Tag: solar panel

  • Mengungkap 7 Mitos Modul Surya yang Ternyata Keliru

    Mengungkap 7 Mitos Modul Surya yang Ternyata Keliru

    Saat ini, energi surya makin dikenal sebagai solusi masa depan yang bersih dan berkelanjutan. Akan tetapi, di tengah meningkatnya minat masyarakat, masih banyak kesalahpahaman yang beredar soal modul surya. Artikel ini akan membahas tujuh mitos umum yang sering ditemui di pemahaman masyarakat umum. 

    1. Mitos: Modul surya hanya bekerja saat cuaca cerah 

    Fakta: Modul surya tetap bisa menghasilkan listrik meski saat mendung atau hujan. Teknologi fotovoltaik modern mampu menangkap cahaya difus, bukan hanya sinar langsung. Jadi, meski output menurun, sistem tetap berfungsi. Bahkan, dengan sistem baterai, energi bisa digunakan kapan saja. 

     2. Mitos: Biaya pemasangan sistem PLTS terlalu mahal

    Fakta: Biaya awal memang ada, tapi harga instalasi PLTS sudah turun drastis dalam dekade terakhir. Selain itu juga, banyak skema pembiayaan dan insentif pemerintah yang membua biaya ini lebih terjangkau. Dalam jangka panjang, pengguna bisa menghemat tagihan listrik secara signifikan. 

     3. Mitos: Modul surya butuh perawatan rumit

    Fakta: Modul surya sangat minim perawatan. Cukup dibersihkan dari debu dan kotoran secara berkala. Tidak ada komponen bergerak, sehingga risiko kerusakan rendah. Banyak pengguna rumah tangga yang hanya melakukan pengecekan ringan setiap beberapa bulan. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa perawatan sistem modul surya berbeda-beda tergantung dari rentang waktunya, sehingga perlu diketahui oleh pengguna. 

     4. Mitos: Panel modul merusak tampilan rumah

    Fakta: Desain panel saat ini semakin ramping dan estetis. Bahkan ada teknologi seperti solar skin yang bisa menyatu dengan desain atap rumah. Di beberapa negara, panel surya bahkan dijadikan elemen desain atap yang memberi kesan industrialis modern. 

     5. Mitos: Energi surya tidak cukup untuk kebutuhan rumah tangga

    Fakta: Sistem surya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dirumah. Dengan perhitungan yang tepat, sistem panel surya mampu mencukupi kebutuhan listrik harian, termasuk untuk AC, kulkas, dan perangkat elektronik lainnya.  

     6. Mitos: Modul surya cepat rusak dan tidak tahan lama

    Fakta: Modul surya berkualitas memiliki umur pakai 25–30 tahun. Bahkan setelah 25 tahun, modul masih bisa menghasilkan listrik meski efisiensinya sedikit menurun. Garansi dari produsen biasanya mencakup performa hingga dua dekade. 

     7. Mitos: Energi surya hanya cocok untuk daerah terpencil

    Fakta: Justru energi surya sangat cocok untuk daerah urban dengan biaya listrik tinggi. Banyak rumah dan gedung di kota besar yang sudah beralih ke energi surya untuk efisiensi dan keberlanjutan. Di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, tren PLTS atap terus meningkat seiring dengan berkembangnya kebutuhan energi listrik untuk barang-barang elektronik. Ditambah lagi, dengan adanya tren electrical vehicle membuat investor berani untuk membangun Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) menggunakan PLTS. 

    Mitos-mitos ini sering kali menjadi penghalang bagi masyarakat untuk beralih ke energi surya. Padahal, dengan informasi yang benar dan teknologi yang terus berkembang, modul surya bisa menjadi solusi nyata untuk kebutuhan energi sehari-hari. SolarHub.id hadir untuk membantu Anda memahami dan mewujudkan solusi energi surya yang tepat, efisien, dan berkelanjutan.  

  • Musim Hujan, Apakah Modul Surya Tetap Perlu Dibersihkan?

    Musim Hujan, Apakah Modul Surya Tetap Perlu Dibersihkan?

    Banyak orang beranggapan bahwa musim hujan bisa menjadi “pembersih alami” bagi modul surya. Logikanya sederhana: jika hujan turun setiap hari, otomatis debu dan kotoran akan tersapu air. Tapi, benarkah hujan cukup efektif menjaga kebersihan modul surya agar kinerjanya tetap optimal?

    Faktanya, meski hujan membantu mengurangi sebagian debu, ia tidak bisa diandalkan sepenuhnya. Air hujan justru bisa meninggalkan noda atau bercak akibat kandungan mineral yang menempel di permukaan kaca modul. Bercak ini, jika dibiarkan, akan mengurangi kemampuan modul menyerap cahaya matahari.

    Selain itu, hujan tidak selalu mampu membersihkan kotoran yang lebih membandel. Daun kering, sarang serangga, hingga lapisan debu tebal tetap bisa menempel kuat di permukaan modul surya. Bayangkan saja kaca mobil yang kehujanan tanpa pernah dicuci lama-lama akan terlihat kusam dan buram, bukan?

    Penting juga dipahami bahwa efisiensi modul surya sangat bergantung pada kebersihannya. Penurunan efisiensi sekecil 5–10% saja bisa berarti produksi listrik berkurang signifikan dalam jangka panjang. Itu artinya, tagihan listrik dari PLN bisa kembali membengkak hanya karena panel tidak dibersihkan dengan benar.

    Lalu, bagaimana cara membersihkan modul surya di musim hujan? Tidak perlu terlalu sering, tapi tetap perlu dijadwalkan. Misalnya, pemeriksaan visual setiap 1–2 bulan sekali, lalu pembersihan menyeluruh setiap 3–4 bulan atau saat terlihat ada kotoran menumpuk. Dengan begitu, modul tetap bekerja maksimal tanpa perlu berlebihan dalam perawatan.

    Perlu diingat pula, membersihkan modul surya tidak boleh sembarangan. Hindari membersihkan di siang hari saat modul panas karena berisiko menyebabkan retakan akibat thermal shock. Gunakan air bersih dan kain lembut agar permukaan kaca tidak tergores.

    Jadi, meskipun hujan bisa membantu, bukan berarti Anda bisa sepenuhnya mengandalkannya sebagai “jasa cuci gratis”. Modul surya tetap memerlukan perawatan agar investasi yang sudah Anda keluarkan bisa kembali dalam bentuk listrik yang stabil, bersih, dan efisien.

