ukir

    Kota Jepara memang dikenal sebagai kota ukir. Jadi, tidak heran kalau di sini, Anda bisa menemukan berbagai macam UMKM yang bergerak di bidang seni tersebut. Salah satunya adalah para warga yang bertempat tinggal di Desa Senenan, Tahunan, Jepara. Di sini, mayoritas dari mereka bekerja sebagai pengrajin ukir relief. Biasanya, dalam sebulan mereka bisa mengerjakan dan menjual 2-3 ukiran relief kayu seharga 5 sampai 20 juta rupiah per karya. 

    Pelanggan mereka sendiri adalah para pencinta seni serta turis dari luar kota, atau bahkan luar negeri. Beberapa pembeli ukiran kayu Jepara ini bahkan berasal dari Jepang, Iran, hingga Amerika Serikat. Sebab, ukiran kayu dari Jepara memiliki nilai estetik yang tinggi serta kualitas yang tidak perlu diragukan lagi. Jadi, ukiran ini cocok untuk dijadikan koleksi atau dekorasi untuk suatu ruangan di dalam rumah.

    Namun, masalah tiba saat pandemi Covid-19 kemarin melanda. Pesanan ukiran dari para pencinta seni maupun turis berkurang drastis. Bahkan, para pengrajin terpaksa menjual murah beberapa ukirannya agar dapat bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

    Akhirnya, beberapa UMKM memutuskan untuk menghentikan produksi karena tidak mampu membayar karyawan maupun tagihan listrik. Maklum, beberapa alat ukir membutuhkan listrik agar dapat digunakan.

    Bantuan Berupa PLTS Atap dari Pemerintah

    Melihat hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak tinggal diam. Bekerja sama dengan Koperasi Industri dan Kerajinan Desa Senenan, pemerintah memberi bantuan dalam bentuk pemasangan PLTS atap untuk kebutuhan listrik produksi ukir kayu. Jika ditotal, ada delapan orang yang rumahnya telah memiliki PLTS sebesar 2 kWp dengan sistem on-grid PLN. Dengan pembangkit listrik yang menggunakan sumber energi terbarukan, diharapkan pemilik UMKM bisa menghemat pengeluaran per bulannya.

    Terbukti, bantuan tersebut bisa mengurangi beban tagihan listrik UMKM di Desa Senenan. Salah satu orang yang mendapatkan manfaat dari PLTS atap tersebut adalah Mulyono. Ia mengatakan, awalnya ia harus membayar Rp800 ribu per bulan untuk tagihan listrik. Setelah menggunakan teknologi tersebut, biaya listriknya terpotong menjadi separuhnya, yaitu Rp400 ribu. 

    Tentu saja, ini sangat membantu Mulyono dalam menghemat biaya produksi. Uang yang biasanya digunakan untuk membayar tagihan listrik tersebut bisa dialokasikan untuk kebutuhan lainnya.

    Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Terus Dorong Penggunaan Energi Terbarukan

    Sumbangan PLTS atap untuk UMKM di Desa Senenan ini merupakan salah satu program dari Pemerintah Jawa Tengah untuk meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan, terutama dalam bentuk PLTS. Apalagi, pemerintah Indonesia sendiri memiliki target untuk mencapai kapasitas listrik PLTS atap sebanyak 3,6 gigawatt sebelum tahun 2025 nanti.

    Tidak berhenti di sini, program pengintegrasian sumber energi terbarukan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari juga akan dilakukan di berbagai lokasi lainnya di Jawa Tengah. Rencananya, beberapa industri yang akan disasar adalah industri garmen, industri otomotif dan spare part, serta industri rumahan lainnya. Dengan demikian, masyarakat jadi lebih mengenal dan terbiasa dengan teknologi yang memanfaatkan sumber energi terbarukan.

     

    Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, apa yang dilakukan oleh Pemprov Jawa Tengah ini merupakan salah satu perwujudan dari misi nasional untuk memperluas bauran energi terbarukan. Anda sendiri juga bisa membantu pemenuhan target tersebut dengan memasang PLTS atap untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari. 

    Nah, untuk Anda yang bingung mencari jasa intalasi pemasangan panel surya, cari saja dengan direktori SolarHub. Lewat direktori tersebut, Anda bisa menemukan layanan pemasangan panel surya yang terpercaya, serta dekat dengan lokasi rumah Anda.

