Tag: cara kerja panel surya

  • Mengenal Bifacial Solar Panel : Kenapa Teknologi Ini Mulai Diadopsi di Banyak Negara?

    Mengenal Bifacial Solar Panel : Kenapa Teknologi Ini Mulai Diadopsi di Banyak Negara?

    Pernah dengar teknologi panel surya yang bisa menghasilkan listrik lebih banyak tanpa harus menambah jumlah panel? kedengarannya seperti trik pemasaran, tetapi panel surya bifacial benar-benar melakukannya. Teknologi dua sisi ini sedang jadi pembicaraan di banyak negara karena mampu menangkap cahaya dari depan dan belakang. Hasil energinya pun bisa meningkat cukup signifikan hanya dengan mengganti jenis panel.

    Gambar 1. Bifacial Solar Panel

    Banyak yang penasaran bagaimana panel ini bekerja. Panel bifacial dibuat dengan bagian belakang yang transparan sehingga cahaya pantulan dari tanah, pasir, beton, atau permukaan cerah lain bisa ikut diserap. Dengan begitu, energi tidak hanya berasal dari cahaya yang mengenai sisi depan, tetapi juga dari pantulan di sekitar panel. Keuntungannya tidak main-main. Berbagai penelitian mencatat peningkatan produksi listrik sebesar 5–30% tergantung kondisi lokasi dan tingkat pantulan cahaya (albedo). 

    Teknologi ini semakin dilirik adalah kemudahan integrasinya. Sistem pemasangannya mirip dengan panel biasa, hanya perlu memberi ruang di bagian belakang agar cahaya dapat masuk. Baik proyek PLTS baru maupun peningkatan proyek lama bisa mengadopsinya tanpa perubahan drastis pada struktur.

    Banyak negara mulai mengadopsi teknologi ini karena ingin mengoptimalkan lahan yang tersedia. Tiongkok, Amerika Serikat, dan negara di Timur Tengah menjadi pengguna awal yang serius karena panel bifacial memberikan nilai produksi energi yang lebih tinggi di area yang sama.

    Performa panel bifacial sangat dipengaruhi lingkungan. Daerah bersalju, area gurun, atau permukaan tanah cerah memberikan pantulan cahaya lebih tinggi sehingga energi dari sisi belakang meningkat. Walaupun menjanjikan, desain pemasangan tetap harus diperhatikan. Jarak antar panel, tinggi mounting, dan potensi bayangan harus dihitung agar sisi belakang tidak terhalang. Desain yang tepat akan membuat produksi energinya jauh lebih optimal.

    Tren global menunjukkan bahwa panel surya bifacial mulai bergerak dari sekadar inovasi baru menjadi teknologi standar dalam pembangunan PLTS. Kemampuannya meningkatkan output tanpa tambahan lahan membuatnya semakin menarik bagi banyak negara. Jika pertumbuhannya terus meningkat, teknologi dua sisi ini bisa menjadi pilihan utama di masa depan energi surya dunia.

  • Benarkah Arah dan Kemiringan Panel Surya Bisa Menyebabkan Rugi Puluhan Persen Energi?

    Benarkah Arah dan Kemiringan Panel Surya Bisa Menyebabkan Rugi Puluhan Persen Energi?

    Pernah dengar klaim bahwa panel surya bisa rugi energi sampai puluhan persen hanya karena salah arah atau sudut pemasangan? Kedengarannya dramatis, dan wajar jika banyak orang ingin tahu apakah hal seperti ini benar terjadi atau hanya mitos. Topik ini penting karena posisi panel adalah hal yang sering dianggap sepele, padahal efeknya bisa sangat terasa pada produksi listrik.

    Faktanya, arah dan kemiringan panel surya memang punya pengaruh besar pada kemampuan panel menangkap cahaya matahari. Di negara tropis seperti Indonesia, posisi matahari tinggi sepanjang tahun sehingga pengaturan arah yang tepat bisa membuat produksi listrik jauh lebih optimal. Pertanyaan besarnya: apakah kerugian energi benar bisa mencapai puluhan persen?