    Singkatnya, jangan tertipu mitos bahwa musim hujan membuat panel surya otomatis selalu bersih. Justru dengan jadwal perawatan yang tepat, Anda bisa memastikan modul surya tetap awet, efisien, dan bekerja optimal sepanjang tahun baik di musim kemarau maupun hujan.

  • Awas, Panel Surya Bisa Rusak Jika Anda Melakukan Hal Ini di Siang Hari

    Pernah dengar bahwa mencuci modul surya bisa membuatnya rusak? Faktanya, cara dan waktu yang salah bisa berdampak fatal. Banyak orang berpikir siang hari adalah waktu terbaik membersihkan modul karena cahaya terang dan kotoran terlihat jelas. Padahal, justru di waktu inilah risiko kerusakan terbesar bisa terjadi.

    Bayangkan modul surya yang sedang bekerja keras menyerap panas matahari, lalu tiba-tiba disiram air dingin. Kondisi ini bisa memicu thermal shock atau kejutan termal. Permukaan kaca modul yang panas akan mengalami perubahan suhu ekstrem secara mendadak, sehingga berpotensi retak atau mengalami kerusakan mikro yang sulit diperbaiki. Jika sudah seperti ini, kinerja modul bisa menurun drastis.

    Bukan hanya itu, mencuci modul di siang hari juga tidak efektif. Suhu tinggi membuat air yang disiram cepat menguap, meninggalkan noda atau bercak mineral di permukaan kaca. Akibatnya, alih-alih bersih, modul justru tampak buram dan kemampuan menyerap sinar matahari berkurang. Pada akhirnya, produksi listrik pun tidak maksimal.

    Risiko lain yang sering diabaikan adalah faktor keamanan. Membersihkan modul saat panas terik bisa membuat permukaan menjadi licin akibat penguapan air yang cepat. Ditambah lagi, suhu modul yang tinggi bisa memicu rasa terbakar pada kulit jika disentuh langsung. Bagi yang membersihkan di atap, kondisi ini semakin berbahaya karena bisa meningkatkan risiko tergelincir.

    Selain itu, perlu diingat bahwa modul surya terhubung dengan sistem listrik bertegangan tinggi. Membersihkan modul di siang hari saat sistem sedang aktif beroperasi bisa meningkatkan risiko korsleting atau bahkan sengatan listrik. Inilah sebabnya mengapa produsen selalu menyarankan pembersihan dilakukan saat modul dalam kondisi dingin dan tidak beroperasi penuh.

    Waktu terbaik untuk membersihkan modul surya adalah pagi atau sore hari, ketika suhu permukaan lebih rendah dan sinar matahari tidak terlalu terik. Pada saat ini, modul bisa dibersihkan dengan lebih aman, efektif, dan minim risiko. Hasilnya, permukaan tetap jernih dan kinerja optimal tetap terjaga tanpa mengurangi umur pakainya.

    Banyak pemilik rumah yang menganggap cuci modul surya hanyalah pekerjaan sederhana. Padahal, ada teknik khusus yang perlu diperhatikan. Gunakan air bersih tanpa tekanan tinggi, hindari cairan kimia keras, dan pakailah alat lembut seperti kain microfiber atau spons agar permukaan kaca tidak tergores.

    Jadi, jangan buru-buru naik ke atap saat siang terik hanya demi membuat modul tampak kinclong. Ingat, mencuci modul surya di waktu yang salah bisa merugikan lebih besar dibandingkan manfaatnya. Rawatlah modul dengan bijak, karena sedikit kesalahan bisa berakibat pada kerugian jangka panjang, baik dari sisi keamanan maupun efisiensi listrik.

  • Ingin Memasang PLTS di Rumah? Waspada, Kebutuhan Setiap Rumah Tidak Sama

    Ingin Memasang PLTS di Rumah? Waspada, Kebutuhan Setiap Rumah Tidak Sama

    Pernah terpikir kalau pasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di rumah itu hanya cukup membeli panel, pasang di atap, lalu selesai? Ternyata, anggapan itu keliru. Banyak orang salah kaprah karena mengira semua rumah punya kebutuhan listrik yang sama. Padahal, setiap rumah punya pola pemakaian energi berbeda, dan inilah yang menentukan seberapa besar kapasitas PLTS yang sebenarnya dibutuhkan.

    Jangan kaget kalau tagihan listrik rumah tetangga bisa turun drastis setelah pasang PLTS, sementara di rumah Anda hasilnya tidak seberapa. Rahasianya ada pada analisis kebutuhan energi harian. Rumah dengan penggunaan AC sepanjang hari tentu membutuhkan kapasitas lebih besar dibanding rumah yang hanya menggunakan kipas angin. Jadi, sebelum buru-buru pasang, penting untuk tahu dulu karakter konsumsi listrik di rumah Anda.

    Coba bayangkan rumah dengan daya listrik 900 VA yang rata-rata mengkonsumsi 100–150 kWh per bulan. Jika menggunakan PLTS 1 kWp, sistem ini bisa menghasilkan sekitar 120–140 kWh per bulan (tergantung lokasi). Artinya, rumah ini bisa hampir sepenuhnya tercukupi dengan PLTS. Tapi berbeda cerita dengan rumah berdaya 2200 VA yang rata-rata butuh 250–300 kWh per bulan tentu butuh kapasitas PLTS lebih besar, minimal 2–3 kWp.

    Jangan heran kalau ada rumah yang bisa menekan tagihan listrik hingga setengahnya setelah pasang PLTS, sementara rumah lain nyaris tidak merasakan perubahan. Perbedaan ini terjadi karena pola penggunaan listrik tidak sama. Rumah dengan AC 1 PK yang menyala 8 jam per hari bisa menghabiskan 200–250 kWh per bulan hanya untuk pendingin ruangan saja. Jika kapasitas PLTS hanya 1 kWp, tentu tidak akan cukup menutupi beban sebesar itu.

    Lokasi juga memainkan peran besar. Rata-rata di Indonesia, setiap 1 kWp panel surya bisa menghasilkan sekitar 4–5 kWh per hari. Jadi, rumah dengan atap cukup luas dan orientasi ke utara selatan tanpa halangan pepohonan bisa memaksimalkan produksi listrik. Sebaliknya, atap yang terhalang gedung atau miring ke arah barat akan mengurangi produksi hingga 20–30%.

