Tag: plts

  • Cara Tepat Menghitung Beban Listrik Sebelum Memasang Panel Surya

    Cara Tepat Menghitung Beban Listrik Sebelum Memasang Panel Surya

    Banyak orang ingin segera memasang panel surya karena tergiur manfaat hemat listrik. Tetapi pertanyaan pentingnya: apakah kapasitas yang dipilih sudah sesuai dengan kebutuhan rumah? Tanpa menghitung beban listrik terlebih dahulu, sistem yang dipasang bisa jadi terlalu kecil atau malah terlalu besar. Kedua kondisi ini tentu merugikan.

    Beban listrik adalah jumlah energi yang digunakan seluruh perangkat elektronik di rumah. Mulai dari lampu, kulkas, AC, hingga peralatan kecil seperti charger ponsel, semuanya menyumbang konsumsi energi harian. Dengan mengetahui total kebutuhan ini, kita bisa memperkirakan berapa kapasitas panel surya yang harus dipasang agar hasilnya optimal.

    Langkah pertama adalah membuat daftar seluruh peralatan listrik di rumah beserta daya (watt) dan perkiraan jam penggunaan per hari. Misalnya:

    • Kulkas: 150 W × 24 jam = 3.600 Wh/hari
    • AC (1 unit): 1.000 W × 4 jam = 4.000 Wh/hari
    • TV: 100 W × 4 jam = 400 Wh/hari
    • Lampu (8 buah × 10 W): 80 W × 5 jam = 400 Wh/hari
    • Mesin cuci: 500 W × 1 jam = 500 Wh/hari
    • Charger & perangkat kecil: 200 W × 4 jam = 800 Wh/hari

    Jika dijumlahkan, totalnya adalah 9.700 Wh/hari atau setara dengan 9,7 kWh per hari. Angka inilah yang menggambarkan kebutuhan beban harian rumah.

    Tahap berikutnya adalah menambahkan faktor cadangan. Panel surya tidak selalu bekerja maksimal karena pengaruh cuaca, efisiensi inverter, hingga kondisi baterai. Umumnya ditambahkan margin sekitar 20–30%. Dengan margin 25%, maka kebutuhan energi menjadi: 9,7 kWh + (25% × 9,7 kWh) = 12,1 kWh per hari.

    Sekarang, kebutuhan ini perlu diterjemahkan ke dalam kapasitas panel surya. Rata-rata 1 kWp panel surya di Indonesia mampu menghasilkan sekitar 4,2 kWh per hari. Jadi, perhitungannya: 12,1 kWh ÷ 4,2 kWh/kWp = 2,9 kWp. Untuk keamanan, dibulatkan ke atas sehingga kapasitas panel surya yang disarankan adalah 3 kWp.

    Selain jumlah energi, pola penggunaan listrik juga penting diperhatikan. Rumah yang lebih banyak menggunakan listrik di siang hari bisa mengandalkan sistem grid-tied. Sedangkan untuk rumah dengan kebutuhan dominan di malam hari, penambahan baterai penyimpanan menjadi solusi yang tepat.

    Kesalahan umum lain adalah tidak menyesuaikan dengan kebutuhan jangka panjang. Misalnya, saat ini hanya ada dua AC, tetapi dalam beberapa tahun bisa bertambah. Jika hal ini tidak diperhitungkan, maka kapasitas panel surya akan terasa kurang. Karena itu, sisakan ruang untuk ekspansi di masa depan.

    Dengan perhitungan yang tepat, panel surya akan menjadi investasi yang efisien sekaligus ramah lingkungan. Listrik rumah tetap stabil, biaya berkurang, dan kenyamanan terjaga. Itulah sebabnya menghitung beban listrik bukan sekadar langkah teknis, melainkan kunci agar energi surya benar-benar memberi manfaat maksimal.

  • Komponen Kecil Namun Penting yang Menentukan Kinerja PLTS

    Komponen Kecil Namun Penting yang Menentukan Kinerja PLTS

    Siapa sangka, sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terlihat kompleks bisa bergantung pada komponen sekecil konektor? Salah satu yang sering kali luput dari perhatian adalah MC4, penghubung kabel yang menentukan lancar atau tidaknya aliran listrik dari panel menuju inverter. Tanpa kehadiran komponen ini, energi dari matahari tak akan bisa dimanfaatkan secara maksimal.

    MC4 sendiri merupakan singkatan dari Multi-Contact 4 millimeter. Meski bentuknya sederhana, fungsi utamanya sangat krusial: memastikan kabel pada panel surya terhubung dengan kuat, aman, dan efisien. Bisa dibilang, MC4 adalah “jembatan” kecil yang mengalirkan listrik agar sistem PLTS bekerja tanpa hambatan.

    Gambar 1. Multi-Contact 4 millimeter

    Yang menarik, MC4 bukan sekadar konektor biasa. Desainnya dilengkapi dengan sistem pengunci khusus sehingga sambungan kabel tidak mudah lepas. Ditambah lagi, MC4 biasanya tahan terhadap air, debu, dan sinar ultraviolet dengan standar IP67 atau IP68. Artinya, meski ditempatkan di luar ruangan dengan kondisi cuaca ekstrem, MC4 tetap mampu menjaga aliran listrik tetap stabil.

    Masalahnya, banyak orang masih menyepelekan pemilihan MC4. Konektor yang tidak berkualitas bisa menimbulkan risiko serius: dari pemanasan berlebih (overheating), kebocoran arus, sampai potensi korsleting yang berbahaya. Semua itu bermula hanya karena sambungan listrik tidak sempurna akibat penggunaan komponen tiruan atau pemasangan yang asal-asalan.

    Perbedaan antara MC4 asli dan tiruan biasanya terlihat dari daya tahannya. Produk asli menggunakan bahan tahan api dan UV yang bisa bertahan hingga umur panel, sekitar 25 tahun lebih. Sementara itu, MC4 tiruan mungkin lebih murah, tapi tidak mampu memberikan jaminan keamanan dan ketahanan dalam jangka panjang. Akibatnya, kerugian energi dan biaya bisa jauh lebih besar daripada selisih harga konektor.

    Yang sering tidak disadari, konektor kecil ini juga bisa mempengaruhi efisiensi sistem PLTS. Sambungan yang buruk menimbulkan resistansi listrik tambahan, yang berarti sebagian energi terbuang sia-sia. Dalam skala besar, penurunan efisiensi ini bisa berdampak signifikan pada hasil produksi listrik.

    Tidak kalah penting, pemasangan MC4 juga harus dilakukan dengan benar. Proses crimping kabel, penguncian, hingga pengecekan ketat menjadi langkah wajib bagi teknisi. Kesalahan sekecil apa pun bisa menurunkan performa atau bahkan menimbulkan bahaya. Itu sebabnya, instalasi PLTS profesional selalu menekankan standar tinggi dalam penggunaan MC4.