    Jawabannya bisa, terutama ketika kesalahannya ekstrem. Jika panel menyimpang hingga sekitar 90° dari orientasi ideal, penurunan produksi bisa melewati 20–30% berdasarkan berbagai pemodelan teknis industri. Estimasi populer dari PretaPower juga menyebutkan bahwa salah orientasi dapat menyebabkan hingga 20% kehilangan energi per tahun.

    Kemiringan panel memberikan dampak yang tidak kalah penting. Pada posisi ideal, sudut panel biasanya mengikuti lintang lokasi, misalnya Jakarta di sekitar -6° sehingga kemiringan optimalnya berkisar 6–15°. Bila kemiringannya meleset jauh, intensitas cahaya yang diterima modul menjadi kurang maksimal. Studi di Pristina menunjukkan bahwa deviasi kemiringan dapat menurunkan produksi energi sekitar 5,7% dari pengaturan bulanan terbaik. Pada kondisi ekstrim dengan deviasi 20–30°, penurunannya bisa meningkat menjadi belasan hingga puluhan persen.

    Kerugian sebesar puluhan persen tidak akan muncul jika pergeserannya hanya sedikit. Deviasi arah 10–15° atau kemiringan meleset 5–10° biasanya hanya menurunkan produksi sekitar 2–6%. Studi di Najran, Arab Saudi, bahkan menemukan bahwa penggunaan kemiringan tetap optimal tahunan hanya mengurangi produksi sekitar 5,70%, sementara pengaturan musiman hanya menurunkan sekitar 1,36%.

    Kondisi atap juga sering menentukan apakah panel bisa dipasang dengan sudut dan arah ideal. Banyak rumah tidak memiliki orientasi atap yang sempurna, tapi hasil produksi tetap bisa sangat baik. Teknologi modul generasi baru membuat panel lebih toleran terhadap deviasi sudut sehingga kerugian kecil tidak akan terasa signifikan.

    Faktor bayangan justru sering menjadi penyebab kerugian energi yang jauh lebih besar dibanding kesalahan sudut pemasangan. Sedikit bayangan dari antena, pohon, atau tembok dapat memotong produksi energi lebih drastis dibandingkan deviasi arah beberapa derajat. Prioritas utama selalu memastikan area pemasangan bebas bayangan sepanjang hari.

    Kesimpulannya, arah dan kemiringan panel surya memang dapat menyebabkan kerugian energi dan dalam kondisi ekstrem kerugiannya bisa mencapai puluhan persen. Pada kondisi normal pemasangan, kerugian biasanya sangat kecil dan tidak mengganggu performa sistem. Intinya adalah memasang panel dengan orientasi mendekati ideal, sudut yang tepat, dan area bebas halangan agar energi yang dihasilkan tetap maksimal.

  • Cara Tepat Menghitung Beban Listrik Sebelum Memasang Panel Surya

    Cara Tepat Menghitung Beban Listrik Sebelum Memasang Panel Surya

    Banyak orang ingin segera memasang panel surya karena tergiur manfaat hemat listrik. Tetapi pertanyaan pentingnya: apakah kapasitas yang dipilih sudah sesuai dengan kebutuhan rumah? Tanpa menghitung beban listrik terlebih dahulu, sistem yang dipasang bisa jadi terlalu kecil atau malah terlalu besar. Kedua kondisi ini tentu merugikan.

    Beban listrik adalah jumlah energi yang digunakan seluruh perangkat elektronik di rumah. Mulai dari lampu, kulkas, AC, hingga peralatan kecil seperti charger ponsel, semuanya menyumbang konsumsi energi harian. Dengan mengetahui total kebutuhan ini, kita bisa memperkirakan berapa kapasitas panel surya yang harus dipasang agar hasilnya optimal.