    Gaya hidup penghuni rumah juga ikut menentukan. Keluarga yang banyak beraktivitas di malam hari, misalnya, tentu membutuhkan tambahan baterai penyimpanan. Tanpa baterai, listrik dari PLTS hanya bisa digunakan siang hari. Dengan baterai 5 kWh, misalnya, listrik siang bisa disimpan untuk dipakai malam hari sehingga pemanfaatannya lebih optimal.

    Bicara soal biaya, perhitungan investasinya pun tidak bisa sembarangan. Harga PLTS atap saat ini berkisar Rp12–15 juta per kWp. Artinya, untuk rumah dengan kebutuhan 2 kWp, diperlukan investasi sekitar Rp24–30 juta. Jika produksi listrik mencapai 250–280 kWh per bulan dan bisa menggantikan sebagian listrik PLN, maka penghematan bisa mencapai Rp300–400 ribu per bulan. Dari skenario ini, perkiraan balik modal atau payback period biasanya 6–8 tahun.

    Memasang PLTS di rumah memang bisa jadi investasi yang menguntungkan, tapi tidak bisa dilakukan dengan asumsi semua rumah sama. Mulai dari kebutuhan listrik, kondisi bangunan, hingga kebiasaan penghuni, semua harus diperhitungkan. Dengan data pemakaian kWh bulanan dan kapasitas PLTS yang sesuai, Anda bisa benar-benar memastikan investasi energi bersih ini memberikan hasil yang optimal.

  • Fakta Mengejutkan: Panel Surya Bukan Perangkat Elektronik Seperti yang Dibayangkan

    Fakta Mengejutkan: Panel Surya Bukan Perangkat Elektronik Seperti yang Dibayangkan

    Siapa sangka, panel surya yang sering kita lihat di atap rumah atau gedung ternyata bukan perangkat elektronik seperti televisi atau komputer. Banyak orang mengira panel surya bekerja dengan rangkaian kabel rumit dan chip elektronik canggih, padahal cara kerjanya justru lebih sederhana sekaligus menakjubkan. Fakta ini membuat banyak orang salah kaprah dalam memahami teknologi energi terbarukan yang satu ini.

    Rahasia utama panel surya ada pada sel surya berbahan semikonduktor, biasanya terbuat dari silikon. Material ini memiliki kemampuan khusus untuk menyerap energi cahaya matahari dan mengubahnya menjadi listrik. Proses ini disebut efek fotovoltaik, dan yang menarik, hal tersebut murni terjadi karena sifat fisika material, bukan karena rangkaian elektronik kompleks. Jadi, bisa dikatakan prinsip kerja panel surya lebih dekat ke “alat fisika” dibanding “perangkat elektronik”.

    Pernah terpikir mengapa panel surya tidak memiliki tombol on/off layaknya perangkat elektronik lain? Itu karena panel surya langsung menghasilkan arus listrik begitu terkena cahaya matahari. Tidak ada sistem saklar atau chip pengendali di dalamnya. Energi listrik yang dihasilkan baru kemudian diatur oleh perangkat tambahan seperti inverter atau baterai, barulah di titik itu teknologi elektronik berperan penting.

    Yang lebih mengejutkan, panel surya bisa tetap berfungsi puluhan tahun tanpa komponen bergerak. Berbeda dengan barang elektronik yang cepat rusak karena sirkuit dan komponennya aus, panel surya hanya bergantung pada daya tahan material semikonduktornya. Inilah alasan mengapa banyak produsen berani memberi garansi hingga 25 tahun.

    Banyak juga yang tidak tahu bahwa panel surya tidak menyimpan listrik. Lagi-lagi, ini membuktikan bahwa panel surya bukanlah perangkat elektronik. Panel hanya bertugas mengubah sinar matahari menjadi arus listrik seketika. Untuk menyimpan energi, dibutuhkan perangkat khusus yaitu baterai atau sistem penyimpanan lain yang memang berbasis teknologi elektronik.

    Di sisi lain, pemahaman keliru tentang panel surya sering membuat orang salah mengambil keputusan. Misalnya, ada yang mengira panel bisa tetap menghasilkan listrik meski disimpan di ruangan gelap. Padahal, panel hanya bekerja jika ada cahaya matahari yang mengenai permukaannya. Jadi, bukan perangkat elektronik yang bisa dihidupkan kapan saja, melainkan perangkat pasif yang menunggu energi dari alam.

    Fakta lainnya, teknologi panel surya terus berkembang menuju efisiensi yang lebih tinggi. Dari awalnya hanya sekitar 10%, kini beberapa jenis panel mampu mengubah lebih dari 22% energi matahari menjadi listrik. Semua pencapaian ini tetap bertumpu pada inovasi material semikonduktor, bukan penambahan komponen elektronik di dalam panel itu sendiri.

    Kesimpulannya, panel surya bukanlah perangkat elektronik, melainkan alat fisika berbasis material semikonduktor yang bekerja secara alami dengan sinar matahari. Inilah yang membuatnya berbeda sekaligus istimewa dibanding teknologi lain. Jadi, setiap kali melihat panel surya, ingatlah bahwa Anda sedang menyaksikan salah satu keajaiban sederhana alam yang dimanfaatkan manusia untuk masa depan energi bersih.

  • Energi Terbarukan dari Permukaan Air: Apa Itu PLTS Terapung?

    Energi Terbarukan dari Permukaan Air: Apa Itu PLTS Terapung?

    Saat permukaan darat semakin padat dan kebutuhan energi terus meningkat, muncul pertanyaan menarik: mungkinkah permukaan air seperti danau dan waduk dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik? Inilah yang menjadi dasar pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS terapung), sebuah teknologi yang menggabungkan efisiensi pemanfaatan ruang dengan potensi energi terbarukan. Dengan memanfaatkan permukaan air yang luas dan belum termanfaatkan secara optimal, PLTS terapung menawarkan solusi inovatif terhadap tantangan transisi energi bersih di tengah keterbatasan lahan.

    PLTS terapung bekerja dengan prinsip yang sama seperti PLTS konvensional, yakni mengubah energi matahari menjadi listrik melalui sel fotovoltaik. Bedanya, sistem ini dipasang di atas permukaan air seperti danau, waduk, bendungan, atau bahkan laut tenang. Panel surya diletakkan pada struktur pelampung yang stabil dan tahan korosi, lalu dihubungkan dengan kabel bawah air ke jaringan listrik darat. Lingkungan perairan memberikan efek pendinginan alami yang meningkatkan efisiensi panel hingga 5–15% dibanding instalasi darat (IRENA, 2023).