    Kesimpulannya, MC4 mungkin kecil dan sering terabaikan, tetapi perannya tidak bisa digantikan. Ia adalah penghubung yang menentukan apakah energi surya bisa mengalir lancar atau justru terhambat di tengah jalan. Jadi, saat membangun atau menggunakan PLTS, jangan sampai melupakan detail kecil ini—karena konektor yang tepat adalah kunci dari sistem yang andal dan berumur panjang.

  • Fakta Mengejutkan: Panel Surya Bukan Perangkat Elektronik Seperti yang Dibayangkan

    Fakta Mengejutkan: Panel Surya Bukan Perangkat Elektronik Seperti yang Dibayangkan

    Siapa sangka, panel surya yang sering kita lihat di atap rumah atau gedung ternyata bukan perangkat elektronik seperti televisi atau komputer. Banyak orang mengira panel surya bekerja dengan rangkaian kabel rumit dan chip elektronik canggih, padahal cara kerjanya justru lebih sederhana sekaligus menakjubkan. Fakta ini membuat banyak orang salah kaprah dalam memahami teknologi energi terbarukan yang satu ini.

    Rahasia utama panel surya ada pada sel surya berbahan semikonduktor, biasanya terbuat dari silikon. Material ini memiliki kemampuan khusus untuk menyerap energi cahaya matahari dan mengubahnya menjadi listrik. Proses ini disebut efek fotovoltaik, dan yang menarik, hal tersebut murni terjadi karena sifat fisika material, bukan karena rangkaian elektronik kompleks. Jadi, bisa dikatakan prinsip kerja panel surya lebih dekat ke “alat fisika” dibanding “perangkat elektronik”.

    Pernah terpikir mengapa panel surya tidak memiliki tombol on/off layaknya perangkat elektronik lain? Itu karena panel surya langsung menghasilkan arus listrik begitu terkena cahaya matahari. Tidak ada sistem saklar atau chip pengendali di dalamnya. Energi listrik yang dihasilkan baru kemudian diatur oleh perangkat tambahan seperti inverter atau baterai, barulah di titik itu teknologi elektronik berperan penting.

    Yang lebih mengejutkan, panel surya bisa tetap berfungsi puluhan tahun tanpa komponen bergerak. Berbeda dengan barang elektronik yang cepat rusak karena sirkuit dan komponennya aus, panel surya hanya bergantung pada daya tahan material semikonduktornya. Inilah alasan mengapa banyak produsen berani memberi garansi hingga 25 tahun.

    Banyak juga yang tidak tahu bahwa panel surya tidak menyimpan listrik. Lagi-lagi, ini membuktikan bahwa panel surya bukanlah perangkat elektronik. Panel hanya bertugas mengubah sinar matahari menjadi arus listrik seketika. Untuk menyimpan energi, dibutuhkan perangkat khusus yaitu baterai atau sistem penyimpanan lain yang memang berbasis teknologi elektronik.

    Di sisi lain, pemahaman keliru tentang panel surya sering membuat orang salah mengambil keputusan. Misalnya, ada yang mengira panel bisa tetap menghasilkan listrik meski disimpan di ruangan gelap. Padahal, panel hanya bekerja jika ada cahaya matahari yang mengenai permukaannya. Jadi, bukan perangkat elektronik yang bisa dihidupkan kapan saja, melainkan perangkat pasif yang menunggu energi dari alam.

    Fakta lainnya, teknologi panel surya terus berkembang menuju efisiensi yang lebih tinggi. Dari awalnya hanya sekitar 10%, kini beberapa jenis panel mampu mengubah lebih dari 22% energi matahari menjadi listrik. Semua pencapaian ini tetap bertumpu pada inovasi material semikonduktor, bukan penambahan komponen elektronik di dalam panel itu sendiri.

    Kesimpulannya, panel surya bukanlah perangkat elektronik, melainkan alat fisika berbasis material semikonduktor yang bekerja secara alami dengan sinar matahari. Inilah yang membuatnya berbeda sekaligus istimewa dibanding teknologi lain. Jadi, setiap kali melihat panel surya, ingatlah bahwa Anda sedang menyaksikan salah satu keajaiban sederhana alam yang dimanfaatkan manusia untuk masa depan energi bersih.

  • Mengungkap Rahasia Lapisan Modul Surya: Apa Saja yang Ada Didalamnya?

    Mengungkap Rahasia Lapisan Modul Surya: Apa Saja yang Ada Didalamnya?

    Di era globalisasi ini, perkembangan teknologi sangatlah pesat dan kebutuhan akan listrik sebagai sumber energinya pun semakin besar. Tingginya permintaan listrik ini dibarengi juga dengan perkembangan komponen penghasil energi listrik salah satunya modul surya. Masyarakat Indonesia sudah semakin mengenal pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) khususnya modul surya, tapi banyak yang hanya melihatnya sebagai “kotak kaca hitam di atap”. Padahal, di dalamnya ada banyak lapisan penting yang membuat modul surya bisa mengubah cahaya matahari menjadi listrik. Penting sekali untuk mengenal komponen dan lapisan-lapisan penyusun modul surya, terlebih untuk konsumen yang akan memasang PLTS, agar paham terkait kualitas dan bagaimana memilih modul surya.  

    Untuk memudahkan membayangkannya, struktur modul surya bisa diibaratkan seperti sandwich. Setiap lapisan roti, selai, dan isian dalam sandwich punya fungsi masing-masing seperti ada yang berfungsi melindungi, merekatkan, dan yang menjadi inti rasa. Sama halnya dengan modul surya: ada lapisan pelindung, perekat, hingga sel fotovoltaik yang menjadi “isi utama” dalam menghasilkan listrik. Dengan memahami susunan lapisan ini, kita jadi tahu bahwa modul surya bukan sekadar kaca di atap, melainkan hasil rekayasa teknologi yang detail dan diperhitungkan dengan baik. 

    Modul surya atau modul fotovoltaik terdiri dari sejumlah sel fotovoltaik yang terhubung secara seri. Sel-sel dan kawat busbar penghubungnya dilindungi oleh bahan pelapis atau enkapsulasi yang melindungi sel-sel dari kontak langsung dengan lingkungan dan kekuatan-kekuatan mekanik yang mampu merusak sel-sel yang tipis. Struktur-struktur itu terdiri dari:  

    • Bingkai atau frame  

    Fungsi dari bingkai ini yaitu untuk memastikan kekokohan panel. Bingkai modul surya biasanya terbuat dari alumunium anodized untuk menghindari korosi. Oleh karena pemasangan bingkai dilakukan di akhir proses pembuatan.  