     

    Referensi:

    https://kalkulator.solarhub.id/

    Home

  • Dusun Bondan, Daerah yang Berkembang Berkat Sumber Energi Terbarukan

    Dusun Bondan, Daerah yang Berkembang Berkat Sumber Energi Terbarukan

    Menurut data rasio elektrifikasi dari Badan Pusat Statistik atau BPS, 99,28% rumah tangga di Indonesia sudah bisa menikmati listrik. Artinya, masih ada sekitar 500 ribu rumah tangga yang belum memiliki akses terhadap kebutuhan tersebut. 

    Salah satu dusun yang baru saja mendapatkan listrik beberapa waktu terakhir adalah Dusun Bondan yang berada di Cilacap, Jawa Tengah. Lalu, bagaimana kisah mereka dengan adanya sumber energi terbarukan? Simak selengkapnya di bawah ini.

    Gelap Gulita Sebelum Ada Listrik

    Sebelum bisa menikmati listrik dari sumber energi terbarukan, Dusun Bondan sering merasakan gelapnya malam hari tanpa pencahayaan yang memadai. Sebab, lokasi desa ini cukup terpencil, tepatnya sejauh tujuh kilometer dari desa-desa lainnya di daerah Kampung Laut. 

    Sudah lama Dusun Bondan sulit mendapatkan akses listrik dari PLN karena membutuhkan kabel yang bisa membentang sepanjang tujuh kilometer untuk menjangkau desa ini. Belum lagi, di sepanjang jalan, ada banyak rawa dan hutan mangrove yang mempersulit jalur kabel. Akibatnya, para penduduk dusun hanya bisa mengandalkan lampu pelita yang menggunakan minyak tanah. 

    Minimnya penerangan pada malam hari juga mempersulit anak-anak Dusun Bondan untuk belajar atau mengerjakan PR, dan mereka tidak bisa menonton televisi untuk mengisi waktu. Selain itu, karena Dusun Bondan kekurangan sumber air bersih, para warga harus berjalan melewati Laguna Segara Anakan menuju Nusa Kambangan demi mendapatkan air pada malam hari yang gelap gulita.

    Pertamina Kilang Cilacap Inisiasi Desa Energi Berdikari Cilacap

    Akan tetapi, sejak Pertamina Kilang Cilacap menjalankan inisiatif Desa Energi Berdikari Cilacap, kondisi Dusun Bondan berubah drastis. Untuk mewujudkannya, Pertamina Kilang Cilacap mendirikan sumber energi terbarukan dengan teknologi Hybrid Energy One Pole (HEOP). 

    Sesuai namanya, instalasi energi listrik terbarukan ini memadukan performa kincir angin dan panel surya untuk menerangi Dusun Bondan. Awalnya, pembangkit listrik ini mampu menyalurkan listrik kepada tiga sampai lima rumah di Dusun Bondan. 

    Namun, untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, pertamina Kilang Cilacap membangun sebuah pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH). Pada dasarnya, cara kerja PLTH tidak berbeda jauh dengan teknologi HEOP dari sebelumnya karena masih menggunakan tenaga angin dan cahaya matahari. 

    Bedanya, PLTH mampu menerangi lebih banyak rumah karena kapasitasnya juga lebih besar jika dibandingkan dengan HEOP. Pada tahun 2018, kapasitas PLTH tersebut sebesar 6.000 watt peak (Wp), tetapi angkanya sudah meningkat hingga 16.200 Wp per tahun 2020. Hasilnya, PLTH ini mampu menerangi 78 rumah warga, gedung sekolah, masjid raya, dan tambak perikanan di Dusun Bondan.

    Berkembangnya UMKM Setelah Ada Listrik

    Berkat adanya listrik yang memadai dari sumber energi terbarukan, UMKM di Dusun Bondan juga semakin berkembang hingga lebih kompetitif. Warga dusun yang semula hanya bekerja sebagai nelayan ikan, udang, dan kerang, kini juga bisa memulai bisnis wirausaha di tambak perikanan karena mereka dapat menggunakan peralatan listrik.

    Misalnya, para ibu rumah tangga yang tinggal di Dusun Bondan membentuk kelompok usaha Ibu Mandiri, sebuah wadah UMKM yang bertujuan memberdayakan kemampuan berwirausaha perempuan. Dahulu, ketika Dusun Bondan belum dialiri listrik, para nelayan tidak punya pilihan selain menjual hasil laut sebelum masa panen kepada tengkulak demi menjaga perputaran modal. 