    Langkah pertama adalah membuat daftar seluruh peralatan listrik di rumah beserta daya (watt) dan perkiraan jam penggunaan per hari. Misalnya:

    • Kulkas: 150 W × 24 jam = 3.600 Wh/hari
    • AC (1 unit): 1.000 W × 4 jam = 4.000 Wh/hari
    • TV: 100 W × 4 jam = 400 Wh/hari
    • Lampu (8 buah × 10 W): 80 W × 5 jam = 400 Wh/hari
    • Mesin cuci: 500 W × 1 jam = 500 Wh/hari
    • Charger & perangkat kecil: 200 W × 4 jam = 800 Wh/hari

    Jika dijumlahkan, totalnya adalah 9.700 Wh/hari atau setara dengan 9,7 kWh per hari. Angka inilah yang menggambarkan kebutuhan beban harian rumah.

    Tahap berikutnya adalah menambahkan faktor cadangan. Panel surya tidak selalu bekerja maksimal karena pengaruh cuaca, efisiensi inverter, hingga kondisi baterai. Umumnya ditambahkan margin sekitar 20–30%. Dengan margin 25%, maka kebutuhan energi menjadi: 9,7 kWh + (25% × 9,7 kWh) = 12,1 kWh per hari.

    Sekarang, kebutuhan ini perlu diterjemahkan ke dalam kapasitas panel surya. Rata-rata 1 kWp panel surya di Indonesia mampu menghasilkan sekitar 4,2 kWh per hari. Jadi, perhitungannya: 12,1 kWh ÷ 4,2 kWh/kWp = 2,9 kWp. Untuk keamanan, dibulatkan ke atas sehingga kapasitas panel surya yang disarankan adalah 3 kWp.

    Selain jumlah energi, pola penggunaan listrik juga penting diperhatikan. Rumah yang lebih banyak menggunakan listrik di siang hari bisa mengandalkan sistem grid-tied. Sedangkan untuk rumah dengan kebutuhan dominan di malam hari, penambahan baterai penyimpanan menjadi solusi yang tepat.

    Kesalahan umum lain adalah tidak menyesuaikan dengan kebutuhan jangka panjang. Misalnya, saat ini hanya ada dua AC, tetapi dalam beberapa tahun bisa bertambah. Jika hal ini tidak diperhitungkan, maka kapasitas panel surya akan terasa kurang. Karena itu, sisakan ruang untuk ekspansi di masa depan.

    Dengan perhitungan yang tepat, panel surya akan menjadi investasi yang efisien sekaligus ramah lingkungan. Listrik rumah tetap stabil, biaya berkurang, dan kenyamanan terjaga. Itulah sebabnya menghitung beban listrik bukan sekadar langkah teknis, melainkan kunci agar energi surya benar-benar memberi manfaat maksimal.

  • Fakta Mengejutkan: Panel Surya Bukan Perangkat Elektronik Seperti yang Dibayangkan

    Fakta Mengejutkan: Panel Surya Bukan Perangkat Elektronik Seperti yang Dibayangkan

    Siapa sangka, panel surya yang sering kita lihat di atap rumah atau gedung ternyata bukan perangkat elektronik seperti televisi atau komputer. Banyak orang mengira panel surya bekerja dengan rangkaian kabel rumit dan chip elektronik canggih, padahal cara kerjanya justru lebih sederhana sekaligus menakjubkan. Fakta ini membuat banyak orang salah kaprah dalam memahami teknologi energi terbarukan yang satu ini.

    Rahasia utama panel surya ada pada sel surya berbahan semikonduktor, biasanya terbuat dari silikon. Material ini memiliki kemampuan khusus untuk menyerap energi cahaya matahari dan mengubahnya menjadi listrik. Proses ini disebut efek fotovoltaik, dan yang menarik, hal tersebut murni terjadi karena sifat fisika material, bukan karena rangkaian elektronik kompleks. Jadi, bisa dikatakan prinsip kerja panel surya lebih dekat ke “alat fisika” dibanding “perangkat elektronik”.

    Pernah terpikir mengapa panel surya tidak memiliki tombol on/off layaknya perangkat elektronik lain? Itu karena panel surya langsung menghasilkan arus listrik begitu terkena cahaya matahari. Tidak ada sistem saklar atau chip pengendali di dalamnya. Energi listrik yang dihasilkan baru kemudian diatur oleh perangkat tambahan seperti inverter atau baterai, barulah di titik itu teknologi elektronik berperan penting.