    • Kaca pelindung  

    Kaca pelindung terletak di bagian paling atas dari modul surya yang berfungsi sebagai pelindung modul dari cuaca dan dan benturan. Kaca transparan ini juga memastikan kekokohan modul surya sehingga mengambil proporsi tertinggi dari total berat modul surya.  

    • Enkapsulasi 

    Enkapsulasi atau laminasi adalah lapisan antara sel fotovoltaik dan kaca pelindung. Laminasi digunakan untuk mencegah kerusakan mekanis pada sel fotovoltaik dan mengisolasi tegangan dari sel fotovoltaik dengan bagian modul lainnya. Biasanya lembaran laminasi menggunakan bahan ethylene-vinyl acetate (EVA). 

    • Sel fotovoltaik 

    Sel fotovoltaik merupakan komponen utama dari modul surya. Sel ini terbuat dari bahan semikonduktor yang menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi listrik. Sel-sel saling terhubung secara seri untuk mendapatkan tegangan total yang lebih tinggi melalui kawat busbar. Bahan yang digunakan untuk sel fotovoltaik umumnya adalah silikon, seperti polycrystalline dan monocrystalline. 

    • Lembar insulasi atau backsheet 

    Lembar ini berada di bagian belakang dari modul surya dan biasanya berwarna putih atau hitam. Terbuat dari bahan plastik yang berfungsi untuk melindungi dan secara elektrik mengisolasi sel-sel dari kelembapan dan cuaca.  

    • Kotak junction  

    Junction box digunakan sebagai terminal penghubung antara serangkaian sel fotovoltaik ke beban atau ke modul surya lainnya. Perangkat ini berisi kawat busbar dari rangkaian sel fotovoltaik, kabel, dan bypass diode.  

     

    Sumber: Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya Dos & Don’ts 

    Pentingnya memahami lapisan modul surya bukan hanya menguntungkan dari segi produsen atau teknisi tapi dari segi konsumen juga. Pertama, pengetahuan tentang struktur modul bisa membuat konsumen lebih percaya diri dalam memilih produk. Misalnya, modul yang menggunakan kaca anti-reflektif mampu menangkap cahaya matahari lebih baik, sehingga menghasilkan listrik lebih banyak. Begitu juga dengan EVA yang berkualitas tinggi dapat menjaga sel fotovoltaik tetap terlindungi dari kerusakan halus akibat panas atau getaran. Sementara itu, backsheet tahan UV berperan penting melindungi modul dari kelembapan dan paparan sinar matahari jangka panjang. 

    Kedua, pemahaman ini juga menyadarkan konsumen bahwa modul surya bukan sekadar “kotak kaca hitam di atap”, tetapi perangkat teknologi canggih hasil rekayasa bertahun-tahun. Setiap lapisan dirancang agar saling mendukung, mulai dari melindungi sel fotovoltaik, mengoptimalkan penyerapan cahaya, hingga memastikan listrik dapat disalurkan dengan aman. Dengan begitu, konsumen bisa lebih menghargai nilai investasi pada modul surya, sekaligus memahami mengapa kualitas berbeda-beda antar merek. 

    Memahami lapisan-lapisan dalam modul surya membuat kita sadar bahwa setiap detail memiliki peran penting dalam menjaga performa dan umur pakai modul. Pengetahuan ini tidak hanya bermanfaat bagi produsen atau teknisi, tetapi juga bagi konsumen yang ingin berinvestasi pada energi bersih.  Pada akhirnya, modul surya bukan sekadar perangkat teknologi, melainkan salah satu kunci menuju masa depan energi yang lebih berkelanjutan di Indonesia. 

  • Menilik Kebijakan: Apakah PLTS Jadi Prioritas?

    Menilik Kebijakan: Apakah PLTS Jadi Prioritas?

    Transisi energi yang inklusif dan berkeadilan menjadi cita-cita Indonesia saat ini. Sudah menjadi agenda penting bagi Indonesia untuk menuju sumber yang lebih bersih dan terbarukan dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah menargetkan porsi energi baru dan terbarukan mencapai 23% dalam bauran energi nasional pada tahun 2025 meskipun saat ini diturunkan menjadi 20%. Energi surya memiliki peranan penting dalam membantu mencapai target ini karena salah satu solusi yang menjanjikan dengan potensi lebih dari 200 GWp. Namun, di Tengah peluang tersebut, pertanyaannya adalah: apakah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) benar-benar menjadi prioritas dalam kebijakan energi Indonesia? Tentunya salah satu hal yang berpengaruh dalam berhasilnya transisi energi di Indonesia ini adalah kebijakan serta regulasi yang mengatur mulai dari mekanisme investasi, pengadaan teknologi, instalasi, dan lain sebagainya.

    Dalam dokumen kebijakan resmi RUPTL PLN 2021–2030, porsi pengembangan PLTS masih cukup kecil yaitu sekitar 4,7 GW dari total seluruh pembangkit EBT yang direncanakan dalam periode RUPTL tersebut yaitu 20,9 GW. Angka tersebut dinilai cukup kecil karena potensi energi surya di Indonesia yang besar dan tersebar di seluruh Indonesia. Adapun Peraturan Presiden (Perpres) No. 112 Tahun 2022 yang menjelaskan mengenai harga pembelian listrik EBT salah satunya PLTS tapi dalam pengaplikasiannya masih terkendala hal teknis dan birokratis. Misalnya, meskipun harga sudah ditetapkan, proses pengadaan masih harus melewati mekanisme penunjukan langsung atau lelang yang tentunya memakan waktu yang cukup lama. Sementara itu, Permen ESDM No. 2 Tahun 2024 yang mengatur tentang PLTS atap justru menimbulkan permasalahan karena skema net-metering yang dihilangkan dinilai merugikan konsumen yang sudah memasang PLTS karena kelebihan listrik yang dihasilkan tidak dapat dijual ke PLN.

    Nyatanya, data dari Kementerian ESDM per akhir 2024 menunjukkan bahwa kapasitas PLTS terpasang secara nasional masih di bawah 1 GWp, atau hanya sekitar 10% dari target jangka menengah. Padahal, untuk mendukung target net-zero emission (NZE) dan target bauran EBT 20% di tahun 2025, peran PLTS sangat krusial sebagai teknologi yang dapat dibangun dengan cepat dan modular. Perubahan Permen ESDM No. 26 tahun 2021 ke Permen ESDM No. 2 tahun 2024 juga menyebabkan turunnya minat masyarakat untuk mulai memakai PLTS di rumahnya.