    Keunggulan PLTS terapung tidak hanya terbatas pada efisiensi teknis. Ia juga menawarkan solusi atas keterbatasan lahan, terutama di negara-negara dengan kepadatan penduduk tinggi atau keterbatasan ruang terbuka. Di Indonesia, potensi lahan untuk PLTS darat memang luas, namun seringkali berbenturan dengan kebutuhan pangan, kehutanan, atau konservasi. Berdasarkan studi Kementerian ESDM tahun 2022, potensi teknis PLTS terapung di Indonesia mencapai lebih dari 28 GWp, terutama dari waduk-waduk besar seperti Jatiluhur, Cirata, dan Saguling.

    Contoh konkret dari implementasi PLTS terapung di Indonesia adalah proyek Cirata Floating Solar Plant di Jawa Barat, yang digarap oleh PT PLN dan Masdar dari Uni Emirat Arab. PLTS ini memiliki kapasitas 145 MWac dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara saat mulai beroperasi pada tahun 2024. Proyek ini tidak hanya menunjukkan kapasitas teknologi nasional, tetapi juga komitmen Indonesia dalam mengejar target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025, sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

    Secara global, negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan telah memanfaatkan teknologi ini lebih awal. Jepang, misalnya, telah mengoperasikan lebih dari 60 PLTS terapung skala komersial sejak 2015. Salah satu proyek unggulannya adalah Yamakura Dam Floating Solar Plant dengan kapasitas 13,7 MW. Negara-negara ini tidak hanya memanfaatkan energi bersih, tetapi juga mengurangi penguapan air dan pertumbuhan alga berlebih, dua efek positif tambahan dari pemasangan panel di atas air.

    Kendati menjanjikan, pengembangan PLTS terapung tetap menghadapi tantangan. Aspek teknis seperti ketahanan sistem terhadap angin kencang, ombak, dan korosi masih menjadi perhatian, terutama jika ingin diterapkan di laut terbuka. Selain itu, perizinan pemanfaatan ruang perairan, potensi dampak ekologis terhadap ekosistem akuatik, dan kebutuhan investasi awal yang relatif tinggi menjadi faktor yang harus dikaji secara menyeluruh. Studi yang dilakukan oleh World Bank Group (2021) mencatat bahwa biaya pembangunan PLTS terapung berkisar antara 20–25% lebih tinggi dari PLTS darat, meski tren ini terus menurun seiring skala produksi meningkat.

    Meski tantangan tersebut tidak bisa diabaikan, peluang yang ditawarkan jauh lebih besar. PLTS terapung membuka opsi pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam perencanaan energi nasional. Selain itu, ia juga sejalan dengan pendekatan multi-fungsi ruang perairan yang berkelanjutan, khususnya di negara kepulauan seperti Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang progresif, skema pembiayaan yang inklusif, dan peningkatan kapasitas SDM lokal, PLTS terapung dapat menjadi motor penggerak utama dalam dekarbonisasi sektor energi.

    Dengan meningkatnya urgensi krisis iklim dan dorongan global untuk menekan emisi karbon, PLTS terapung muncul sebagai bagian penting dari portofolio solusi energi bersih. Ia bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan juga simbol dari adaptasi cerdas terhadap tantangan keterbatasan ruang dan kebutuhan energi yang terus tumbuh. Masa depan energi terbarukan tak lagi hanya terbentang di daratan, melainkan juga mengambang dengan tenang di permukaan air.

     

  • Unik, 7 Panel Surya Ini Diubah Jadi Karya Seni!

    Unik, 7 Panel Surya Ini Diubah Jadi Karya Seni!

    Beberapa tahun belakangan ini, popularitas panel surya sedang meningkat. Menurut data dari Indonesia Solar Energy Outlook (ISEO) 2023, kapasitas pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) meningkat jadi 63,5 MWp pada September 2022 dari 43,9 MWp pada 2021. Tren ini juga mendunia karena secara global, kapasitas solar panel tumbuh dari hanya 5 GigaWatt pada 2005 menjadi sekitar 940 GigaWatt pada 2021.

    Ditambah dengan berkembangnya kecanggihan teknologi, pemanfaatan solar panel pun jadi semakin beragam. Tidak hanya digunakan sebagai PLTS semata, beberapa panel surya bahkan berhasil diubah menjadi karya seni.

    7 Karya Seni yang Terbuat dari Panel Surya

    Inspirasi untuk menciptakan karya seni bisa datang dari mana saja, termasuk dari solar panel yang selama ini dikenal sebagai salah satu bentuk pemanfaatan sumber energi terbarukan. Beberapa instalasi karya seni berikut ini adalah buktinya.

    • La Monarcha

    Karya seni rancangan Cruz Ortiz ini menggunakan SolarSkin, sebuah lapisan film yang dapat mengubah panel surya menjadi kanvas. Hebatnya, SolarSkin dirancang sedemikian rupa agar pelaku seni bisa menggunakan kanvas tersebut tanpa mengganggu performa sistem dari solar panel. 

    Dari sinilah lahir La Monarcha, instalasi seni dalam bentuk empat panel berukuran 6×6 inci setinggi kurang lebih 3,3 meter, yang dipasang di San Antonio, Texas, Amerika Serikat. Proyek spesial ini merupakan inisiatif dari land Art Generator Solar Mural yang ingin meningkatkan awareness terhadap energi terbarukan melalui karya seni.

    • Sonic Bloom

    Di Seattle, Washington, Amerika Serikat, terdapat menara tinggi bernama Space Needle yang menjadi ikon kota. Nah, di salah satu areanya, Anda bisa menemukan deretan “bunga” raksasa yang ditenagai oleh sinar matahari. Memiliki tinggi sekitar 10 meter dengan kelopak selebar 6 meter, bunga buatan rancangan Dan Corson ini dilengkapi 270 panel surya berkapasitas 4 Watt yang terpasang pada bagian atas.

    Dikenal dengan nama Sonic Bloom, bunga-bunga ini akan menyala dalam warna-warni memukau selama lima jam setiap malam. Tak jauh dari Sonic Bloom berada, tepatnya di dalam Pacific Science Center, Anda juga bisa menemukan informasi real-time tentang jumlah energi listrik yang dihasilkan oleh Sonic Bloom.