    Namun, melalui kelompok Ibu Mandiri, para warga dusun dapat menyimpan dan mengolah hasil panen di tambak perikanan menjadi berbagai produk pangan. Beberapa di antaranya adalah kerupuk dan sistik yang terbuat dari ikan serta udang. Dengan adanya produk yang lebih beragam, mereka juga bisa menghasilkan lebih banyak uang tanpa harus bergantung pada tengkulak seperti sebelumnya. Bahkan, Ibu Mandiri sudah pernah membuka booth di acara Cilacap Expo 2019 dengan dukungan organisasi Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI).

     

    Sumber energi terbarukan yang bersih sangat diperlukan oleh daerah yang belum terelektrifikasi. Sebab, dengan adanya penerangan dan aliran listrik untuk menggunakan peralatan yang praktis, taraf hidup mereka akan meningkat. Pada saat yang bersamaan, penggunaan listrik terbarukan ini juga akan membantu pelestarian lingkungan dengan mengurangi jejak karbon. 

    Sebagaimana para warga Dusun Bondan, Anda juga bisa menggunakan energi bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, misalnya dengan memasang PLTS Atap. Anda dapat memulai dengan mengetahui kapasitas panel surya yang dibutuhkan terlebih dahulu melalui kalkulator surya SolarHub. Setelah itu, temukan vendor pemasangan PLTS Atap yang paling dekat dengan tempat tinggal Anda di direktori SolarHub.

     

    Referensi:

    https://jamtani.or.id/public/programkerja/8/keterlibatan-kelompok-ibu-mandiri-dalam-pameran-produk-cilacap-expo-2019

    https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-57766814

    https://kalkulator.solarhub.id/

    https://solarhub.id/

  • 6 Merek Fashion yang Beralih ke Tenaga Surya

    6 Merek Fashion yang Beralih ke Tenaga Surya

    Menurut sebuah penelitian, ditemukan bahwa fashion merupakan salah satu industri yang cukup berbahaya bagi lingkungan. Alasannya, industri ini menjadi sumber dari 10% total emisi karbon yang dihasilkan oleh manusia. Tidak berhenti di situ, industri fashion juga diketahui sebagai konsumen utama persediaan air dunia.

    Oleh karena itu, beberapa brand fashion mulai berkomitmen untuk menerapkan solusi ramah lingkungan dengan cara mereka masing-masing. Tidak hanya menerapkan sumber energi terbarukan seperti tenaga surya dalam operasionalnya, beberapa brand juga memiliki cara unik mereka masing-masing. 

    Brand Fashion yang Telah Menggunakan Tenaga Surya

    Hampir seluruh brand besar telah sadar akan pentingnya penggunaan energi terbarukan, termasuk di antaranya adalah brand-brand fashion. Bahkan, beberapa brand ini memiliki cara unik untuk mendorong penggunaan tenaga surya, baik dalam proses produksi maupun pada keseharian konsumen mereka. Memangnya, brand apa saja yang telah menggunakan tenaga surya?

    1. H&M

    Brand fashion pertama yang menjunjung tinggi sustainability adalah H&M, sebuah brand asal Swedia. Untuk menunjukkannya, H&M telah bekerja sama dengan GIZ, sebuah agensi pengembangan berkelanjutan asal Jerman. Bersama dengan GIZ, H&M mendukung pemasangan panel tenaga surya di beberapa supplier mereka. Sejauh ini, mereka telah membantu instalasi panel surya pada supplier mereka yang berlokasi di China dan India.

    2. Ralph Lauren

    Berikutnya, ada Ralph Lauren yang dikenal sebagai brand fashion pria asal Amerika Serikat. Pada 2019 lalu, Ralph Lauren menyatakan bergabung dengan kampanye dari The Climate Group yang diberi nama RE100. Melalui kampanye tersebut, The Climate Group akan membantu anggotanya untuk mencapai 100% penggunaan listrik dari sumber energi terbarukan sebelum tahun 2050.

    Ralph Lauren sendiri memiliki target akan mencapai angka 100% pada tahun 2025. Rencananya, brand satu ini akan melakukan power purchase agreement dengan beragam proyek tenaga surya lokal di Amerika Utara. CEO dari brand ini, Patrice Louvet, menyatakan bahwa target tersebut menunjukkan bahwa Ralph Lauren sangat mendukung usaha perlawanan terhadap krisis iklim.

    3. Pauline van Dongen

    Jika brand fashion sebelumnya melakukan power purchase agreement untuk memenuhi kewajiban menjaga sustainability, hal yang berbeda dilakukan oleh Pauline van Dongen. Brand asal Belanda ini justru menggabungkan fashion dengan teknologi untuk menciptakan pakaian yang bisa juga berfungsi sebagai panel surya.