    Beberapa permasalahan dan tantangan utama pengembangan PLTS di Indonesia berasal dari sisi regulasi dan teknis pengaplikasian di lapangan. Dari segi regulasi, kebijakan yang dibuat oleh pemerintah masih merugikan masyarakat karena tidak bisa menjual kelebihan listrik yang dihasilkan ke PLN sehingga tidak ada nilai pengurangan tagihan listrik disamping nilai investasi awal PLTS yang masih cukup mahal di Indonesia. Dari segi teknis, PLTS masih belum stabil dalam menghasilkan listrik beroperasi secara intermiten dan membutuhkan sistem penyimpanan berupa baterai yang harganya cukup mahal menjadi penyebab masyarakat masih bergantung pada pembangkit yang berbasis energi fosil.

    Dari penjelasan-penjelasan sebelumnya, agar PLTS bisa menjadi pilar utama dalam transisi energi nasional, dibutuhkan langkah-langkah strategis yang lebih nyata. Pemerintah perlu menyusun roadmap khusus pengembangan PLTS dengan target tahunan yang realistis dan diperlukannya mekanisme evaluasi. Selain itu, perlu adanya insentif fiskal dan keuangan yang dapat meningkatkan daya tarik masyarakat untuk berinvestasi terutama untuk sektor rumah tangga dan industri kecil.

    PLTS merupakan salah satu pilar penting dalam mencapai bauran energi yang bersih, berkelanjutan, dan terjangkau. Namun dalam praktiknya, berbagai kebijakan yang ada belum mendukung sepenuhnya PLTS sebagai prioritas. Tanpa dorongan kebijakan yang kuat, insentif yang menarik, serta infrastruktur yang mendukung, maka potensi besar tenaga surya di Indonesia akan sulit terwujud sepenuhnya.

  • Energi Terbarukan dari Permukaan Air: Apa Itu PLTS Terapung?

    Energi Terbarukan dari Permukaan Air: Apa Itu PLTS Terapung?

    Saat permukaan darat semakin padat dan kebutuhan energi terus meningkat, muncul pertanyaan menarik: mungkinkah permukaan air seperti danau dan waduk dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik? Inilah yang menjadi dasar pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS terapung), sebuah teknologi yang menggabungkan efisiensi pemanfaatan ruang dengan potensi energi terbarukan. Dengan memanfaatkan permukaan air yang luas dan belum termanfaatkan secara optimal, PLTS terapung menawarkan solusi inovatif terhadap tantangan transisi energi bersih di tengah keterbatasan lahan.

    PLTS terapung bekerja dengan prinsip yang sama seperti PLTS konvensional, yakni mengubah energi matahari menjadi listrik melalui sel fotovoltaik. Bedanya, sistem ini dipasang di atas permukaan air seperti danau, waduk, bendungan, atau bahkan laut tenang. Panel surya diletakkan pada struktur pelampung yang stabil dan tahan korosi, lalu dihubungkan dengan kabel bawah air ke jaringan listrik darat. Lingkungan perairan memberikan efek pendinginan alami yang meningkatkan efisiensi panel hingga 5–15% dibanding instalasi darat (IRENA, 2023).

    Keunggulan PLTS terapung tidak hanya terbatas pada efisiensi teknis. Ia juga menawarkan solusi atas keterbatasan lahan, terutama di negara-negara dengan kepadatan penduduk tinggi atau keterbatasan ruang terbuka. Di Indonesia, potensi lahan untuk PLTS darat memang luas, namun seringkali berbenturan dengan kebutuhan pangan, kehutanan, atau konservasi. Berdasarkan studi Kementerian ESDM tahun 2022, potensi teknis PLTS terapung di Indonesia mencapai lebih dari 28 GWp, terutama dari waduk-waduk besar seperti Jatiluhur, Cirata, dan Saguling.

    Contoh konkret dari implementasi PLTS terapung di Indonesia adalah proyek Cirata Floating Solar Plant di Jawa Barat, yang digarap oleh PT PLN dan Masdar dari Uni Emirat Arab. PLTS ini memiliki kapasitas 145 MWac dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara saat mulai beroperasi pada tahun 2024. Proyek ini tidak hanya menunjukkan kapasitas teknologi nasional, tetapi juga komitmen Indonesia dalam mengejar target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025, sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

    Secara global, negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan telah memanfaatkan teknologi ini lebih awal. Jepang, misalnya, telah mengoperasikan lebih dari 60 PLTS terapung skala komersial sejak 2015. Salah satu proyek unggulannya adalah Yamakura Dam Floating Solar Plant dengan kapasitas 13,7 MW. Negara-negara ini tidak hanya memanfaatkan energi bersih, tetapi juga mengurangi penguapan air dan pertumbuhan alga berlebih, dua efek positif tambahan dari pemasangan panel di atas air.

    Kendati menjanjikan, pengembangan PLTS terapung tetap menghadapi tantangan. Aspek teknis seperti ketahanan sistem terhadap angin kencang, ombak, dan korosi masih menjadi perhatian, terutama jika ingin diterapkan di laut terbuka. Selain itu, perizinan pemanfaatan ruang perairan, potensi dampak ekologis terhadap ekosistem akuatik, dan kebutuhan investasi awal yang relatif tinggi menjadi faktor yang harus dikaji secara menyeluruh. Studi yang dilakukan oleh World Bank Group (2021) mencatat bahwa biaya pembangunan PLTS terapung berkisar antara 20–25% lebih tinggi dari PLTS darat, meski tren ini terus menurun seiring skala produksi meningkat.

    Meski tantangan tersebut tidak bisa diabaikan, peluang yang ditawarkan jauh lebih besar. PLTS terapung membuka opsi pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam perencanaan energi nasional. Selain itu, ia juga sejalan dengan pendekatan multi-fungsi ruang perairan yang berkelanjutan, khususnya di negara kepulauan seperti Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang progresif, skema pembiayaan yang inklusif, dan peningkatan kapasitas SDM lokal, PLTS terapung dapat menjadi motor penggerak utama dalam dekarbonisasi sektor energi.

    Dengan meningkatnya urgensi krisis iklim dan dorongan global untuk menekan emisi karbon, PLTS terapung muncul sebagai bagian penting dari portofolio solusi energi bersih. Ia bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan juga simbol dari adaptasi cerdas terhadap tantangan keterbatasan ruang dan kebutuhan energi yang terus tumbuh. Masa depan energi terbarukan tak lagi hanya terbentang di daratan, melainkan juga mengambang dengan tenang di permukaan air.

     

  • PLTS Atap: Masa Depan Energi Kita?

    PLTS Atap: Masa Depan Energi Kita?

    Di tengah semakin meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis energi dan percepatan perubahan iklim global, muncul pertanyaan penting: apakah atap rumah kita bisa menjadi pembangkit listrik pribadi dan sumber energi masa depan? Bayangkan jika setiap rumah, sekolah, kantor, hingga pabrik tidak hanya mengonsumsi listrik, tetapi juga memproduksi energi bersih secara mandiri. Konsep ini kini mulai diterapkan secara luas melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap, sebuah inovasi desentralisasi energi yang berpotensi mengubah sistem energi global, termasuk di Indonesia.