    Yang lebih mengejutkan, panel surya bisa tetap berfungsi puluhan tahun tanpa komponen bergerak. Berbeda dengan barang elektronik yang cepat rusak karena sirkuit dan komponennya aus, panel surya hanya bergantung pada daya tahan material semikonduktornya. Inilah alasan mengapa banyak produsen berani memberi garansi hingga 25 tahun.

    Banyak juga yang tidak tahu bahwa panel surya tidak menyimpan listrik. Lagi-lagi, ini membuktikan bahwa panel surya bukanlah perangkat elektronik. Panel hanya bertugas mengubah sinar matahari menjadi arus listrik seketika. Untuk menyimpan energi, dibutuhkan perangkat khusus yaitu baterai atau sistem penyimpanan lain yang memang berbasis teknologi elektronik.

    Di sisi lain, pemahaman keliru tentang panel surya sering membuat orang salah mengambil keputusan. Misalnya, ada yang mengira panel bisa tetap menghasilkan listrik meski disimpan di ruangan gelap. Padahal, panel hanya bekerja jika ada cahaya matahari yang mengenai permukaannya. Jadi, bukan perangkat elektronik yang bisa dihidupkan kapan saja, melainkan perangkat pasif yang menunggu energi dari alam.

    Fakta lainnya, teknologi panel surya terus berkembang menuju efisiensi yang lebih tinggi. Dari awalnya hanya sekitar 10%, kini beberapa jenis panel mampu mengubah lebih dari 22% energi matahari menjadi listrik. Semua pencapaian ini tetap bertumpu pada inovasi material semikonduktor, bukan penambahan komponen elektronik di dalam panel itu sendiri.

    Kesimpulannya, panel surya bukanlah perangkat elektronik, melainkan alat fisika berbasis material semikonduktor yang bekerja secara alami dengan sinar matahari. Inilah yang membuatnya berbeda sekaligus istimewa dibanding teknologi lain. Jadi, setiap kali melihat panel surya, ingatlah bahwa Anda sedang menyaksikan salah satu keajaiban sederhana alam yang dimanfaatkan manusia untuk masa depan energi bersih.

  • Mengungkap Rahasia Lapisan Modul Surya: Apa Saja yang Ada Didalamnya?

    Mengungkap Rahasia Lapisan Modul Surya: Apa Saja yang Ada Didalamnya?

    Di era globalisasi ini, perkembangan teknologi sangatlah pesat dan kebutuhan akan listrik sebagai sumber energinya pun semakin besar. Tingginya permintaan listrik ini dibarengi juga dengan perkembangan komponen penghasil energi listrik salah satunya modul surya. Masyarakat Indonesia sudah semakin mengenal pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) khususnya modul surya, tapi banyak yang hanya melihatnya sebagai “kotak kaca hitam di atap”. Padahal, di dalamnya ada banyak lapisan penting yang membuat modul surya bisa mengubah cahaya matahari menjadi listrik. Penting sekali untuk mengenal komponen dan lapisan-lapisan penyusun modul surya, terlebih untuk konsumen yang akan memasang PLTS, agar paham terkait kualitas dan bagaimana memilih modul surya.  

    Untuk memudahkan membayangkannya, struktur modul surya bisa diibaratkan seperti sandwich. Setiap lapisan roti, selai, dan isian dalam sandwich punya fungsi masing-masing seperti ada yang berfungsi melindungi, merekatkan, dan yang menjadi inti rasa. Sama halnya dengan modul surya: ada lapisan pelindung, perekat, hingga sel fotovoltaik yang menjadi “isi utama” dalam menghasilkan listrik. Dengan memahami susunan lapisan ini, kita jadi tahu bahwa modul surya bukan sekadar kaca di atap, melainkan hasil rekayasa teknologi yang detail dan diperhitungkan dengan baik. 