    Nantinya, energi yang terkumpul dalam pakaian bernama Wearable Solar ini bisa digunakan untuk mengisi daya smartphone atau gadget lainnya. Tidak hanya fungsional, desain dari pakaian ini juga terlihat keren dengan gaya avant-garde.

    4. Noon Solar

    Ternyata, usaha menyatukan fashion dengan teknologi tenaga surya bukanlah hal baru. Bahkan, konsep ini sudah dilakukan sejak tahun 2003 oleh Noon Solar. Bedanya, Noon Solar menggabungkan teknologi tenaga surya dengan handbag. Dengan energi yang dikumpulkan tersebut, pengguna tas bisa mengisi daya alat elektronik mereka. 

    Sayangnya, Noon Solar telah berhenti beroperasi sejak 2010 lalu. Namun, Marianne Fairbanks, salah satu pendiri perusahaan tersebut, hingga kini masih berusaha untuk mengembangkan solar textile yang lebih efisien.

    5. Tommy Hilfiger

    Brand fashion berikutnya yang berusaha menyatukan antara produk fashion dengan teknologi tenaga surya adalah Tommy Hilfiger. Untuk mewujudkan hal tersebut, Tommy Hilfiger bekerja sama dengan sebuah startup bernama Pvilion. Startup ini sendiri sejak awal memang berencana untuk dapat mengintegrasikan panel surya dalam beragam produk sehari-hari. 

    Bersama dengan Tommy Hilfiger, Pvilion telah menciptakan beberapa produk fashion yang dilengkapi dengan panel surya. Salah satunya adalah sebuah jaket unisex yang dilengkapi dengan beberapa panel surya di bagian punggungnya. Di dalamnya, Anda bisa menemukan baterai tersembunyi dan colokan USB untuk mengisi daya gadget Anda.

    6. Silvr Lining

    Terakhir, ada brand Silvr Lining yang mengeluarkan koleksi urban sportswear dengan nama GO Collection. Keunikan dari koleksi ini adalah terintegrasinya panel surya di seluruh pakaian dalam koleksi tersebut. Jadi, Anda bisa menemukan rompi, jaket, hingga celana kargo yang dilengkapi dengan panel surya untuk mengisi daya gadget Anda. Bahkan, panel surya tersebut dapat dengan mudah dilepas agar pemilik bisa mencucinya dengan aman.

     

    Jika Anda peduli dengan perlawanan terhadap krisis iklim, tentu saja tidak ada salahnya apabila Anda mulai memilih menggunakan brand-brand yang memiliki ideologi sama. Tidak berhenti di situ, Anda juga bisa menerapkan usaha menjaga lingkungan tersebut dalam kehidupan Anda sehari-hari. Misalnya saja dengan memasang PLTS Atap di rumah Anda.

    Agar Anda tidak bingung, langkah pertama yang harus dilakukan sebelum memutuskan memasang PLTS Atap adalah mengetahui kebutuhan energi Anda. Untuk itu, Anda bisa menggunakan kalkulator surya dari SolarHub agar perhitungan makin mudah.

    Setelah itu, barulah Anda bisa mencari perusahaan penyedia panel tenaga surya terdekat dari lokasi Anda melalui direktori SolarHub. Yuk, mulai memakai panel surya untuk kebutuhan sehari-hari!

     

    Referensi:

    https://iesr.or.id/penurunan-emisi-karbon-melalui-pengembangan-energi-terbarukan-butuh-kolaborasi-semua-pihak

    https://iesr.or.id/aktivitasmu-menyumbang-pemanasan-global-bagaimana-bisa

    https://iesr.or.id/plts-jawab-kebutuhan-industri-dan-komersial-untuk-sediakan-produk-hijau

    https://kalkulator.solarhub.id

    https://solarhub.id

    https://www.weforum.org/agenda/2020/01/fashion-industry-carbon-unsustainable-environment-pollution/

    https://www.voguebusiness.com/sustainability/inside-fashions-switch-to-green-electricity

    https://www.theguardian.com/sustainable-business/sustainable-fashion-blog/fashion-technology-renewable-energy-solar-charge-smartphone

    https://www.smithsonianmag.com/innovation/chemist-designer-team-up-to-weave-solar-panels-into-fabric-180960431/

    https://www.designnews.com/startup-brings-solar-power-urban-fashion

    https://www.whowhatwear.com/solar-powered-clothing

    https://earthtechling.com/2011/11/solar-powered-fashion-meets-high-design/