    PLTS atap menggunakan teknologi fotovoltaik (PV) yang mengubah sinar matahari langsung menjadi listrik. Panel surya dipasang di atap bangunan dan terhubung dengan inverter agar listrik yang dihasilkan bisa digunakan langsung atau disalurkan ke jaringan listrik umum. Di negara tropis seperti Indonesia, potensi energi surya sangat besar, dengan rata-rata radiasi matahari sekitar 4,8 kWh/m² per hari dan potensi teknis nasional mencapai 3.294 GWp. Namun, hingga tahun 2024, kapasitas terpasang PLTS atap baru sekitar 96 MWp, jauh di bawah target 3,6 GWp pada 2025 sesuai Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

    Pemanfaatan PLTS atap memberikan banyak keuntungan, seperti menyediakan energi bersih yang mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan membantu menurunkan emisi gas rumah kaca. Namun, biaya pemasangan awal yang relatif tinggi masih menjadi tantangan, dengan estimasi biaya sekitar Rp 24 juta hingga Rp 33 juta per kWp. Meski demikian, biaya ini dapat dianggap sebagai investasi jangka panjang karena penghematan tagihan listrik yang signifikan memungkinkan titik impas tercapai dalam 6 hingga 7 tahun. Selain itu, PLTS atap juga meningkatkan nilai properti dan membuka peluang lapangan kerja di sektor energi terbarukan. Dengan dukungan kebijakan dan kemajuan teknologi, manfaat jangka panjang PLTS atap diyakini jauh lebih besar dibandingkan tantangan yang ada.

    Dari sisi ekonomi, PLTS atap dapat mengurangi biaya energi secara signifikan. Menurut simulasi Direktorat Jenderal EBTKE (2023), rumah tangga dengan daya listrik sekitar 1.300 VA yang memasang PLTS atap berkapasitas 2 kWp dapat menghemat sekitar 30–40% dari tagihan listrik bulanan. Misalnya, jika tagihan listrik biasanya Rp800.000 per bulan, dengan PLTS atap bisa turun menjadi sekitar Rp480.000. Penghematan ini bahkan lebih besar di sektor komersial dan industri yang menggunakan listrik banyak di siang hari, saat produksi listrik PLTS atap mencapai puncaknya.

    Pengalaman dari negara lain juga menunjukkan bahwa PLTS atap bukan hanya pelengkap, tapi sudah menjadi bagian utama dari pasokan energi. Di Australia, misalnya, lebih dari 3,6 juta rumah telah memasang sistem surya atap hingga 2023, mencakup sekitar 30% rumah tangga. Program insentif seperti feed-in tariff dan kredit lunak membantu mempercepat adopsi teknologi ini. Di Jerman, PLTS atap menjadi bagian dari kebijakan Energiewende, dengan kapasitas tenaga surya lebih dari 50 GW yang sebagian besar berasal dari instalasi atap kecil dan menengah. Keberhasilan kedua negara ini menunjukkan bahwa dukungan kebijakan, insentif fiskal, dan edukasi publik sangat penting untuk mendorong penggunaan energi surya.

    Dari sisi lingkungan, PLTS atap membantu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan. Setiap 1 kWh listrik dari PLTS atap bisa menghindari emisi CO₂ sebesar 0,8–1,0 kg yang seharusnya dihasilkan oleh pembangkit batu bara. Jadi, jika satu rumah menggunakan 250 kWh listrik dari PLTS atap setiap bulan, emisi karbon yang bisa ditekan mencapai sekitar 3 ton per tahun. Jika satu juta rumah menggunakan PLTS atap, pengurangan emisi bisa mencapai 3 juta ton CO₂e per tahun, setara dengan menanam lebih dari 100 juta pohon.

    Di Indonesia, berbagai regulasi sudah diterbitkan untuk mendukung pemanfaatan PLTS atap, seperti Peraturan Menteri ESDM No. 26/2021 tentang sistem ekspor-impor listrik antara pengguna PLTS atap dan PLN. Meskipun skema net metering sudah ada, masih ada beberapa kendala, seperti kuota kapasitas yang dibatasi, teknis integrasi sistem yang kurang jelas, dan ketidakpastian insentif yang membuat minat investasi dan pemasangan oleh rumah tangga menjadi terbatas. Survei IESR (2023) menunjukkan 69% calon pengguna tertarik memasang PLTS atap, namun 51% dari mereka menunda karena masalah regulasi dan biaya awal.

    Dari sisi sosial, PLTS atap membuka peluang bagi masyarakat menjadi prosumen — yaitu produsen sekaligus konsumen energi yang aktif mendukung transisi energi. Teknologi ini juga menciptakan lapangan kerja hijau, mulai dari pembuatan modul, instalasi, hingga pemeliharaan dan pemantauan. International Renewable Energy Agency (IRENA) mencatat bahwa sektor tenaga surya menciptakan lebih dari 4,9 juta pekerjaan secara global pada 2022, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring percepatan transisi energi di berbagai negara berkembang.

    Dengan manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial yang nyata, PLTS atap seharusnya dipandang bukan hanya sebagai alternatif energi, melainkan sebagai bagian penting dari transformasi sistem energi nasional. Masa depan energi Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada pembangunan pembangkit besar, tetapi juga pada inovasi kecil dan tersebar yang dimulai dari atap rumah kita sendiri. Jika dukungan kebijakan, insentif pembiayaan, dan kesadaran masyarakat berjalan bersama, PLTS atap bukan hanya masa depan energi, tetapi juga solusi terbaik untuk saat ini.

  • 6 Lokasi Wisata yang Menggunakan Panel Surya untuk Sumber Energinya

    6 Lokasi Wisata yang Menggunakan Panel Surya untuk Sumber Energinya

    Pemerintah Indonesia memiliki target untuk mencapai bauran energi terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025. Namun, target tersebut baru tercapai 12,3% per tahun 2022 lalu. Demi meningkatkan bauran EBT, pemerintah pun melakukan berbagai upaya; salah satunya adalah memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berupa panel surya di berbagai tempat wisata di Indonesia.

    6 Tempat Wisata yang Menggunakan Panel Surya

    Tidak hanya untuk mempercepat pencapaian target bauran EBT, pemasangan panel surya di juga mendukung infrastruktur di tempat-tempat wisata. Dari sekian banyak tempat wisata yang ada di Indonesia, berikut beberapa di antaranya yang telah dilengkapi sistem solar panel.