    Modul surya atau modul fotovoltaik terdiri dari sejumlah sel fotovoltaik yang terhubung secara seri. Sel-sel dan kawat busbar penghubungnya dilindungi oleh bahan pelapis atau enkapsulasi yang melindungi sel-sel dari kontak langsung dengan lingkungan dan kekuatan-kekuatan mekanik yang mampu merusak sel-sel yang tipis. Struktur-struktur itu terdiri dari:  

    • Bingkai atau frame  

    Fungsi dari bingkai ini yaitu untuk memastikan kekokohan panel. Bingkai modul surya biasanya terbuat dari alumunium anodized untuk menghindari korosi. Oleh karena pemasangan bingkai dilakukan di akhir proses pembuatan.  

    • Kaca pelindung  

    Kaca pelindung terletak di bagian paling atas dari modul surya yang berfungsi sebagai pelindung modul dari cuaca dan dan benturan. Kaca transparan ini juga memastikan kekokohan modul surya sehingga mengambil proporsi tertinggi dari total berat modul surya.  

    • Enkapsulasi 

    Enkapsulasi atau laminasi adalah lapisan antara sel fotovoltaik dan kaca pelindung. Laminasi digunakan untuk mencegah kerusakan mekanis pada sel fotovoltaik dan mengisolasi tegangan dari sel fotovoltaik dengan bagian modul lainnya. Biasanya lembaran laminasi menggunakan bahan ethylene-vinyl acetate (EVA). 

    • Sel fotovoltaik 

    Sel fotovoltaik merupakan komponen utama dari modul surya. Sel ini terbuat dari bahan semikonduktor yang menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi listrik. Sel-sel saling terhubung secara seri untuk mendapatkan tegangan total yang lebih tinggi melalui kawat busbar. Bahan yang digunakan untuk sel fotovoltaik umumnya adalah silikon, seperti polycrystalline dan monocrystalline. 

    • Lembar insulasi atau backsheet 

    Lembar ini berada di bagian belakang dari modul surya dan biasanya berwarna putih atau hitam. Terbuat dari bahan plastik yang berfungsi untuk melindungi dan secara elektrik mengisolasi sel-sel dari kelembapan dan cuaca.  

    • Kotak junction  

    Junction box digunakan sebagai terminal penghubung antara serangkaian sel fotovoltaik ke beban atau ke modul surya lainnya. Perangkat ini berisi kawat busbar dari rangkaian sel fotovoltaik, kabel, dan bypass diode.  

     

    Sumber: Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya Dos & Don’ts 

    Pentingnya memahami lapisan modul surya bukan hanya menguntungkan dari segi produsen atau teknisi tapi dari segi konsumen juga. Pertama, pengetahuan tentang struktur modul bisa membuat konsumen lebih percaya diri dalam memilih produk. Misalnya, modul yang menggunakan kaca anti-reflektif mampu menangkap cahaya matahari lebih baik, sehingga menghasilkan listrik lebih banyak. Begitu juga dengan EVA yang berkualitas tinggi dapat menjaga sel fotovoltaik tetap terlindungi dari kerusakan halus akibat panas atau getaran. Sementara itu, backsheet tahan UV berperan penting melindungi modul dari kelembapan dan paparan sinar matahari jangka panjang. 

    Kedua, pemahaman ini juga menyadarkan konsumen bahwa modul surya bukan sekadar “kotak kaca hitam di atap”, tetapi perangkat teknologi canggih hasil rekayasa bertahun-tahun. Setiap lapisan dirancang agar saling mendukung, mulai dari melindungi sel fotovoltaik, mengoptimalkan penyerapan cahaya, hingga memastikan listrik dapat disalurkan dengan aman. Dengan begitu, konsumen bisa lebih menghargai nilai investasi pada modul surya, sekaligus memahami mengapa kualitas berbeda-beda antar merek. 

    Memahami lapisan-lapisan dalam modul surya membuat kita sadar bahwa setiap detail memiliki peran penting dalam menjaga performa dan umur pakai modul. Pengetahuan ini tidak hanya bermanfaat bagi produsen atau teknisi, tetapi juga bagi konsumen yang ingin berinvestasi pada energi bersih.  Pada akhirnya, modul surya bukan sekadar perangkat teknologi, melainkan salah satu kunci menuju masa depan energi yang lebih berkelanjutan di Indonesia. 