     

    • Solar Intersections

    Masih di Amerika Serikat, tepatnya di wilayah Davis, California, terdapat karya seni bernama Solar Intersections yang juga memanfaatkan solar panel. Dibangun pada 1989, instalasi seni buatan Robert Behrens ini merupakan pilar-pilar setinggi kurang-lebih 21 meter yang terbuat dari baja. Setiap pilar dicat menggunakan perekat khusus dan dilapisi dengan solar panel. 

    Selama pagi hingga sore hari, Solar Intersections terlihat berwarna putih polos biasa, tapi akan berubah jadi warna-warni menarik setelah mendapat aliran tenaga listrik dari solar panel yang dipasang.

    • Solar Peace Sculptures

    Pada 1958, seniman Geral Holtom menciptakan simbol perdamaian (peace) setelah pelucutan senjata nuklir resmi dilakukan. Cerita inilah yang menjadi inspirasi Fred George dalam membuat Solar Peace Sculptures, sebuah karya seni yang terdiri dari beberapa barel minyak daur ulang. Tiap barel dipasangi solar panel yang dibentuk menyerupai simbol peace tersebut.

    Agak berbeda dari sejumlah karya seni sebelumnya, Solar Peace Sculptures tidak berdiri di satu tempat tetap. Karya seni setinggi 17,6 meter ini berpindah ke berbagai tempat untuk menyebarkan awareness—terutama kepada anak muda—terhadap energi terbarukan. Kerennya lagi, sinar matahari yang diserap oleh Solar Peace Sculptures dapat disalurkan sebagai energi listrik ke jaringan kota tempat ia berada.

    • Solar Sun-Catcher

    Bernama Solar Sun-Catcher, karya seni satu ini terbuat dari aluminium daur ulang dengan panel lucite berwarna kuning terang. Melalui panel surya yang terpasang, Solar Sun-Catcher menghasilkan energi listrik dari sinar matahari untuk menerangi instalasi seni sekaligus mengalirkannya ke jaringan listrik Kota Clearwater, Florida, Amerika Serikat—tempat Solar Sun-Catcher berada.

    Didesain oleh Deedee Morrison bersama studionya, Morrison Studion, instalasi Solar Sun-Catcher dibangun sebagai bagian dari program seni Sculpture360 yang ada di Florida. Program ini diadakan oleh Program Seni dan Desain Publik Clearwater, yang bekerja sama dengan Downtown Development Board.

    • The Ra

    Seorang seniman asal Belanda, Marjan van Aubel, menyusun sel-sel fotovoltaik warna-warni dalam pola geometrik hingga tercipta karya seni solar panel yang bisa dipajang di rumah. Van Aubel memberi nama Ra, yang diambil dari nama Dewa Matahari Mesir Kuno. 

    Dengan ketebalan kurang dari 1 mm, Ra memiliki desain tembus pandang dan dapat dipasang pada jendela, sehingga akan menghasilkan bayangan artistik pada dinding sekitarnya seiring dengan perubahan cahaya sepanjang hari.

    • Shala. 

    Selama ini, kebanyakan panel surya dipasang di atap bangunan tanpa terlalu memikirkan aspek estetika. Menyadari hal tersebut, seniman bernama Shala Akintunde (Shala.) pun melakukan berbagai proyek seni dengan melibatkan solar panel; salah satunya termasuk melukis mural pada permukaan panel surya.

    Dengan menciptakan seni indah pada produk yang menghasilkan energi listrik, Shala. percaya hal tersebut bisa menarik perhatian lebih banyak orang untuk menggunakan energi terbarukan. Itulah kenapa kini ia juga menerima komisi untuk mengerjakan mural pada solar panel. 

     

    Betapa kreatifnya seniman-seniman di atas dalam mengubah panel surya menjadi bentuk karya seni indah. Hal ini tidak terlepas dari akses ke solar panel yang semakin tahun semakin mudah. Bahkan jika Anda ingin menggunakan solar panel untuk PLTS Atap di rumah, Anda bisa dengan mudah mencari jasa pemasangan panel surya terdekat melalui direktori SolarHub.

    Tak hanya itu, Anda juga bisa menggunakan kalkulator SolarHub untuk menghitung kebutuhan panel surya yang sebaiknya Anda pasang. Bersama SolarHub, memasang solar panel di rumah jadi semakin praktis dan mudah!

     

    Referensi:

    https://byshala.com/solarart

    https://www.dezeen.com/2022/01/26/ra-marjan-van-aubel-tapestry/

    http://jpsolar.com/2020/07/15/3-amazing-art-installations-inspired-by-solar-energy/

    https://cleantechnica.com/2013/05/08/11-must-see-art-installations-inspired-by-solar-panels/

    https://www.thecoolist.com/solar-bulb-installations/

    https://www.thecivilengineer.org/news/art-in-photovoltaics-world-s-first-solar-panel-mural-installation-is-a-reality

    https://iesr.or.id/memacu-pemanfaatan-energi-surya-di-indonesia 

    https://www.statista.com/topics/993/solar-pv/#topicOverview

    https://www.solarfeeds.com/mag/the-sun-catcher-solar-light-sculpture/

  • 6 Lokasi Wisata yang Menggunakan Panel Surya untuk Sumber Energinya

    6 Lokasi Wisata yang Menggunakan Panel Surya untuk Sumber Energinya

    Pemerintah Indonesia memiliki target untuk mencapai bauran energi terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025. Namun, target tersebut baru tercapai 12,3% per tahun 2022 lalu. Demi meningkatkan bauran EBT, pemerintah pun melakukan berbagai upaya; salah satunya adalah memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berupa panel surya di berbagai tempat wisata di Indonesia.

    6 Tempat Wisata yang Menggunakan Panel Surya

    Tidak hanya untuk mempercepat pencapaian target bauran EBT, pemasangan panel surya di juga mendukung infrastruktur di tempat-tempat wisata. Dari sekian banyak tempat wisata yang ada di Indonesia, berikut beberapa di antaranya yang telah dilengkapi sistem solar panel.

    • Wisata Bukit Tinatar Piyungan

    Bukit Tinatar merupakan tempat wisata alam yang berada di Desa Srimulyo, Piyungan, Bantul. Dikelola oleh Desa Srimulyo, wisata satu ini menyajikan suasana alam khas bukit dengan pemandangan Jalan Wonosari. Sebagai salah satu upaya untuk mendukung green tourism di Wisata Bukit Tinatar, maka dipasanglah PLTS.