    • Wisata Bukit Tinatar Piyungan

    Bukit Tinatar merupakan tempat wisata alam yang berada di Desa Srimulyo, Piyungan, Bantul. Dikelola oleh Desa Srimulyo, wisata satu ini menyajikan suasana alam khas bukit dengan pemandangan Jalan Wonosari. Sebagai salah satu upaya untuk mendukung green tourism di Wisata Bukit Tinatar, maka dipasanglah PLTS.

    Pemasangan PLTS di Wisata Bukit Tinatar dilakukan oleh Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta melalui Program Kemitraan Wilayah (PKW) 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kemendikbudristek. Memiliki kapasitas 100 WP, PLTS di Wisata Bukit Tinatar mampu menghidupkan tiga lampu yang terdapat di area wisata. 

    • Pantai Sendiki

    Berada di Desa Tambakrejo, Sumbermanjing, Malang, Pantai Sendiki berada cukup jauh dari area pemukiman warga sehingga belum mendapat akses listrik PLN. Namun, kini masalah tersebut telah teratasi berkat pemasangan panel surya sebagai PLTS di sejumlah titik area pantai, seperti jalan setapak dan atap warung. Berkapasitas 100 WP, solar panel di Pantai Sendiki mampu memberikan penerangan hingga 10 jam di setiap rumah pohon, kamar mandi, musala, hingga pos penjagaan. 

    • Kepri Coral Resort

    Jika mengunjungi Kepri Coral Resort di Batam, Kepulauan Riau, Anda akan menemukan banyak panel surya yang terpasang di area dermaga dan jalanan sepanjang pulau. Pemasangan solar panel ini mampu memenuhi hampir seluruh keperluan listrik di Kepri Coral Resort, termasuk listrik untuk 112 dome village. Ketika tamu penuh saat peak season, kebutuhan listrik akan dibantu dengan menggunakan genset.

    Dari seluruh solar panel yang terpasang, arus listrik dipusatkan di satu area untuk memenuhi kebutuhan Kepri Coral Resort. Pemasangan ini juga tidak terlepas dari komitmen Kepri Coral Resort untuk menyediakan resor berkonsep alamiah. Nah, penggunaan energi terbarukan merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan komitmen tersebut.

    • Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan

    Pemanfaatan panel surya sebagai PLTS juga bisa Anda temukan di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Setiap tempat memiliki PLTS dengan kapasitas berbeda, yaitu 600 kWp di Gili Trawangan, 160 kWp di Gili Air, dan 60 kWp di Gili meno; 

    Dengan kata lain, total kapasitas PLTS untuk ketiga tempat wisata di Lombok tersebut mencapai 820 kWp. Setiap harinya, ketiga PLTS tersebut beroperasi sejak pukul tujuh pagi hingga lima sore, sedangkan kebutuhan listrik untuk malam hari dipenuhi oleh jaringan PLN.

    Seluruh solar panel tersebut ditata dengan rapi sehingga menciptakan pemandangan yang menarik. Alhasil, kehadiran PLTS pun bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata tambahan di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Para pengunjung dapat mengamati jajaran PLTS tersebut dari luar pagar.

    • Pantai Sembilan

    Lokasi wisata satu ini memiliki nasib yang mirip dengan Pantai Sendiki, yakni berada di area terpencil sehingga tidak terjangkau akses listrik dari jaringan PLN. Bedanya, apabila Pantai Sendiri berada di Malang, maka Pantai Sembilan berlokasi di Gili Genting, Sumenep, Madura. 

    Kabar baiknya, kondisi tersebut berubah berkat hibah panel surya dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya pada 2017. Sejak saat itu, Pantai Sembilan memiliki aliran listrik sehingga semakin ramai pengunjung. Pihak pengelola memasang solar panel tersebut di berbagai area strategis pantai, seperti di bagian atap gazebo dan atap bangunan penginapan. 

    • Pulau Derawan

    Pulau Derawan sudah lama dikenal sebagai salah satu wisata dalam negeri yang memiliki keindahan alam bawah laut memukau. Demi menarik lebih banyak wisatawan, pihak pengelola pun mengembangkan Pulau Derawan sebagai green island. Mendukung hal tersebut, PLN membangun PLTS di area Pulau Derawan sebagai salah satu bentuk komitmen untuk mencapai Net Zero Emission 2060 melalui penggunaan EBT.

    Proyek PLTS Derawan pun dimulai pada 2012. Saat itu, kapasitas daya listrik maksimumnya masih mencapai 80 kWp untuk memenuhi kebutuhan listrik penduduk di Kepulauan Derawan. Namun, perbaikan dan pengembangan PLTS Derawan terus dilakukan demi menyuplai listrik yang lebih stabil bagi penduduk sekitar. Rencananya, revitalisasi PLTS Derawan akan dilakukan agar bisa menambah kapasitas listrik hingga 190 kWp.

     

    Ikut bangga rasanya melihat semakin banyak tempat wisata di Indonesia yang menggunakan panel surya sebagai sumber energi. Dengan mengunjungi tempat-tempat di atas, secara tidak langsung Anda pun sudah ikut berupaya melawan krisis iklim melalui dukungan terhadap green tourism. Namun, jika belum mendatangi berbagai tempat wisata di atas, Anda tetap bisa melawan krisis iklim dengan memasang PLTS Atap untuk rumah tangga. 

    Agar pemasangannya tepat sasaran, gunakan kalkulator SolarHub untuk menghitung kebutuhan panel surya Anda. Selanjutnya, segera cari perusahaan dan jasa pemasangan solar panel di direktori SolarHub. Kalau masih ingin cari tahu lebih banyak tentang PLTS Atap, Anda bisa klik di sini. Yuk, bersama-sama melawan krisis iklim dengan bantuan SolarHub!

     

    Referensi:

    https://lldikti5.kemdikbud.go.id/home/detailpost/ujb-aplikasikan-listrik-tenaga-surya-di-lokasi-wisata-bukit-tinatar-piyungan

    https://lautsehat.id/gaya-hidup/annisa/panel-surya-untuk-listrik-berkelanjutan-di-pantai-daerah-terpencil/

    https://www.mongabay.co.id/2020/12/17/matahari-penuhi-keperluan-energi-obyek-wisata-di-pulau-pengalap/

    https://web.pln.co.id/cms/media/2022/10/pln-operasikan-plts-pulau-derawan-di-kalimantan-kawasan-wisata-unggulan-makin-menawan/

    https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/02/14/kawasan-wisata-lombok-kini-gunakan-plts

    https://iesr.or.id/pemerintah-perlu-rombak-strategi-untuk-kejar-bauran-energi-terbarukan-23-di-2025

  • Apa Efek Pembangkit Listrik Tenaga Surya bagi Flora dan Fauna?