  • Solar Window: Teknologi Panel Surya Masa Depan?

    Solar Window: Teknologi Panel Surya Masa Depan?

    Isu krisis iklim atau yang lebih dikenal sebagai global warming sudah semakin gawat seiring bertambahnya tahun. Hal itu ternyata juga beriringan dengan inovasi panel surya yang kian banyak dikembangkan oleh ilmuwan di berbagai negara. Salah satu inovasinya adalah solar window, sebuah jendela yang juga bisa berfungsi sebagai panel surya. Lalu, bagaimana perkembangan teknologi tersebut? Simak penjelasannya di bawah ini!

    Sejarah Perkembangan Solar Windows

    Meski mungkin saja istilah panel surya dan solar window baru terdengar beberapa tahun belakangan, sebenarnya keberadaannya telah ada sejak 1980-an. Saat itu, jendela-jendela yang juga berfungsi sebagai penangkap energi matahari kemudian dilapisi dengan amorphous silicon, salah satu bahan yang mirip dengan pelapis panel surya di atap-atap rumah. Namun, karena bahannya sangat tipis, solar windows dengan bahan tersebut ternyata kurang efisien dalam menghasilkan energi listrik.

    Seiring bertambahnya tahun, jenis bahan pelapis photovoltaic pun berkembang dan menyajikan berbagai pilihan potensial untuk solar window. Meski begitu, beberapa di antaranya juga ada yang kurang stabil, sulit untuk diproduksi, atau sekadar tidak efisien dari segi penyerapan energi seperti yang terjadi pada amorphous silicon. Hingga akhirnya hadirlah perovskit yang sangat tipis dan efisien dalam memproduksi listrik.

    Bagaimana Cara Kerja Jendela Panel Surya?

    Sama halnya seperti panel surya yang kita ketahui menempel di atas atap-atap perumahan, solar window juga bekerja dengan cara serupa. Jendela panel surya ini menangkap sinar matahari, menyimpan, dan mengubahnya menjadi energi listrik yang bisa digunakan untuk melakukan berbagai kegiatan sehari-hari.

    Akan tetapi, solar window bisa bekerja dengan lebih menguntungkan karena Anda tidak harus memasang black solar panel di atas atap. Meski begitu, pemasangan jendela panel surya sampai saat ini belum bisa ditujukan untuk perumahan biasa. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kerja sama sebentar lagi akan terjadi antara perusahaan dengan produsen kaca untuk hunian.

    Keuntungan dari Jendela Panel Surya

    Sebagai alternatif dari black solar panel yang umumnya dipasang di atap-atap rumah, apa yang ditawarkan oleh jendela panel surya ini sehingga memiliki nilai lebih bagi pengguna? Faktor utama yang penting untuk diingat adalah Anda jadi tak perlu memasang lapisan tebal tersendiri di bagian rumah atau kantor, melainkan cukup melapisi kaca jendela Anda dengan bahan khusus yang dapat berfungsi sebagai panel surya. Bahan khusus tersebut adalah kaca photovoltaic yang dapat menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik.

    Selain bisa menyimpan energi tersebut untuk digunakan di lain waktu, jendela panel surya juga dapat mengurangi kadar ultraviolet yang masuk ke dalam hunian. Bahkan, Anda juga akan memiliki suhu ruangan yang lebih dingin daripada biasanya, risiko silau berkurang, privasi meningkat karena terdapat lapisan yang mengaburkan pandangan, biaya instalasinya lebih murah, dan yang jelas Anda turut berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan, tanpa perlu berkorban dari segi kenyamanan. Menarik, bukan?

    Bagaimana Perkembangannya Saat Ini?