    Pemasangan PLTS di Wisata Bukit Tinatar dilakukan oleh Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta melalui Program Kemitraan Wilayah (PKW) 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kemendikbudristek. Memiliki kapasitas 100 WP, PLTS di Wisata Bukit Tinatar mampu menghidupkan tiga lampu yang terdapat di area wisata. 

    • Pantai Sendiki

    Berada di Desa Tambakrejo, Sumbermanjing, Malang, Pantai Sendiki berada cukup jauh dari area pemukiman warga sehingga belum mendapat akses listrik PLN. Namun, kini masalah tersebut telah teratasi berkat pemasangan panel surya sebagai PLTS di sejumlah titik area pantai, seperti jalan setapak dan atap warung. Berkapasitas 100 WP, solar panel di Pantai Sendiki mampu memberikan penerangan hingga 10 jam di setiap rumah pohon, kamar mandi, musala, hingga pos penjagaan. 

    • Kepri Coral Resort

    Jika mengunjungi Kepri Coral Resort di Batam, Kepulauan Riau, Anda akan menemukan banyak panel surya yang terpasang di area dermaga dan jalanan sepanjang pulau. Pemasangan solar panel ini mampu memenuhi hampir seluruh keperluan listrik di Kepri Coral Resort, termasuk listrik untuk 112 dome village. Ketika tamu penuh saat peak season, kebutuhan listrik akan dibantu dengan menggunakan genset.

    Dari seluruh solar panel yang terpasang, arus listrik dipusatkan di satu area untuk memenuhi kebutuhan Kepri Coral Resort. Pemasangan ini juga tidak terlepas dari komitmen Kepri Coral Resort untuk menyediakan resor berkonsep alamiah. Nah, penggunaan energi terbarukan merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan komitmen tersebut.

    • Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan

    Pemanfaatan panel surya sebagai PLTS juga bisa Anda temukan di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Setiap tempat memiliki PLTS dengan kapasitas berbeda, yaitu 600 kWp di Gili Trawangan, 160 kWp di Gili Air, dan 60 kWp di Gili meno; 

    Dengan kata lain, total kapasitas PLTS untuk ketiga tempat wisata di Lombok tersebut mencapai 820 kWp. Setiap harinya, ketiga PLTS tersebut beroperasi sejak pukul tujuh pagi hingga lima sore, sedangkan kebutuhan listrik untuk malam hari dipenuhi oleh jaringan PLN.

    Seluruh solar panel tersebut ditata dengan rapi sehingga menciptakan pemandangan yang menarik. Alhasil, kehadiran PLTS pun bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata tambahan di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Para pengunjung dapat mengamati jajaran PLTS tersebut dari luar pagar.

    • Pantai Sembilan

    Lokasi wisata satu ini memiliki nasib yang mirip dengan Pantai Sendiki, yakni berada di area terpencil sehingga tidak terjangkau akses listrik dari jaringan PLN. Bedanya, apabila Pantai Sendiri berada di Malang, maka Pantai Sembilan berlokasi di Gili Genting, Sumenep, Madura. 

    Kabar baiknya, kondisi tersebut berubah berkat hibah panel surya dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya pada 2017. Sejak saat itu, Pantai Sembilan memiliki aliran listrik sehingga semakin ramai pengunjung. Pihak pengelola memasang solar panel tersebut di berbagai area strategis pantai, seperti di bagian atap gazebo dan atap bangunan penginapan. 

    • Pulau Derawan

    Pulau Derawan sudah lama dikenal sebagai salah satu wisata dalam negeri yang memiliki keindahan alam bawah laut memukau. Demi menarik lebih banyak wisatawan, pihak pengelola pun mengembangkan Pulau Derawan sebagai green island. Mendukung hal tersebut, PLN membangun PLTS di area Pulau Derawan sebagai salah satu bentuk komitmen untuk mencapai Net Zero Emission 2060 melalui penggunaan EBT.

    Proyek PLTS Derawan pun dimulai pada 2012. Saat itu, kapasitas daya listrik maksimumnya masih mencapai 80 kWp untuk memenuhi kebutuhan listrik penduduk di Kepulauan Derawan. Namun, perbaikan dan pengembangan PLTS Derawan terus dilakukan demi menyuplai listrik yang lebih stabil bagi penduduk sekitar. Rencananya, revitalisasi PLTS Derawan akan dilakukan agar bisa menambah kapasitas listrik hingga 190 kWp.

     

    Ikut bangga rasanya melihat semakin banyak tempat wisata di Indonesia yang menggunakan panel surya sebagai sumber energi. Dengan mengunjungi tempat-tempat di atas, secara tidak langsung Anda pun sudah ikut berupaya melawan krisis iklim melalui dukungan terhadap green tourism. Namun, jika belum mendatangi berbagai tempat wisata di atas, Anda tetap bisa melawan krisis iklim dengan memasang PLTS Atap untuk rumah tangga. 

    Agar pemasangannya tepat sasaran, gunakan kalkulator SolarHub untuk menghitung kebutuhan panel surya Anda. Selanjutnya, segera cari perusahaan dan jasa pemasangan solar panel di direktori SolarHub. Kalau masih ingin cari tahu lebih banyak tentang PLTS Atap, Anda bisa klik di sini. Yuk, bersama-sama melawan krisis iklim dengan bantuan SolarHub!

     

    Referensi:

    https://lldikti5.kemdikbud.go.id/home/detailpost/ujb-aplikasikan-listrik-tenaga-surya-di-lokasi-wisata-bukit-tinatar-piyungan

    https://lautsehat.id/gaya-hidup/annisa/panel-surya-untuk-listrik-berkelanjutan-di-pantai-daerah-terpencil/

    https://www.mongabay.co.id/2020/12/17/matahari-penuhi-keperluan-energi-obyek-wisata-di-pulau-pengalap/

    https://web.pln.co.id/cms/media/2022/10/pln-operasikan-plts-pulau-derawan-di-kalimantan-kawasan-wisata-unggulan-makin-menawan/

    https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/02/14/kawasan-wisata-lombok-kini-gunakan-plts

    https://iesr.or.id/pemerintah-perlu-rombak-strategi-untuk-kejar-bauran-energi-terbarukan-23-di-2025

  • Apa Saja Komponen dalam Sistem Panel Surya untuk Rumah?

    Apa Saja Komponen dalam Sistem Panel Surya untuk Rumah?