    Apa Efek Pembangkit Listrik Tenaga Surya bagi Flora dan Fauna?

    Semakin hari, dampak dari krisis iklim semakin terlihat; mulai dari suhu iklim global yang terus naik hingga keanekaragaman hayati yang mulai berkurang. Jika manusia tidak melakukan perubahan kebiasaan secara masif, maka dampak krisis iklim juga akan semakin parah. Tentu saja tidak ada yang berharap hal itu terjadi, bukan?

    Maka dari itu, pemerintah dan organisasi terkait terus menggaungkan pentingnya peralihan dari energi tidak terbarukan ke energi terbarukan—seperti tenaga surya—untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari. Akan tetapi, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya memiliki polemik tersendiri jika dikaitkan dengan keanekaragaman hayati di tempat pembangunan pembangkit listrik tersebut. Sebelum membahas hal tersebut lebih lanjut, sebenarnya apa yang dimaksud dengan keanekaragaman hayati?

    Apa Itu Keanekaragaman Hayati

    Keanekaragaman hayati, atau dikenal juga dengan istilah biodiversity, merujuk pada keanekaragaman makhluk hidup di suatu tempat. Berdasarkan tingkatannya, biodiversity sendiri bisa dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu tingkat ekosistem, tingkat spesies flora dan fauna, hingga yang paling kecil adalah tingkat gen. 

    Agar kehidupan di bumi tetap bisa berjalan dengan seimbang, biodiversity ini wajib untuk dijaga kelestariannya. Jika pada suatu ekosistem terdapat satu spesies makhluk hidup yang berkurang atau bahkan hilang, maka akan menciptakan ketidakseimbangan yang berakibat pada overpopulation spesies tertentu dan musnahnya spesies makhluk hidup lain. Hingga akhirnya, hal tersebut akan memberikan dampak pada kehidupan manusia.

    Lalu, apakah pembangkit listrik tenaga surya berpotensi menghancurkan biodiversity pada suatu daerah?

    Adakah Dampak Pembangkit Listrik Tenaga Surya bagi Biodiversitas?

    Sekilas, pembangunan solar farm atau pusat pembangkit listrik tenaga surya terlihat tidak membahayakan ekosistem. Ternyata, hal tersebut tidak sepenuhnya benar, lho!

    Sama seperti pembangunan infrastruktur pada umumnya, pembangunan pembangkit listrik tenaga matahari bisa mengganggu ekosistem. Apalagi, beberapa pembangkit listrik tersebut dibangun di daerah terpencil yang sebelumnya tidak tersentuh oleh tangan manusia. 

    Akibatnya, beberapa hewan maupun tumbuhan yang tinggal di tempat pembangunan tersebut akan mati atau berpindah ke tempat lain. Tidak hanya pada saat pembangunan, pengoperasian pembangkit listrik tenaga surya juga bisa berbahaya bagi hewan sekitar. 

    Contohnya adalah pembangkit listrik tenaga surya bertipe CSP (Concentrated Solar Power)  yang salah satunya terletak di Ivanpah, California. Singkatnya, CSP bekerja dengan memusatkan energi panas matahari pada satu titik, entah itu pipa air atau menara solar. Panas ini digunakan untuk mendidihkan air, yang kemudian berubah menjadi uap untuk menggerakkan generator. 

    Nah, cahaya yang muncul akibat panas terkonsentrasi itu akan menarik serangga yang memang menyukai cahaya terang, serta burung yang ingin memangsa serangga tersebut. Inilah yang menjadi alasan banyak burung terbunuh di solar farm CSP Ivanpah, California. Total, lebih dari 6000 burung mati setiap tahunnya karena hal tersebut.

    Manfaat Teknologi Tenaga Surya untuk Hewan dan Tumbuhan

    Meskipun memiliki dampak kurang menyenangkan, penggunaan teknologi tenaga surya tetap memberikan dampak positif bagi keanekaragaman hayati.  Contohnya, tentu saja  berkurangnya emisi karbon dalam produksi listrik karena tidak menggunakan bahan bakar fosil dalam pembuatannya. Dengan begitu, suhu iklim global bisa kembali normal, dan hewan-hewan tidak perlu berpindah ke habitat lain yang suhunya sesuai dengan tempat tinggal mereka sebelumnya.

    Selain itu, penggunaan PLTS juga bisa menghasilkan kualitas udara yang lebih baik. Itu artinya, baik hewan maupun manusia bisa memiliki life expectancy yang jauh lebih panjang karena dapat menghirup udara yang segar.

    Cara Mengatasi Risiko PLTS pada Keanekaragaman Hayati

    Dampak negatif dari pembangunan dan pengoperasian PLTS terhadap biodiversity ini sebenarnya sangat mungkin untuk diminimalisir. Misalnya saja saat membangun solar farm, pastikan bahwa tim konstruksi telah berkonsultasi dengan organisasi terkait atau pihak berwajib lainnya. Dengan begitu, tim konstruksi bisa menyesuaikan pembangunan panel surya dengan anjuran dari organisasi untuk meminimalisir dampak negatif pada keanekaragaman hayati.

    Lagipula, pembangunan PLTS sebenarnya tidak harus dilakukan dengan membuka lahan baru yang sebelumnya tidak pernah disentuh manusia. Untuk PLTS di kota misalnya, pembangunan panel surya bisa dilakukan di atap atau sisi gedung yang sebelumnya sudah dibangun.

     

    Proses konstruksi pembangkit listrik tenaga surya memang memiliki sejumlah risiko terhadap keanekaragaman hayati. Namun, ada berbagai cara untuk meminimalisir risiko tersebut Selain itu, tenaga surya juga justru membawa lebih banyak manfaat bagi semua makhluk hidup, mulai dari manusia hingga hewan dan tumbuhan. 

    Oleh karena itu, Anda tidak perlu ragu lagi untuk ikut mendukung misi global dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan bagi kebutuhan sehari-hari. Salah satu caranya adalah dengan memasang PLTS Atap untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga. Tertarik? Hitung terlebih dahulu kebutuhan listrik Anda dengan kalkulator surya. Setelah itu, Anda bisa mengunjungi direktori SolarHub untuk mencari tahu jasa pemasangan PLTS Atap rumah tangga terdekat.