    Karena ini masih tergolong inovasi baru, solar window kemungkinan besar belum memasuki pasar Indonesia. Akan tetapi, Ubiquitous Energy selaku perusahaan yang berfokus di produksi jendela panel surya mengatakan bahwa mereka akan membangun gedung pencakar langit sebagai produsen energi listrik terbarukan yang cukup potensial. Bahkan, salah satu perusahaan asal California pun ingin mewujudkan hal serupa per 2024 nanti.

    Tak berhenti di Amerika, Eropa juga membuka diri terhadap teknologi canggih berupa solar window ini. Perusahaan asal Belanda, Physee, mengaku sedang memasang sekitar 15.000 smart windows di berbagai perusahaan yang dapat memangkas 30% biaya listrik. Lalu, salah satu sekolah di Denmark juga telah menerapkan 12.000 solar windows di seluruh bangunannya sehingga bisa menghasilkan energi listrik mencapai separuh dari total kebutuhan.

    Melihat penjelasan mengenai jendela panel surya tersebut, semoga teknologi ini bisa segera diterapkan di berbagai tempat dengan biaya yang terjangkau dan instalasi yang mudah. Sebelum waktu itu tiba, Anda sendiri sudah bisa mulai memanfaatkan energi terbarukan dengan memasang PLTS Atap untuk kebutuhan listrik rumah tangga Anda.

    Dengan kalkulator surya SolarHub, Anda bisa menghitung kebutuhan kapasitas panel surya untuk hunian maupun gedung perkantoran. Setelah mengetahui daya yang tepat untuk memenuhi kebutuhan Anda, masuklah ke laman SolarHub untuk mencari vendor pemasangan PLTS Atap terdekat di sekitar Anda.

     

     

  • Kenalan dengan Prinsip Kerja Panel Surya, Ternyata Simpel!

    Pernah melihat benda semacam papan berwarna biru dengan garis kotak-kotak putih di atap bangunan? Atau mungkin Anda justru melihatnya di atas lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) saat sedang berhenti di lampu merah? Papan tersebut adalah panel surya, yang dapat menyerap sinar matahari melalui sel surya dan mengonversinya menjadi energi listrik. Memangnya, bagaimana prinsip kerja panel surya hingga mampu melakukan hal tersebut?

    Panel surya terdiri dari kumpulan sel surya

    Pada dasarnya, komponen utama dari panel surya adalah kumpulan sel surya yang disatukan. Nah, banyaknya sel surya yang disusun pada atap gedung untuk membentuk panel surya akan berbanding lurus dengan energi yang dihasilkan. Dengan kata lain, secara umum semakin banyak panel yang terdapat di atap, semakin besar pula total energi yang dapat digunakan oleh penghuni gedung.

    Lalu, material apakah yang digunakan untuk membuat sel surya? Umumnya, Anda akan menemukan lapisan silikon yang bersifat semikonduktor atau mampu menghantarkan arus listrik antara materi konduktor dan isolator. Bahan konduktor yang terdapat pada sel surya adalah strip logam, sedangkan isolatornya berupa lapisan kaca yang bertujuan melindungi panel surya dari kerusakan eksternal dan menyerap cahaya matahari.

    Fotovoltaik, prinsip kerja panel surya

    Bagaimanakah prinsip kerja panel surya mampu menghasilkan energi listrik untuk berbagai kebutuhan rumah tangga? Proses tersebut tidaklah mustahil berkat adanya teknologi fotovoltaik (photovoltaic) yang bisa mengubah partikel cahaya menjadi sumber energi. 

    Perlu diingat bahwa sinar matahari mengandung foton, partikel terkecil yang mampu menghantam atom pada permukaan sel surya untuk memisahkan elektronnya melalui proses pembentukan energi besar. Kemudian, elektron tersebut akan terpisah dan memiliki muatan negatif, sehingga bisa berpindah ke pita konduksi dari bahan semikonduktor. 

    Atom yang sudah kehilangan muatan negatif tersebut akan menjadi hole atau atom bermuatan positif. Elektron dan hole akan saling menjauhi kutub yang sesuai dengan elemen mereka, sehingga terciptalah pergerakan pada daerah persimpangan kutub positif dan negatif. Pergerakan inilah yang kemudian menghasilkan listrik tenaga surya untuk disimpan dalam baterai.