    Pemasangan PLTS Atap untuk rumah dapat memberi banyak keuntungan. Karena mengandalkan sinar matahari sebagai sumber energi, PLTS Atap jadi bisa membantu Anda menghemat tagihan listrik. Namun, agar dapat memproduksi listrik secara optimal, dan menjalankan fungsinya dengan baik, sistem panel surya untuk rumah didukung oleh berbagai komponen penting. Apa saja komponen-komponen tersebut?

    6 Komponen Panel Surya untuk Rumah

    Jika dijelaskan secara sederhana, panel surya inilah yang memungkinkan PLTS Atap untuk mengubah sinar matahari menjadi listrik di rumah Anda. Nah, proses tersebut tidak akan terjadi tanpa komponen-komponen penting berikut ini:

    1. Panel Surya

    Ini dia komponen utama pada sistem panel surya untuk rumah. Dalam solar panel, sejumlah sel-sel surya membentuk kesatuan panel yang terintegrasi satu sama lain. Tiap sel surya memiliki komponen fotovoltaik yang mampu mengubah sinar matahari menjadi listrik. 

    Sementara itu, komponen fotovoltaik sendiri terdiri atas dua lapis material semikonduktor, umumnya silikon. Ketika panel surya terkena pancaran sinar matahari, material semikonduktor itulah yang akan menyerapnya. 

    Kemudian, sel semikonduktor akan memecah sumber energi matahari menjadi ion positif dan negatif. Ion positif bergerak menuju ion negatif yang ada pada panel surya. Sementara itu, ion positif bergerak menuju ion positif pula melalui lapisan-lapisan yang terdapat dalam panel surya. Proses ini menghasilkan arus listrik DC, yang akan dialirkan ke komponen lain agar bisa dipakai sebagai sumber energi listrik.

    2. Substrat

    Berperan sebagai kontak terminal bermuatan positif, komponen satu ini berfungsi menopang keseluruhan komponen yang ada dalam panel surya. Karenanya, material substrat harus memiliki konduktivitas listrik yang baik agar bisa menjalankan seluruh fungsi dengan lancar. Idealnya, material yang dipakai untuk menyusun komponen substrat adalah metal atau logam seperti molybdenum atau aluminium.

    3. Komponen Enkapsulasi

    Karena diletakkan di outdoor, sistem panel surya untuk rumah pun bisa kena hujan atau kotoran. Nah, komponen enkapsulasi inilah yang bertugas melindungi panel surya dari hujan maupun kotoran lain.

    Dengan perlindungan dari enkapsulasi, komponen-komponen tersebut bisa terawat walaupun harus menghadapi angin, hujan, kelembapan, suhu ekstrem, hingga radiasi ultraviolet. Jadinya, panel surya akan awet dan dapat digunakan hingga lebih dari 20 tahun.

    4. Multi Circuit Breaker

    Pada sistem panel surya untuk PLTS Atap, Anda juga akan menemukan multi circuit breaker (MCB). Komponen satu ini berperan mengatur distribusi listrik untuk menghindari terjadinya kelebihan beban maupun hubungan singkat arus listrik (korsleting). Jadi, apabila terdeteksi adanya arus listrik yang melebihi batas, MCB akan memutus arus tersebut secara manual atau otomatis.

    Sebagai contoh, katakanlah sebuah MCB pada sistem panel surya mempunyai batas arus listrik maksimal 5A. Namun, arus listrik yang melewati MCB tersebut adalah 6A. Maka dari itu, MCB akan trip dengan delay waktu cukup lama sejak ia menemukan adanya arus listrik berlebihan.

    5. Inverter

    Umumnya, sistem panel surya untuk rumah zaman sekarang sudah dilengkapi dengan inverter. Komponen ini mampu menghasilkan 12 Volt DC dan 220 Volt AC yang disimpan dalam baterai. Bahkan, inverter juga bisa mengisi daya baterai apabila terhubung dengan generator power. Dengan adanya listrik yang tersimpan dalam baterai, Anda pun bisa menggunakan listrik tersebut untuk beraktivitas pada malam hari.

    Berkat adanya inverter, sistem panel surya dapat mencegah kelebihan pengisian daya. Dengan proses pengisian daya yang terkontrol, performa dan usia pakai baterai pun akan terjaga sehingga mencegah risiko kerusakan.

    6. kWh Meter Ekspor-Impor (Meteran Exim)

    kWh meter ekspor-impor merupakan perangkat untuk mengkalkulasi arus listrik yang masuk dari jaringan PLN ke konsumen (impor), sekaligus mengukur arus listrik yang keluar dari jaringan PLTS Atap milik konsumen ke jaringan PLN (ekspor).

    Disebut juga dengan meteran exim, komponen satu ini akan menghitung nominal tagihan yang harus Anda bayarkan sebagai konsumen. Caranya adalah dengan membandingkan hasil ekspor-impor dari meteran exim yang terpasang. Jadi, melalui meteran exim ini, Anda bisa tahu total listrik yang dihasilkan panel surya sekaligus jumlah listrik yang masih Anda butuhkan dari jaringan PLN.

     

    Agar sistem panel surya untuk rumah dapat berfungsi dengan semestinya, keberadaan komponen-komponen di atas begitu penting. Maka dari itu, tidak ada salahnya untuk mengecek kelengkapan komponen panel surya sebelum pemasangan berlangsung. 

    Lalu, agar panel surya dapat memenuhi kebutuhan listrik Anda secara optimal, hitung dulu kebutuhan panel surya Anda dengan menggunakan kalkulator SolarHub. Baru setelah itu gunakan direktori SolarHub untuk menemukan perusahaan maupun penyedia jasa pemasangan panel surya. Tapi kalau masih ingin mempelajari lebih lanjut soal PLTS Atap, Anda bisa klik di sini!

     

    Referensi:

    https://www.hexamitra.co.id/plts-rooftop-surya-atap-ongrid.php?p=perangkat-komponen-plts-rooftop-efisiensi-listrik-tagihan-pln-surya-atap

    https://www.lensolar.co.id/mengetahui-komponen-utama-plts-atap-on-grid-bersama-lensolar/

    https://pasangpanelsurya.com/komponen-plts-atap/

    https://pasangpanelsurya.com/plts-atap-pengertian-prinsip-kerja-komponen-mekanisme/

    https://kumparan.com/solar-kita/kenali-ini-komponen-komponen-pembangkit-listrik-tenaga-surya-atap-1yHweyhznED/full

    https://media.solarkita.com/index.php/2022/06/20/mengenal-fungsi-fungsi-komponen-dalam-panel-surya-atap/

  • 6 Tips Mencari Jasa Pemasangan Panel Surya yang Tepat untuk Anda

    6 Tips Mencari Jasa Pemasangan Panel Surya yang Tepat untuk Anda

    Apabila Anda sudah mantap mau memasang PLTS Atap atau panel surya untuk bangunan, memilih kualitas produk yang baik saja belum cukup; Anda juga perlu mencari penyedia jasa pemasangan yang tepat. Jika tidak, bisa-bisa malah panel surya tidak bekerja dengan maksimal, atau biaya yang diberikan penyedia jasa lebih mahal daripada pasaran. Lalu, bagaimana cara mencari jasa pemasangan panel surya yang tepat?