     

    Referensi:

    https://iesr.or.id/mengintip-dampak-pemanasan-global-di-kebun-raya-cibodas 

    https://iesr.or.id/perubahan-iklim-umat-manusia-menghadapi-ancaman-serius 

    https://www.gramedia.com/literasi/keanekaragaman-hayati/ 

    https://www.vox.com/2021/8/18/22556193/solar-energy-biodiversity-birds-pollinator-land 

    https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1364032116304622 

    https://oyarenewables.com/resources/environmental-impact-of-solar-energy-on-biodiversity/ 

    https://climatechange.ucdavis.edu/climate/news/can-solar-energy-and-wildlife-coexist 

    https://science.howstuffworks.com/environmental/green-science/agrivoltaics-solar-panels-agriculture.htm#pt3 

    https://www.audubon.org/news/why-solar-power-good-birds

  • 7 Inovasi Canggih dalam Teknologi Panel Surya

    7 Inovasi Canggih dalam Teknologi Panel Surya

    Percepatan peralihan ke energi terbarukan, termasuk energi surya, sangatlah penting untuk meminimalisir dampak dari krisis iklim secara global. Itulah mengapa pemerintah Indonesia dan negara-negara lainnya terus menggalakkan program yang mengajak masyarakat beralih menggunakan energi terbarukan, seperti panel surya untuk kebutuhan listrik sehari-hari. Sayangnya, ada saja hambatan yang menyebabkan penerapan energi terbarukan tersebut tidak bisa dilakukan secara masif. Mulai dari hambatan teknologi, biaya, hingga aksesibilitas.

    Untuk itu, ilmuwan di seluruh dunia terus berinovasi untuk menciptakan panel surya yang lebih efektif, serta mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Memangnya, apa saja inovasi panel surya yang saat ini sedang dikembangkan?

    7 Inovasi Teknologi Panel Surya

    Dari banyaknya inovasi teknologi panel surya yang dicetuskan oleh beberapa tim ilmuwan dari seluruh dunia, berikut adalah tujuh di antaranya yang wajib untuk Anda ketahui:

    1. Panel surya kristal perovskite

    Umumnya, untuk menangkap sinar matahari, sebuah panel surya menggunakan bahan yang berasal dari polysilicon murni. Sayangnya, bahan ini hanya dapat menyerap sekitar 34% dari sinar matahari tersebut. Oleh karena itu, ilmuwan terus mengembangkan penggunaan bahan lainnya untuk menyerap sinar matahari yang tidak terserap oleh polysilicon. 

    Saat ini, opsi yang sedang dikembangkan adalah material berbahan dasar dari kristal perovskite. Jika digunakan bersamaan dengan material yang berbahan silikon, perovskite dapat meningkatkan penyerapan sinar matahari yang diubah menjadi energi listrik. Namun, masalah terbesar dari perkembangan material satu ini adalah daya tahannya yang belum teruji.

    2. Solar window

    Solar window adalah sebuah teknologi yang cara kerjanya sama seperti panel surya biasa. Hanya saja, panel surya yang digunakan menjadi solar window bersifat transparan alias tembus pandang. Oleh karena itu, panel surya solar window bisa dipasang sebagai pengganti jendela, tidak harus di pasang di solar farm, atau atap suatu bangunan.

    3. Solar paint

    Tidak hanya dikembangkan untuk meningkatkan tingkat efektivitas panel surya silikon, saat ini kristal perovskite juga sedang dikembangkan untuk menjadi solar paint. Sesuai namanya, solar paint adalah sebuah cat yang bisa digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Namun, hingga saat ini produk yang telah dikeluarkan masih berupa prototype saja.

    4. Lapisan film surya tipis

    Saat ini, beberapa kelompok ilmuwan di seluruh dunia juga sedang mengembangkan panel surya dengan ketebalan setipis mungkin. Tujuannya agar panel surya menjadi sumber energi yang lebih portable serta lebih mudah diimplementasikan untuk kebutuhan sehari-hari.

    5. Panel spektrum inframerah

    Umumnya, panel surya menyerap cahaya matahari yang gelombangnya termasuk ke dalam visible light atau cahaya tampak. Artinya, ada jenis gelombang lainnya yang tidak terserap oleh panel surya konvensional. Untuk itu, ilmuwan mengembangkan penggunaan vanadium dan titanium yang dapat menangkap gelombang cahaya matahari yang termasuk pada cahaya inframerah.

    6. Peternakan tenaga surya terapung

    Umumnya, sebuah solar farm atau peternakan tenaga surya membutuhkan lahan yang sangat luas. Tentunya ini menjadi masalah bagi daerah yang memiliki keterbatasan lahan. Oleh karena itu, saat ini ada beberapa daerah yang menerapkan peternakan tenaga surya terapung. Salah satunya bisa Anda temukan di Dezhou Dingzhuang, Shandong, Cina.

    7. Panel surya aktif 24 jam

    Siapa bilang panel surya hanya bisa menghasilkan energi listrik saat langit cerah? Beberapa ilmuwan telah mengembangkan solusi agar sebuah panel surya dapat menghasilkan energi listrik selama 24 jam dalam cuaca apa pun, termasuk ketika turun hujan maupun saat malam hari.

    Agar panel surya bisa bekerja pada malam hari, ilmuwan memanfaatkan perbedaan suhu antara panel surya yang mendingin saat malam tiba, dengan udara sekitar yang masih hangat. Nantinya, panas dari udara ini akan bergerak melewati thermoelectric generator. Nah, alat inilah yang bisa mengubah kalor yang lewat menjadi sebuah energi listrik.

    Sedangkan untuk mengatasi panel surya yang tidak bisa menghasilkan listrik saat hujan tiba, sekelompok ilmuwan dari Cina memiliki solusi yang cukup unik. Mereka menempelkan lapisan triboelectric nanogenerator (TENG) pada permukaan panel surya konvensional. Dengan alat tersebut, gesekan yang dihasilkan antara tetesan air hujan dengan permukaan panel surya dapat berubah menjadi energi listrik.

     

    Selain beberapa inovasi tersebut, hingga saat ini masih banyak inovasi lainnya yang terus bermunculan mengenai perkembangan panel surya. Hal ini tentu saja sejalan dengan tujuan global untuk meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan agar dampak krisis iklim bisa berkurang. Anda sendiri juga bisa membantu usaha global ini dengan menerapkan penggunaan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari.

    Tertarik menggunakan PLTS Atap untuk rumah tangga? Hitung dulu kebutuhan Anda dengan kalkulator surya dari SolarHub, ya! Setelah itu, barulah Anda dapat mencari vendor jasa instalasi PLTS Atap melalui direktori SolarHub.

     

    Referensi:

    https://iesr.or.id/memacu-pemanfaatan-energi-surya-di-indonesia

    https://iesr.or.id/menyediakan-pembiayaan-terjangkau-untuk-transisi-energi

    https://www.weforum.org/agenda/2022/05/solar-panels-work-in-dark/

    https://interestingengineering.com/innovation/solar-panels-new-materials-cheaper-better

    https://solartechadvisers.com/innovations-in-solar-energy/#1-new-innovations-in-solar-energy-

    https://solarhub.id/listing-category/perusahaan

    https://kalkulator.solarhub.id