    Dapat beroperasi saat mendung dan hujan

    Apakah prinsip kerja panel surya hanya berlaku pada hari yang cerah? Jawabannya tentu saja tidak. Perlu diingat bahwa PLTS Atap tetap memproduksi energi listrik saat hujan meski produksinya akan menurun. Jadi, Anda masih bisa menggunakan listrik tenaga surya saat cuaca sedang tidak cerah. Bahkan jika Anda memiliki baterai khusus, energi listrik yang dihasilkan melalui teknologi fotovoltaik pun dapat tersimpan dalam baterai tersebut.

    Dengan energi listrik yang tersimpan di dalam baterai khusus, Anda tidak perlu takut kehabisan energi. Sel surya juga mampu menangkap cahaya tidak langsung atau sinar matahari yang terhalang awan, bahkan gelombang merah dan biru dari sinar UV untuk menambah pasokan energi. Akan tetapi, produksi listrik yang biasa dihasilkan pada keadaan tersebut biasanya hanya berkisar antara 10 sampai 25 persen dari kapasitas produksi optimumnya.

    Anda juga tidak perlu takut kehabisan daya baterai, sebab sel surya juga mampu menangkap cahaya tidak langsung atau sinar matahari yang terhalang awan. Bahkan, beberapa sel surya bisa menyerap lebih banyak jenis spektrum pada sinar UV, misalnya gelombang merah dan biru, untuk menambah pasokan energi pada saat mendung dan hujan. 

    Bisa lanjut “ekspor impor” listrik ke PLN

    Prinsip kerja panel surya akan membantu Anda menghemat tagihan listrik setiap bulannya karena PLN memberlakukan sistem “ekspor impor” kelebihan daya dari tenaga surya. Seperti apakah prosesnya? Pertama, Anda harus mengikuti prosedur perizinan yang telah ditetapkan oleh PLN untuk memasang PLTS Atap dengan net meter atau meteran EXIM. 

    Meteran EXIM berfungsi untuk mengukur surplus atau kelebihan daya listrik yang masuk ke jaringan milik PLN. Tidak hanya itu, alat pengukur ini juga dapat menghitung penggunaan listrik dari PLN ketika sel surya tidak menyerap sinar matahari, misalnya pada malam hari. 

    Terakhir, tagihan pemakaian listrik Anda akan dikurangi berdasarkan besaran energi listrik yang diekspor ke PLN dan kapasitas maksimum yang diizinkan oleh Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018, yaitu 65%. Pengurangan tagihan penggunaan listrik tersebut akan membantu Anda mengirit biaya pemakaian listrik sebesar 30% sampai 40% per bulannya.

    Prinsip kerja panel surya ternyata tidak serumit yang diperkirakan karena hanya melibatkan pergerakan antara atom positif dan elektron negatif. Sistem fotovoltaik itulah yang memungkinkan panel surya untuk mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. 

    Pemahaman tersebut sangatlah penting jika Anda berencana memasang panel surya untuk penggunaan rumah tangga, sehingga Anda dapat memaksimalkan penggunaannya untuk gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Dapatkan lebih banyak informasi dengan menyimak FAQ dan membaca publikasi IESR seputar PLTS Atap di website resmi SolarHub.

     

    Referensi:

    https://solarhub.id/publikasi

    https://solarhub.id/pertanyaan-umum/

    https://www.kompas.com/sains/read/2021/09/10/130200523/prinsip-kerja-sel-surya-alternatif-energi-yang-ramah-lingkungan

    https://www.sanspower.com/panel-surya-prinsip-kerja-dan-kegunaan-yang-bisa-didapatkan.html

    https://iesr.or.id/apa-itu-energi-surya-dan-bagaimana-pengembangannya-di-indonesia

    https://elektro.umy.ac.id/apa-dan-bagaimana-sistem-kerja-panel-surya/

    https://kumparan.com/solar-kita/mengapa-menggunakan-sistem-plts-atap-bisa-menghemat-pengeluaran

    http://m.icasolar.com/support/blog/eximmm