    6 Tips Mencari Jasa Pemasangan Panel Surya

    Mulai dari mempelajari track record hingga memanfaatkan direktori penyedia jasa solar panel, berikut hal-hal penting yang sebaiknya Anda lakukan untuk mendapatkan jasa terbaik pemasangan panel surya.

    1. Cek track record atau portofolio perusahaan tersebut

    Cek track record perusahaan pemasang panel surya melalui portofolio mereka. Jika portofolio tidak tersedia pada website, Anda bisa meminta langsung kepada mereka. Dari portofolio inilah Anda dapat mengecek proyek-proyek yang pernah dikerjakan perusahaan, tingkat kompleksitas dan skala proyeknya. Semakin banyak proyek yang pernah mereka kerjakan, tentu semakin baik karena hal tersebut membuktikan bahwa mereka begitu tepercaya.

    2. Pastikan bahwa mereka memberikan harga yang jelas

    Selain track record, penawaran harga juga tak kalah penting untuk Anda cek. Kumpulkan penawaran dari 3-4 perusahaan agar Anda bisa membandingkan harga dan fasilitas yang akan Anda dapatkan. Umumnya, perusahaan pemasang panel surya akan meminta untuk langsung mendatangi lokasi properti Anda agar bisa menghitung harga. Nah, pada saat inilah Anda dapat bertanya apa pun untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

    Sebagai informasi, beberapa pemasangan panel surya membutuhkan konstruksi tambahan pada atap bangunan—tergantung dari kebutuhan dan kondisi properti. Kalau memang butuh pengerjaan konstruksi tambahan, tanyakan apakah quotation penawaran dari perusahaan sudah mencakup hal tersebut.

    3. Cari tahu lisensi yang dimiliki perusahaan

    Pemasangan panel surya tentu tidak boleh dilakukan sembarangan. Perusahaan harus mematuhi peraturan dari pemerintah sekaligus memenuhi standar kualitas. Selain mengecek hal tersebut dari track record, perusahaan, Anda juga bisa menanyakan lisensi yang mereka miliki. 

    Pastikan bahwa perusahaan pilihan Anda sudah mendapatkan lisensi SBUJK EBT dan SIUJPTL. Jika suatu perusahaan memiliki kedua lisensi tersebut, artinya ia telah diakui pemerintah sebagai penyedia panel surya yang tepercaya di Indonesia.

    4. Cari tahu juga merek panel surya yang digunakan

    Saat berkonsultasi dengan penyedia jasa pemasangan panel surya, tanyakan merek solar panel yang mereka gunakan. Sebaiknya, pilihlah penyedia yang menggunakan merek panel surya ternama. Merek dengan reputasi baik idealnya memiliki performa yang oke pula sehingga lebih tahan lama. Beberapa contoh merek panel surya ternama adalah JA Solar, Jinko Solar, Trina Solar, Canadian Solar, Risen Energy, dan Hanwha QCells.

    5. Jangan lupakan garansi

    Garansi juga menjadi hal yang tak kalah penting untuk Anda cek saat mencari jasa pemasangan panel surya. Saat berdiskusi tentang quotation penawaran dengan perusahaan, tanyakan apakah harga tersebut sudah termasuk garansi. Jika iya, pastikan lagi apakah garansi tersebut berlaku selama periode pemakaian panel surya (umumnya 25 tahun).

    Sebaiknya, carilah perusahaan yang memberikan penawaran Total Cost of Ownership (TOC). Artinya, penawaran tersebut telah mencakup keseluruhan produk dan layanan, termasuk inspeksi lokasi, biaya panel surya, jasa pemasangan, pemeliharaan setelah pemasangan, dan garansi sampai 25 tahun. Dengan begini, seharusnya tak ada lagi hidden cost yang membuat Anda harus mengeluarkan uang tambahan.

    6. Gunakan direktori dari SolarHub

    Mencari jasa pemasangan panel surya memang gampang-gampang susah. Banyaknya perusahaan memang memberi Anda beragam pilihan, tapi di sisi lain juga membuat bingung. Agar proses pencarian jadi lebih mudah, Anda bisa menggunakan direktori dari SolarHub. 

    Anda hanya perlu membuka website SolarHub atau klik di sini, lalu di halaman utama ada kolom untuk mencari perusahaan panel surya atau jasa pemasangnya. Pilih juga kota tempat tinggal Anda saat ini, lalu klik “Pindai”. Setelah itu, halaman akan menampilkan perusahaan panel surya atau jasa pemasang yang paling dekat dengan Anda. 

     

    Jika memang sudah berniat untuk memasang PLTS Atap untuk rumah atau properti lainnya, mencari jasa pemasangan panel surya yang tepat sangat penting Anda lakukan. Dengan begitu, panel surya yang dipasang bisa tahan lama dan memberikan performa optimal. 

    Agar lebih pas dengan kebutuhan, hitung dulu kebutuhan panel surya Anda menggunakan kalkulator SolarHub. Setelah itu, baru Anda bisa menggunakan direktori SolarHub untuk menemukan jasa pemasangan solar panel yang tepat. Bersama SolarHub, pemasangan panel surya jadi lebih mudah dan praktis!

     

    Referensi:

    https://kumparan.com/solar-kita/lakukan-5-hal-ini-sebelum-memilih-penyedia-sistem-panel-surya-1wvDmnwSh0J/4

    https://panelsuryajakarta.com/memilih-jasa-pemasangan-panel-surya-pastikan-penuhi-kriteria-ini/

    https://kelistrikan.com/jasa-pemasangan-solar-panel/

    https://theplaceboston.com/tips-memilih-jasa-pemasangan-solar-panel-yang-terpercaya/

    https://sedayu.com/2021/11/26/cara-memilih-penyedia-solar-panel-yang-tepat/

    https://www.builder.id/rekomendasi-merek-panel-surya/